Atlet golf nasional Jesslyn Wijaya telah mengalami masa-masa sulit jauh sebelum kasus dugaan penjemputan paksa oleh ibunya sendiri mencuat ke publik. Perempuan berusia 32 tahun itu disebut sempat diisolasi oleh ibu kandungnya sendiri, hingga kehilangan akses komunikasi dengan dunia luar karena hubungan asmaranya tidak mendapat restu keluarga.
Momen Penentu di Menit Akhir
Menurut Evan, calon suami Jesslyn, perlakuan itu terjadi dalam kurun April hingga Oktober 2025. Selama berada di rumah sang ibu, Jesslyn disebut tidak diperbolehkan beraktivitas secara bebas dan seluruh alat komunikasinya disita. “Jadi laporan itu waktu Jesslyn ada di rumah ibunya. Handphone-nya dirampas, laptopnya disita oleh ibunya, sehingga Jesslyn tidak punya alat komunikasi apa pun untuk berhubungan dengan saya ataupun dengan teman-temannya. iPad juga dirampas, kemudian Jesslyn tidak boleh keluar sendiri tanpa didampingi oleh ibunya,” jelas Evan di Kantor Komnas Perempuan, Jumat, melansir Tribun Sumsel pada Rabu (5/8/2026).
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Menurut Evan, tekanan yang dialami Jesslyn selama masa tersebut berdampak serius terhadap kondisi mentalnya. Selain kehilangan pekerjaan, atlet golf nasional itu disebut mengalami depresi hingga beberapa kali mencoba mengakhiri hidup. “Sudah tiga kali melakukan percobaan bunuh diri karena sudah tidak kuat dengan perlakuan ibunya. Sehingga Jesslyn memutuskan untuk keluar dari rumah dan hidup mandiri (pada Oktober 2025),” tutur Evan.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Kasus lama itu kini kembali menjadi sorotan setelah penyelidikan polisi mengarah pada dugaan bahwa aksi penjemputan paksa terhadap Jesslyn dipicu konflik keluarga. Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Hery Saputra, mengatakan dugaan sementara menunjukkan adanya penolakan dari ibu kandung Jesslyn terhadap hubungan asmara putrinya dengan Evan. “Ya, dugaan sementara karena ada masalah internal keluarga, ketidaksetujuan atas hubungan Jesslyn dengan pacarnya,” jelas Roby saat dikonfirmasi melalui panggilan telepon, Jumat (31/7/2026), dikutip dalam Bangka Pos.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Selain mengalami depresi dan kehilangan pekerjaan, kejadian ini juga menunjukkan bahwa masih banyak kasus kekerasan dalam keluarga yang belum mendapat perhatian yang cukup. Kasus Jesslyn Wijaya harus menjadi pelajaran bagi keluarga-keluarga yang masih memiliki masalah serupa untuk segera menyelesaikannya dan memberikan bantuan yang tepat kepada korban. Dengan demikian, korban dapat mendapatkan perawatan yang tepat dan memulai proses pemulihan yang lebih baik.
Dengan mengetahui kejadian ini, kita dapat lebih mengerti tentang pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kekerasan dalam keluarga dan perlunya memberikan perhatian yang lebih besar kepada korban. Kita harus bekerja sama untuk menciptakan masyarakat yang lebih aman dan adil bagi semua orang.
Kasus Jesslyn Wijaya juga menunjukkan bahwa masih banyak orang yang perlu mendapatkan bantuan dan perhatian untuk mengatasi masalah kekerasan dalam keluarga. Oleh karena itu, kita harus terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat dan memberikan bantuan yang tepat kepada korban.
Kita harus terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kekerasan dalam keluarga dan perlunya memberikan perhatian yang lebih besar kepada korban. Dengan demikian, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih aman dan adil bagi semua orang.
Kasus Jesslyn Wijaya harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih mengerti tentang pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kekerasan dalam keluarga dan perlunya memberikan perhatian yang lebih besar kepada korban.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jatim.tribunnews.com/news/554993/pernah-diisolasi-ibu-sendiri-atlet-golf-jesslyn-depresi-hingga-kehilangan-pekerjaan-lapor-ppa, without altering the facts of the original article.