Stadion Gelora Bandung Lautan Api atau GBLA merupakan salah satu stadion sepak bola paling terkenal di Indonesia. Berada di kawasan Gedebage, Kota Bandung, stadion ini sangat identik dengan Persib Bandung dan Bobotoh. Ketika pertandingan Persib digelar di stadion tersebut, ribuan suporter biasanya memadati tribun dan menciptakan atmosfer sepak bola yang khas.
Namun, di balik kemegahan dan popularitasnya, Stadion Gelora Bandung Lautan Api menyimpan sejumlah fakta menarik yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat. Mulai dari asal-usul nama, proses pembangunan, kapasitas, luas kawasan, desain bangunan, hingga proses rehabilitasi yang membuat fasilitasnya semakin modern.
GBLA bukan sekadar stadion tempat pertandingan sepak bola berlangsung. Bangunan ini juga memiliki kaitan dengan sejarah Kota Bandung, perkembangan olahraga Jawa Barat, dan perjalanan Persib sebagai salah satu klub sepak bola terbesar di Indonesia.
Berikut sejumlah fakta menarik Stadion Gelora Bandung Lautan Api yang jarang diketahui.
1. Nama GBLA Dipilih Melalui Jajak Pendapat Masyarakat
Salah satu fakta paling menarik tentang Stadion Gelora Bandung Lautan Api adalah proses pemilihan namanya.
Nama tersebut ternyata tidak langsung ditetapkan sejak awal pembangunan. Sebelum menggunakan nama GBLA, stadion ini lebih dikenal sebagai Stadion Gedebage atau Stadion Utama Sepak Bola Gedebage.
Pada 2013, DPRD Kota Bandung mengadakan jajak pendapat melalui pesan singkat untuk menentukan nama stadion. Masyarakat diberikan beberapa pilihan nama.
Hasilnya cukup menarik. Dari 14.777 SMS yang masuk, sekitar 83,3 persen memilih nama Gelora Bandung Lautan Api. Pilihan lainnya adalah Gelora Gedebage Kota Bandung dengan 11,7 persen dan Gelora Rosada dengan 5 persen.
Hasil tersebut kemudian menjadi dasar penetapan nama Stadion Gelora Bandung Lautan Api.
Dengan demikian, nama GBLA memiliki unsur partisipasi masyarakat yang cukup kuat.
2. Nama Bandung Lautan Api Berkaitan dengan Sejarah Kota Bandung
Penggunaan nama Gelora Bandung Lautan Api bukan tanpa alasan.
Istilah Bandung Lautan Api merujuk pada salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan masyarakat Bandung pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Karena itu, nama tersebut memiliki makna simbolis yang cukup kuat. Stadion tidak hanya menjadi fasilitas olahraga, tetapi juga membawa identitas sejarah Kota Bandung.
Dalam pemberitaan ANTARA saat penetapan nama GBLA, Bandung Lautan Api disebut sebagai tonggak sejarah perjuangan rakyat Indonesia di Jawa Barat.
Nama tersebut kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas stadion.
Bagi masyarakat Bandung, penyebutan “Lautan Api” membuat GBLA memiliki karakter yang berbeda dibandingkan stadion lain yang namanya hanya menggunakan lokasi atau nama tokoh.
3. GBLA Dibangun Mulai 2009
Fakta lain yang menarik adalah usia pembangunan stadion ini.
Pembangunan Stadion Gelora Bandung Lautan Api dimulai pada 2009. Proses pembangunannya berlangsung selama beberapa tahun sebelum stadion diperkenalkan kepada masyarakat.
Pada Mei 2013, GBLA menjalani soft launching di kawasan Gedebage. ANTARA melaporkan bahwa stadion tersebut dibangun dalam waktu sekitar tiga tahun dan direncanakan menjadi kompleks sarana olahraga besar di Jawa Barat.
Artinya, pembangunan GBLA merupakan proyek infrastruktur olahraga yang membutuhkan waktu cukup panjang.
Kehadiran stadion tersebut diharapkan dapat memberikan fasilitas olahraga berskala besar bagi masyarakat Bandung sekaligus mendukung perkembangan sepak bola dan olahraga lainnya.
4. Kapasitas GBLA Hampir 38 Ribu Penonton
Jika berbicara mengenai kapasitas Stadion Gelora Bandung Lautan Api, angka yang paling sering ditemukan adalah sekitar 38 ribu penonton.
Dalam informasi terbaru dari Direktorat Jenderal Cipta Karya, kapasitas maksimal GBLA tercatat sebanyak 37.654 penonton.
Sementara itu, laporan ANTARA pada 2013 menyebut stadion tersebut mampu menampung sekitar 38 ribu penonton.
Perbedaan angka tersebut pada dasarnya merupakan persoalan pembulatan. Kapasitas maksimal yang lebih spesifik adalah 37.654 penonton.
