Berita Hari Ini – 05 April 2026 | Pesawat luar angkasa Artemis II, misi berawak pertama NASA dalam program Artemis, telah meluncur dan kini menempuh jarak lebih dari 229.000 kilometer dari Bumi, menandai setengah perjalanan menuju Bulan. Keberhasilan peluncuran pada tanggal 19 Agustus lalu menjadi sorotan utama dunia antariksa, sekaligus menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat Indonesia mengenai fenomena cahaya merah yang belakangan muncul di langit Lampung.
Profil Misi Artemis II
Artemis II dirancang untuk menguji sistem penerbangan berawak, termasuk modul Orion dan roket Space Launch System (SLS) yang paling kuat dalam sejarah NASA. Misi ini mengangkut empat astronot selama sekitar sepuluh hari, melintasi orbit bumi, melakukan flyby Bulan, dan kembali ke Bumi dengan aman. Tujuan utama meliputi:
- Validasi sistem peluncuran dan kembali masuk atmosfer.
- Pengujian komunikasi dan navigasi dalam jarak jauh.
- Pengumpulan data lingkungan antariksa untuk persiapan pendaratan berawak pada Artemis III.
Setelah menembus atmosfer bumi, Orion memasuki lintasan trans‑lunar injection (TLI) dan terus mempercepat hingga mencapai jarak 229.000 kilometer, tepat setengah jalur yang diperlukan untuk mencapai orbit lunar. Pada fase ini, tim kontrol misi terus memantau status kesehatan sistem, suhu, serta konsumsi bahan bakar, memastikan semua parameter berada dalam batas toleransi.
Fenomena Langit Lampung: Cahaya Merah dan Benda Bercahaya
Beberapa minggu setelah peluncuran Artemis II, warga di wilayah Lampung melaporkan penampakan cahaya merah yang menyala intens di langit malam. Beberapa saksi menyebutkan cahaya bergerak cepat, menyerupai jejak roket, sementara yang lain menggambarkan benda bercahaya misterius melintas tanpa pola yang jelas. Penampakan ini memicu spekulasi tentang kemungkinan sisa roket atau sampah antariksa yang masuk atmosfer Indonesia.
Para ahli meteorologi dan antariksa setempat menegaskan bahwa fenomena semacam itu dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
- Debris peluncuran dari satelit atau roket yang kembali ke atmosfer.
- Peluncuran komersial atau militer yang tidak diumumkan secara terbuka.
- Kondisi atmosferik yang menyebabkan refraksi cahaya alami, seperti aurora atau meteor.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai asal‑usul cahaya merah tersebut. Pemerintah Indonesia melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Antariksa Nasional (LAPAN) sedang melakukan penyelidikan dengan memanfaatkan radar dan sensor optik untuk melacak potensi objek masuk atmosfer.
Hubungan Antara Artemis II dan Penampakan di Lampung
Meskipun jarak Artemis II yang berada di luar orbit bumi membuatnya tidak langsung berpengaruh pada fenomena di atmosfer Indonesia, keberadaan misi Artemis II menambah rasa ingin tahu publik terhadap segala aktivitas luar angkasa. Media sosial dipenuhi diskusi yang mengaitkan kedua peristiwa, dengan beberapa netizen menyebutkan bahwa cahaya merah mungkin merupakan sisa tahap pertama roket SLS yang terlepas saat peluncuran.
Penting untuk dicatat bahwa roket SLS menggunakan dua inti inti inti inti (Core Stage) yang dibakar secara terkontrol, dan tahap pertama biasanya jatuh ke Samudra Pasifik. Kebijakan NASA memastikan bahwa semua bagian roket yang kembali ke bumi dipantau secara ketat untuk menghindari bahaya pada wilayah penduduk.
Selain itu, peluncuran Artemis II bukan satu‑satunya kegiatan luar angkasa yang terjadi pada periode yang sama. Beberapa satelit komersial serta misi pengujian roket kecil dari negara lain juga diluncurkan, meningkatkan kemungkinan terjadinya sampah antariksa yang melintasi orbit rendah bumi.
Langkah Selanjutnya untuk Artemis II dan Penelitian Antariksa Indonesia
NASA menjadwalkan Artemis II untuk melakukan flyby Bulan pada pertengahan September, sebelum kembali ke Bumi. Selama fase ini, Orion akan mengirimkan data telemetri penting yang akan menjadi landasan bagi Artemis III, misi pendaratan manusia pertama di Bulan sejak tahun 1972.
Sementara itu, Indonesia bertekad memperkuat kapasitas pemantauan ruang angkasa. LAPAN berencana menambah jaringan stasiun pengamat optik di beberapa pulau, termasuk di Sumatera Selatan, untuk mengidentifikasi dan melacak objek antariksa secara real‑time. Kolaborasi dengan badan antariksa internasional, termasuk NASA, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan deteksi dini dan mitigasi risiko.
Dengan meningkatnya aktivitas peluncuran global, fenomena seperti cahaya merah di Lampung menjadi contoh nyata pentingnya kerja sama internasional dalam mengelola sampah antariksa. Publik yang semakin terinformasi mengenai Artemis II juga dapat berperan aktif dalam melaporkan penampakan anomali, membantu ilmuwan mengumpulkan data yang berharga.
Secara keseluruhan, Artemis II telah membuktikan keberhasilannya dalam menempuh setengah jarak ke Bulan, menandai langkah signifikan bagi program eksplorasi manusia kembali ke satelit alami kita. Pada saat yang bersamaan, penampakan cahaya merah di Lampung mengingatkan kita bahwa ruang angkasa tidak terpisah dari kehidupan di bumi, melainkan bagian integral yang memerlukan perhatian bersama.