Seorang siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatra Barat, diduga meledakkan bom rakitan berdaya ledak rendah di lingkungan sekolahnya, pada Selasa (14/07) kemarin. Aksi yang diduga dilakukan siswa berinisial R, 17 tahun, itu tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka. Bom rakitan menjadi sorotan setelah serangkaian kejadian serupa terjadi di sekolah lain.
Momen Penentu di Menit Akhir
Menurut Kapolresta Padang, Kombes Pol Apri Wibowo, pengeboman itu diduga dilakukan oleh R yang langsung diamankan bersama orang tuanya. Polisi mendapatkan petunjuk dari kamera CCTV bahwa pelaku adalah salah satu siswa yang kemudian menyiapkan empat bom rakitan dari rumahnya. R memasukkan bom rakitan itu ke dalam tas dan membawanya ke sekolah. Setibanya di sekolah, dia meletakkan satu bom rakitan di laci sebuah meja. Posisi meja itu tepat di samping dinding kelas dan berdekatan dengan tempat duduk teman yang diduga menjadi sasaran ledakan.
Saat jam istirahat, sekitar pukul 10.15 WIB, R kembali menuju lokasi itu untuk menyalakan bom rakitannya. Bom itu dipantik menggunakan mancis saat jam istirahat. Suara ledakan itu memecah suasana sekolah. Semua panik dan langsung berlarian keluar ruangan. Usai ledakan, R diduga kabur dan mengganti seragam sekolahnya dengan kaus putih dan celana biasa. R lalu mengenakan topeng dan topi, serta membekali dirinya dengan sebuah ketapel. Saat dia mencoba memasuki kembali ke area sekolah, R diamankan oleh sejumlah guru.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Kejadian ini bukanlah kasus pertama bom rakitan di sekolah. Di awal Februari 2026 lalu, seorang siswa SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kubu Raya, Kalimantan Barat, melempar bom molotov ke sekolahnya. Pada November 2025, seorang siswa SMA Negeri 72 Jakarta meledakan bom di sekolahnya, yang menyebabkan 96 orang luka-luka. Perundungan juga disebut sebagai pemicu dua kasus itu.
Menurut Aully Grashinta, dosen Psikologi Universitas Pancasila, ada beberapa faktor yang mendorong korban perundungan membalas dendam lewat bom rakitan. Salah satunya pola perundungan, yang biasanya melibatkan banyak pelaku, dan membuat korban memilih cara yang dianggap paling efektif untuk menyerang seluruh kelompok sekaligus.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana memutus mata rantai perilaku kekerasan di sekolah. Perundungan dan tindakan balas dendam lewat bom rakitan menjadi perhatian serius bagi pihak sekolah dan aparat keamanan. Polda Sumbar dan Densus 88 Anti Teror mengaku tengah mendalami ledakan itu dan melakukan pendampingan hukum kepada R, anak berkonflik dengan hukum dalam peristiwa itu.
Kejadian ini juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana pihak sekolah dapat mencegah perundungan dan tindakan kekerasan lainnya. Kepala Sekolah MAN 3 Padang, Marliza, melaporkan insiden itu ke aparat keamanan dan berharap kejadian serupa tidak terulang kembali.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Kejadian bom rakitan di MAN 3 Padang menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Pihak sekolah, aparat keamanan, dan masyarakat harus bekerja sama untuk mencegah perundungan dan tindakan kekerasan lainnya. Dengan demikian, anak-anak dapat belajar dengan nyaman dan aman, tanpa takut menjadi korban kekerasan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cjrgrg301z3o?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.