Jumlah tersebut membuat GBLA termasuk stadion dengan kapasitas besar di Indonesia.
Kapasitas puluhan ribu penonton juga menjadi alasan mengapa stadion ini sangat cocok digunakan untuk pertandingan Persib Bandung yang memiliki basis suporter besar.
5. Luas Lahan GBLA Mencapai 400.000 Meter Persegi
Tidak hanya besar dari sisi kapasitas penonton, kawasan GBLA juga memiliki ukuran yang sangat luas.
Menurut Direktorat Jenderal Cipta Karya, Stadion Gelora Bandung Lautan Api dibangun di atas lahan sekitar 400.000 meter persegi atau sekitar 40 hektare. Bangunan stadionnya sendiri memiliki luas sekitar 72.000 meter persegi.
Ukuran kawasan tersebut menunjukkan bahwa GBLA memang dirancang sebagai fasilitas olahraga berskala besar.
Area luas diperlukan untuk mendukung berbagai kebutuhan stadion, mulai dari bangunan utama, akses kendaraan, fasilitas penonton, area operasional, hingga kebutuhan keamanan.
Karena itu, kawasan GBLA dapat terlihat sangat luas ketika dibandingkan dengan stadion yang berada di tengah kawasan perkotaan yang padat.
6. Desain Stadion Terinspirasi Alat Musik Gendang
Fakta menarik lainnya terdapat pada desain arsitektur GBLA.
Stadion ini memiliki konsep bangunan yang disebut menyerupai alat musik tradisional gendang. Konsep tersebut memberikan karakter visual yang cukup khas pada bangunan stadion.
Penggunaan konsep gendang juga menarik jika dikaitkan dengan identitas budaya Jawa Barat.
Gendang merupakan salah satu alat musik yang dikenal dalam berbagai kesenian tradisional Sunda. Dengan demikian, desain stadion dapat dipandang memiliki unsur lokal yang melekat pada arsitekturnya.
Bentuk bangunan yang besar dan khas membuat GBLA mudah dikenali, terutama ketika dilihat dari kawasan sekitarnya.
7. GBLA Memiliki Lintasan Atletik
Meskipun sangat terkenal sebagai stadion sepak bola, GBLA sebenarnya tidak hanya dirancang untuk pertandingan sepak bola.
Stadion ini juga dilengkapi lintasan atletik. Dalam laporan mengenai soft launching GBLA pada 2013, lintasan atletik disebut menggunakan bahan sintetis dan dirancang dengan standar internasional yang disyaratkan FIFA untuk stadion tersebut.
Keberadaan lintasan atletik menunjukkan bahwa fungsi GBLA lebih luas daripada sekadar lapangan sepak bola.
Stadion dapat mendukung berbagai aktivitas olahraga yang membutuhkan fasilitas lintasan.
Hal ini juga membuat GBLA memiliki potensi sebagai fasilitas olahraga multifungsi di Kota Bandung.
8. GBLA Pernah Dirancang Menjadi Bagian dari Kompleks Olahraga Besar
Pada masa awal pembangunan, GBLA tidak hanya dipandang sebagai bangunan stadion tunggal.
Kawasan tersebut direncanakan menjadi bagian dari kompleks sarana olahraga yang lebih besar. Dalam laporan ANTARA, terdapat rencana pengembangan kawasan dengan tambahan fasilitas olahraga seperti kolam renang, arena bulu tangkis, tenis meja, tenis lapangan, dan softbol.
Rencana tersebut menunjukkan bahwa konsep awal pembangunan GBLA cukup ambisius.
Tujuannya bukan hanya menciptakan stadion sepak bola, tetapi juga membangun kawasan olahraga yang dapat mendukung berbagai cabang olahraga.
9. GBLA Pernah Menjadi Venue Pembukaan PON XIX 2016
Salah satu momen penting dalam sejarah Stadion Gelora Bandung Lautan Api adalah ketika stadion ini digunakan untuk pembukaan PON XIX Jawa Barat 2016.
Api PON XIX dibawa menuju Stadion GBLA untuk digunakan dalam prosesi pembukaan. ANTARA pada September 2016 melaporkan bahwa kirab Api PON menuju stadion tersebut sebagai lokasi upacara pembukaan PON XIX dan Peparnas XV/2016.
Momen tersebut memperkuat posisi GBLA sebagai stadion yang dapat digunakan untuk acara olahraga berskala nasional.
PON XIX juga menjadi bagian penting dalam sejarah olahraga Jawa Barat karena provinsi tersebut menjadi tuan rumah.
10. GBLA Resmi Diperkenalkan kepada Masyarakat pada 2013
Stadion GBLA menjalani soft launching pada Mei 2013.
Acara tersebut mendapat perhatian besar dari masyarakat Bandung. Warga datang untuk melihat secara langsung stadion yang pada saat itu menjadi salah satu stadion terbesar di Jawa Barat.
Saat soft launching, stadion memang belum sepenuhnya selesai. Namun, masyarakat sudah dapat melihat kemegahan bagian dalam stadion.
Laporan ANTARA menyebut sekitar 38 ribu kursi atau tempat duduk telah terpasang pada saat itu.
Momen tersebut menjadi salah satu tonggak penting sebelum GBLA digunakan secara lebih luas.
11. GBLA Dirancang dengan Standar Internasional
Sejak awal pembangunan, GBLA dirancang sebagai stadion dengan standar internasional.
Dalam laporan saat peresmian awal, stadion disebut memiliki standar internasional yang disyaratkan FIFA. Selain itu, keberadaan lintasan atletik sintetis menjadi salah satu fasilitas pendukungnya.
Dalam perkembangan terbaru, standar dan aspek keamanan stadion kembali menjadi perhatian ketika GBLA menjalani rehabilitasi.
Direktorat Jenderal Cipta Karya menyebut rehabilitasi dilakukan untuk memastikan kualitas dan keamanan infrastruktur sesuai dengan standar FIFA.
Hal ini menunjukkan bahwa standar stadion tidak berhenti pada saat pembangunan awal. Infrastruktur perlu terus dipelihara dan ditingkatkan agar dapat digunakan dengan aman.
12. GBLA Mengalami Rehabilitasi Menyeluruh
Salah satu fakta terbaru tentang Stadion Gelora Bandung Lautan Api adalah proses rehabilitasi yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas fasilitas.
Direktorat Jenderal Cipta Karya mencatat bahwa rehabilitasi GBLA mencakup sejumlah aspek penting.
Beberapa pekerjaan yang dilakukan antara lain:
- Penguatan struktur tribun.
- Peningkatan kualitas rumput lapangan.
- Penggantian lampu tribun.
- Penggantian lampu Field of Play atau FOP.
- Perbaikan tribun dan kursi penonton.
- Pembaruan sistem drainase.
- Penambahan fasilitas aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Seluruh pekerjaan tersebut ditujukan untuk meningkatkan keselamatan, keamanan, kenyamanan, kesehatan, dan kemudahan pengguna stadion.
Dengan demikian, rehabilitasi GBLA bukan sekadar mempercantik stadion, tetapi juga meningkatkan aspek fungsional dan keamanan.
13. Akses untuk Penyandang Disabilitas Turut Ditingkatkan
Fakta yang cukup penting tetapi mungkin jarang diperhatikan adalah adanya peningkatan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Dalam proses rehabilitasi, GBLA mendapatkan penambahan aksesibilitas dengan struktur baja sehingga fasilitas stadion menjadi lebih inklusif.
Hal tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan stadion modern.
Stadion bukan hanya harus nyaman bagi penonton umum, tetapi juga harus dapat diakses oleh berbagai kelompok masyarakat.
Peningkatan fasilitas tersebut menunjukkan bahwa konsep kenyamanan penonton semakin luas, bukan hanya mengenai tempat duduk dan kualitas lapangan.
14. GBLA Tidak Hanya untuk Persib
Meskipun sangat identik dengan Persib Bandung, GBLA sebenarnya tidak hanya digunakan untuk klub tersebut.
Menurut Ditjen Cipta Karya, sejak diresmikan pada 2013, GBLA menjadi pusat kegiatan olahraga dan hiburan di Jawa Barat serta menjadi tuan rumah berbagai kompetisi berskala nasional dan internasional.
Dengan kapasitas besar dan fasilitas yang memadai, GBLA dapat digunakan untuk berbagai kegiatan sesuai ketentuan pemanfaatannya.
Persib memang memiliki hubungan yang sangat kuat dengan stadion ini, tetapi fungsi GBLA secara umum jauh lebih luas.
15. GBLA Sangat Identik dengan Persib Bandung
Hubungan antara GBLA dan Persib merupakan salah satu alasan stadion ini sangat populer.
Sejak awal, stadion tersebut diproyeksikan menjadi home base atau markas pertandingan Persib. ANTARA pada 2013 juga menyebut GBLA sebagai stadion yang ke depannya akan menjadi home base bagi Persib Bandung.
Bagi Bobotoh, pertandingan Persib di GBLA menjadi pengalaman tersendiri.
Puluhan ribu penonton dapat berkumpul untuk memberikan dukungan kepada Maung Bandung. Suasana tribun, nyanyian suporter, atribut klub, dan koreografi membuat GBLA mempunyai atmosfer yang sangat khas.
Karena itu, ketika membahas stadion Persib Bandung, nama GBLA hampir selalu muncul.
