2 Juni 2026

Info Lowongan Kerja SALES EXECUTIVE

Kompetitif
Full Time Entry
PT KARYA BINTANG GEMILANG ✅ 📍 Bogor, Jawa Barat

Info Lowongan Kerja Customer service Morning Shift (WFH)

Kompetitif
Full Time Entry
PT Rental Teknologi Indonesia ✅ 📍 Jakarta Raya

Info Lowongan Kerja Senior Staff Recruitment

Kompetitif
Full Time Entry
PT Airmas Perkasa ✅ 📍 Jakarta Barat, Jakarta Raya

Info Lowongan Kerja ADMIN ONLINE SHOP

Kompetitif
Full Time Entry
SETIA UTAMA BULLAES ✅ 📍 Jakarta Barat, Jakarta Raya

Berita Hari Ini – 03 April 2026 | Jakarta, 2 April 2026 – Dalam sebuah pertemuan yang dipenuhi nostalgia, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan dan insinyur muda Dasep Ahmadi kembali menelusuri jejak langkah mereka dalam mengembangkan kendaraan listrik (EV) di tanah air. Kedua tokoh ini mengingat kembali rangkaian suka duka, dari ide visioner yang terhenti hingga harapan akan masa depan industri otomotif hijau Indonesia.

Sejak 2012, Dasep Ahmadi, yang kala itu menjabat sebagai Direktur PT Sarimas Ahmadi Pratama, sudah menguji prototipe SUV listrik buatan BYD. Pengalaman tersebut memicu ambisinya untuk menciptakan mobil listrik buatan dalam negeri. Pada tahun 2013, Dasep mengajukan proyek pengembangan EV secara mandiri, namun upayanya berujung pada penahanan selama tujuh tahun setelah pemerintah menilai proyek tersebut belum siap secara komersial.

🔖 Baca juga:
Presiden Lee Jae‑myung Sambut Prabowo dengan Pelukan Hangat di Blue House, Carmen Hearts2Hearts Jadi Sorotan Global

Pengalaman Penahanan dan Dampaknya

Penahanan Dasep menjadi titik balik penting. Selama tujuh tahun, ia tidak hanya kehilangan kebebasan bergerak, tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan teknologi lebih jauh. Namun, menurut Dasep, masa tersebut justru menajamkan tekadnya. “Kasihan generasi muda sekarang, semua kerjaannya di komputer. Harus ada peluang di bidang manufaktur mobil listrik,” ujarnya dalam wawancara dengan Dahlan.

Dahlan Iskan, yang pada masa itu menjabat sebagai Menteri BUMN, mengingat kembali insiden di Jalan Thamrin ketika prototipe Dasep mengalami kehabisan daya selama uji coba. “Masyarakat menganggapnya tidak realistis, padahal itu adalah bagian dari riset untuk menguji batas kapasitas baterai,” jelas Dahlan. Ia menambahkan bahwa kritik publik memang wajar, namun tidak seharusnya menghalangi inovasi.

Data Teknis yang Membuktikan Potensi

Prototipe yang diuji Dasep dilengkapi dengan baterai berkapasitas 21 kWh, yang mampu menempuh jarak hingga 130 kilometer dalam satu kali pengisian. Hasil uji tersebut, menurut Dasep, telah terbukti akurat dan menunjukkan bahwa teknologi lokal mampu bersaing dengan produk impor jika diberikan dukungan yang tepat.

Jika proyek tersebut dimulai sejak 14 tahun lalu, Dasep berpendapat Indonesia berpotensi menjadi pemimpin regional dalam industri EV. “Kita seharusnya lebih leading. Saya pernah ke BYD pada 2012, lihat satu unit SUV, belum produksi, tapi peluangnya ada,” katanya.

🔖 Baca juga:
Ducati Dilema Besar: Harus Investasi di Marc Marquez dan Pembalap Tim Valentino Rossi Meski Terjerat Kontroversi

Pandangan Berbeda, Tujuan Sama

Meskipun keduanya sepakat bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan produsen seperti BYD dan Chery, sikap mereka berbeda. Dahlan menilai bahwa keterlambatan membuat Indonesia harus bermain sebagai penonton, sementara Dasep tetap optimis bahwa masih ada ruang bagi pemain domestik. “Masih ada peluang, Kang Dasep lebih optimis dari saya,” ujar Dahlan.

Diskusi tersebut menyoroti dua perspektif penting: kebutuhan akan kebijakan yang lebih fleksibel untuk mendukung startup teknologi, dan pentingnya membangun ekosistem yang menyatukan pemerintah, akademisi, serta industri.

Prospek Lapangan Kerja dan Ekonomi Hijau

Menurut Dasep, pengembangan mobil listrik tidak hanya soal kendaraan, melainkan juga soal penciptaan ribuan lapangan kerja berbasis teknologi. “Kita butuh lapangan kerja yang banyak, tidak hanya di bidang IT, tapi juga di manufaktur, riset, dan infrastruktur pengisian daya,” ujarnya.

Dahlan menambahkan bahwa investasi BUMN pada EV sejak 2013 seharusnya menjadi landasan bagi ekosistem yang lebih kuat. Namun, kebijakan yang terlalu ketat dan kurangnya koordinasi antara lembaga menjadi penghambat utama.

🔖 Baca juga:
Sahroni Tegaskan TGPF Tak Perlu Dibentuk di Kasus Andrie Yunus, Politik Hukum Makin Memanas

Dengan menengok kembali masa lalu, baik Dahlan maupun Dasep menekankan pentingnya belajar dari kegagalan. “Penelitian memang harus melalui trial and error. Kritik publik adalah bagian dari proses,” kata Dahlan.

Secara keseluruhan, percakapan ini menggarisbawahi bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam industri mobil listrik, asalkan ada sinergi antara kebijakan pemerintah, dukungan finansial, dan semangat inovatif dari para pelaku industri.

Ke depan, harapan tetap tinggi. Dasep mengajak generasi muda untuk kembali meneliti, menguji, dan memperbaiki teknologi baterai, sementara Dahlan menyerukan kebijakan yang lebih proaktif dalam mengakselerasi produksi massal EV dalam negeri. Dengan langkah bersama, Indonesia dapat beralih dari posisi penonton menjadi pemain utama di panggung mobil listrik Asia Tenggara.

Views: 8

Info Lowongan Kerja SALES EXECUTIVE

Kompetitif
Full Time Entry
PT KARYA BINTANG GEMILANG ✅ 📍 Bogor, Jawa Barat

Info Lowongan Kerja Customer service Morning Shift (WFH)

Kompetitif
Full Time Entry
PT Rental Teknologi Indonesia ✅ 📍 Jakarta Raya

Info Lowongan Kerja Senior Staff Recruitment

Kompetitif
Full Time Entry
PT Airmas Perkasa ✅ 📍 Jakarta Barat, Jakarta Raya

Info Lowongan Kerja ADMIN ONLINE SHOP

Kompetitif
Full Time Entry
SETIA UTAMA BULLAES ✅ 📍 Jakarta Barat, Jakarta Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *