Terapi Brain Freeze, yang juga dikenal sebagai hipotermia terapeutik, telah menjadi topik penelitian dalam upaya mencegah kerusakan otak akibat stroke. Baru-baru ini, peneliti menemukan kombinasi dua obat yang dapat memicu kondisi menyerupai hipotermia atau “brain freeze” yang berpotensi memperlambat kerusakan otak akibat stroke. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Science Translational Medicine.
Penelitian dan Temuan
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menggunakan dua obat yang telah lama tersedia, yakni antipsikotik chlorpromazine dan obat penenang promethazine, yang dikombinasikan sebagai terapi C+P. Pada uji praklinis, kombinasi tersebut mampu memicu kondisi mirip hipotermia sekaligus melindungi jaringan otak pada tikus dan monyet yang mengalami stroke. Peneliti juga menguji keamanan terapi tersebut pada 32 pasien stroke. Hasilnya, infus C+P tidak menimbulkan efek samping yang berarti.
Mekanisme dan Dampak
Menurut profesor fisiologi dan ilmu saraf, neurologi, serta bedah saraf di University of Southern California Keck School of Medicine, Dr. Patrick Lyden, perlambatan metabolisme menjadi salah satu alasan mengapa hipotermia dapat melindungi otak. “Karena metabolisme melambat, proses kematian sel di otak juga melambat,” ucapnya. Pada hewan percobaan, terapi C+P juga menurunkan pembakaran gula di otak dan jaringan lemak cokelat, mengurangi kerusakan jaringan otak, serta menekan penumpukan laktat yang dapat memicu kematian sel.
Apa Artinya Ini bagi Pasien Stroke?
Meski demikian, terapi C+P belum terbukti mengurangi tingkat kerusakan otak yang diamati 72 jam setelah pengobatan maupun meningkatkan kemampuan pasien menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri setelah 90 hari. Para penulis studi menyatakan bahwa uji klinis lanjutan masih diperlukan untuk memastikan apakah terapi C+P benar-benar memberikan efek perlindungan terhadap otak pada pasien stroke.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Di sisi lain, Lyden mengingatkan bahwa kombinasi chlorpromazine dan promethazine masih berpotensi menimbulkan efek samping seperti kejang otot, kejang, atau gangguan irama jantung akibat interaksi kedua obat tersebut. Oleh karena itu, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitas terapi C+P pada pasien stroke. Dengan demikian, terapi Brain Freeze masih memiliki potensi besar dalam upaya mencegah kerusakan otak akibat stroke, namun perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan manfaatnya.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://tekno.tempo.co/read/2110915/terapi-brain-freeze-untuk-melindungi-otak-setelah-stroke, without altering the facts of the original article.