16. GBLA Bukan Sekadar Stadion, tetapi Simbol Bandung
Jika dilihat secara keseluruhan, GBLA memiliki sejumlah unsur yang membuatnya lebih dari sekadar fasilitas olahraga.
Nama stadion mengambil inspirasi dari sejarah Bandung Lautan Api. Lokasinya berada di Gedebage. Desain bangunannya memiliki konsep gendang. Sementara itu, Persib dan Bobotoh memberikan identitas sepak bola yang sangat kuat.
Gabungan unsur sejarah, budaya, olahraga, dan identitas lokal tersebut membuat GBLA memiliki karakter yang cukup unik.
Tidak mengherankan jika stadion ini sering dianggap sebagai salah satu ikon olahraga Kota Bandung dan Jawa Barat.
17. Kapasitas GBLA dan Luas Kawasannya Menjadikannya Stadion Besar
Jika seluruh data digabungkan, skala GBLA memang cukup mengesankan.
| Fakta | Keterangan |
|---|---|
| Nama | Stadion Gelora Bandung Lautan Api |
| Singkatan | GBLA |
| Lokasi | Gedebage, Kota Bandung |
| Kapasitas maksimal | 37.654 penonton |
| Luas lahan | Sekitar 400.000 m² |
| Luas bangunan | Sekitar 72.000 m² |
| Pembangunan | Dimulai 2009 |
| Diperkenalkan | 2013 |
| Fungsi | Olahraga dan kegiatan berskala besar |
| Klub yang identik | Persib Bandung |
Data kapasitas dan luas kawasan tersebut berasal dari informasi Ditjen Cipta Karya.
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa GBLA memang dibangun dengan skala yang cukup besar.
18. GBLA Menjadi Salah Satu Ikon Bandung Timur
Lokasi GBLA di Gedebage juga memberikan pengaruh terhadap identitas kawasan Bandung timur.
Stadion berukuran besar tersebut menjadi salah satu bangunan yang mudah dikenali di kawasan tersebut. Keberadaannya turut memperkuat citra Gedebage sebagai kawasan yang memiliki fasilitas berskala besar.
Ketika pertandingan Persib berlangsung, kawasan sekitar GBLA juga dapat menjadi pusat aktivitas masyarakat dan suporter.
Hal ini membuat stadion mempunyai pengaruh yang lebih luas daripada sekadar tempat pertandingan.
Mengapa Fakta-Fakta GBLA Menarik untuk Diketahui?
Mengenal fakta Stadion Gelora Bandung Lautan Api membantu masyarakat melihat stadion ini dari berbagai sisi.
Selama ini, banyak orang mengenal GBLA hanya sebagai tempat Persib bertanding. Padahal, stadion tersebut memiliki sejarah pembangunan, proses pemilihan nama, desain arsitektur, fasilitas atletik, hingga perjalanan rehabilitasi yang menarik.
GBLA juga menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah fasilitas olahraga dapat membawa identitas sejarah dan budaya daerah.
Dengan memahami sejarahnya, masyarakat dapat melihat bahwa stadion tersebut bukan hanya bangunan besar dengan tribun dan lapangan sepak bola.
Kesimpulan
Stadion Gelora Bandung Lautan Api atau GBLA memiliki banyak fakta menarik yang mungkin belum diketahui masyarakat. Stadion ini mulai dibangun pada 2009 dan diperkenalkan kepada masyarakat pada 2013. Nama GBLA dipilih melalui jajak pendapat yang melibatkan warga Bandung, dengan sekitar 83,3 persen dari 14.777 SMS memilih nama Gelora Bandung Lautan Api.
GBLA juga mempunyai kapasitas maksimal 37.654 penonton, berdiri di atas lahan sekitar 400.000 meter persegi, dan memiliki bangunan seluas sekitar 72.000 meter persegi.
Desain stadion yang terinspirasi bentuk gendang, keberadaan lintasan atletik, serta hubungannya dengan sejarah Bandung Lautan Api membuat stadion ini mempunyai identitas yang kuat.
Dalam perkembangannya, GBLA juga telah menjalani rehabilitasi menyeluruh. Perbaikan meliputi struktur tribun, rumput lapangan, pencahayaan, kursi penonton, drainase, serta akses bagi penyandang disabilitas.
Selain menjadi salah satu stadion yang identik dengan Persib Bandung, GBLA juga pernah menjadi lokasi penting dalam kegiatan olahraga nasional, termasuk pembukaan PON XIX Jawa Barat 2016.
Dengan perpaduan antara sejarah, budaya, olahraga, dan dukungan Bobotoh, Stadion Gelora Bandung Lautan Api bukan hanya stadion kebanggaan Persib, tetapi juga salah satu ikon olahraga Kota Bandung yang memiliki cerita panjang dan menarik.
Penulis: Anisa Ramadani