Bank Indonesia Hadapi Tantangan Besar, Apa yang Terjadi?
Berita Hari Ini – 19 Mei 2026 | Bank Indonesia (BI) saat ini menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi dan moneter di Indonesia. Salah satu tantangan utama adalah mengendalikan inflasi dan menjaga nilai tukar rupiah yang terus melemah.
Pada bulan Mei 2026, BI meluncurkan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Nasional di Sidoarjo, Jawa Timur. GPIPS merupakan penguatan dari program pengendalian inflasi yang sebelumnya dikenal sebagai Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan bahwa pengendalian inflasi sudah dilakukan bersama di Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP), tapi 3 tahun lalu BI membuat GNPIP, tapi kemudian ada hal-hal yang harus diperkuat, terutama dalam pasokan pangan.
Peran Bank Asing di Indonesia
Peran bank asing di industri perbankan nasional kembali menguat di tengah maraknya aksi korporasi dan ekspansi bisnis sejumlah bank global di Indonesia. Sejumlah bank dengan afiliasi asing kini semakin agresif memperbesar skala usaha, memperluas layanan, hingga memperkuat bisnis wealth management dan pembiayaan korporasi.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2026, pangsa pasar bank asing dan kantor cabang bank asing mencapai 23,75% dari total aset industri perbankan nasional dan 21,02% dari total kredit. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, keberadaan bank asing masih memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan industri jasa keuangan nasional.
Kenaikan Suku Bunga
Bank Indonesia juga dihadapkan pada tekanan untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneter terdekat. Ekonom senior di DBS Bank, Radhika Rao, mengatakan bahwa BI kemungkinan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5% untuk melindungi stabilitas mata uang.
BI terakhir kali menaikkan suku bunga acuan pada April 2024 dan mempertahankan kebijakan tersebut hingga September tahun yang sama, sebelum beralih ke siklus pelonggaran moneter untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Rupiah telah mencapai rekor terendah sepanjang masa, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang kemampuan BI untuk mempertahankan stabilitas moneter.
Ekonom senior di OCBC Bank, Lavanya Venkateswaran, juga memperkirakan bahwa BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin untuk meningkatkan upaya melawan tekanan depresiasi rupiah. Ia menambahkan bahwa BI telah berupaya mempertahankan stabilitas rupiah melalui berbagai langkah, termasuk menaikkan suku bunga instrumen moneter jangka pendek, seperti Surat Berharga Bank Indonesia (SBI).
Kesimpulan
Bank Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi dan moneter di Indonesia. Dengan meluncurkan GPIPS dan mempertimbangkan kenaikan suku bunga, BI berupaya untuk mengendalikan inflasi dan menjaga nilai tukar rupiah. Namun, masih banyak ketidakpastian yang menghadang, termasuk dampak dari perang di Iran dan fluktuasi harga komoditas global.