Kanker prostat menjadi salah satu penyakit yang perlu diperhatikan oleh pria, terutama ketika memasuki usia lanjut. Salah satu fakta yang cukup mengejutkan adalah kanker prostat sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Kondisi ini membuat seseorang dapat merasa sehat dan tidak mengalami gangguan berarti, padahal perubahan pada kelenjar prostat mungkin sudah terjadi.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan dan konsultasi dengan dokter dapat menjadi bagian penting dalam mendeteksi masalah prostat. Salah satu pemeriksaan yang dikenal luas adalah tes PSA (Prostate-Specific Antigen) melalui sampel darah. Namun, tes PSA bukanlah pemeriksaan yang secara otomatis dapat memastikan seseorang terkena kanker prostat. Hasilnya perlu dipertimbangkan bersama faktor risiko dan pemeriksaan lainnya.
Kanker Prostat Sering Tidak Menimbulkan Gejala di Awal
Kanker prostat merupakan kanker yang berkembang pada kelenjar prostat. Kelenjar ini berada di bawah kandung kemih dan berperan dalam sistem reproduksi pria.
Pada tahap awal, kanker prostat sering tidak menyebabkan keluhan tertentu. Menurut NHS, kondisi ini dapat terjadi karena kanker biasanya berkembang pada bagian luar prostat sehingga belum menekan uretra, yaitu saluran yang membawa urine keluar dari tubuh.
Akibatnya, seseorang mungkin tidak menyadari adanya perubahan pada prostat. Gejala biasanya baru muncul ketika ukuran atau lokasi kanker mulai memengaruhi saluran kemih atau ketika penyakit berkembang lebih lanjut.
Hal inilah yang membuat pemeriksaan kesehatan menjadi penting, terutama bagi pria yang memiliki faktor risiko tertentu.
Gejala Kanker Prostat yang Perlu Diperhatikan
Meskipun kanker prostat pada tahap awal sering tidak memiliki gejala, beberapa keluhan dapat muncul ketika penyakit berkembang. Gejala tersebut antara lain kesulitan memulai buang air kecil, aliran urine melemah, lebih sering buang air kecil terutama pada malam hari, serta merasa kandung kemih belum sepenuhnya kosong.
Beberapa orang juga dapat mengalami darah dalam urine atau air mani, gangguan ereksi, maupun nyeri pada punggung bagian bawah, pinggul, atau panggul pada kondisi tertentu.
Namun, penting dipahami bahwa gejala tersebut tidak selalu berarti kanker prostat. Masalah seperti pembesaran prostat jinak atau kondisi lain pada saluran kemih juga dapat menyebabkan keluhan serupa. Karena itu, pemeriksaan dokter tetap diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Apa Itu Tes PSA?
Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pemeriksaan kanker prostat adalah tes PSA. PSA merupakan protein yang diproduksi oleh sel normal maupun sel kanker pada prostat. Tes PSA dilakukan dengan mengukur kadar PSA dalam darah.
Kadar PSA yang meningkat dapat ditemukan pada kanker prostat, tetapi juga dapat terjadi akibat kondisi lain seperti benign prostatic hyperplasia (BPH) atau prostatitis. Aktivitas tertentu juga dapat menyebabkan perubahan kadar PSA untuk sementara.
Dengan demikian, hasil PSA yang tinggi tidak otomatis berarti seseorang menderita kanker prostat. Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan ulang atau pemeriksaan tambahan berdasarkan kondisi dan faktor risiko pasien.
Apakah Tes Darah Bisa Mengetahui Kanker Prostat?
Tes PSA dapat membantu proses deteksi dini, tetapi bukan alat diagnosis tunggal. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar PSA yang tidak normal, dokter dapat mempertimbangkan beberapa pemeriksaan lanjutan.
Pemeriksaan tersebut dapat meliputi pemeriksaan fisik, digital rectal exam (DRE), pemeriksaan darah atau urine tambahan, MRI, hingga biopsi prostat jika memang diperlukan. Biopsi dilakukan dengan mengambil sampel jaringan prostat untuk diperiksa di laboratorium.
Oleh sebab itu, informasi yang menyebut bahwa “80% kanker prostat hanya bisa dideteksi melalui tes darah” sebaiknya tidak langsung dipercaya sebagai angka medis universal. Tes PSA memang memiliki peran penting, tetapi deteksi dan diagnosis kanker prostat melibatkan penilaian klinis serta pemeriksaan lain sesuai kondisi masing-masing pasien.
Mengapa Pemeriksaan Rutin Penting?
Tidak adanya gejala bukan berarti seseorang pasti bebas dari masalah prostat. Justru karena kanker prostat dapat berkembang tanpa gejala pada tahap awal, pembicaraan mengenai pemeriksaan dengan tenaga kesehatan dapat menjadi penting bagi pria yang memiliki risiko lebih tinggi.
American Cancer Society (ACS) menyarankan agar pria melakukan diskusi dengan dokter mengenai manfaat, risiko, dan ketidakpastian pemeriksaan kanker prostat. Untuk pria dengan risiko rata-rata, pembicaraan tersebut umumnya dimulai pada usia 50 tahun. Sementara itu, pria dengan risiko lebih tinggi dianjurkan berdiskusi mulai usia 45 tahun.
Risiko lebih tinggi antara lain mencakup pria berkulit hitam dan pria yang memiliki ayah atau saudara laki-laki yang pernah mengalami kanker prostat pada usia relatif muda. Pria dengan lebih dari satu kerabat dekat yang mengalami kanker prostat pada usia muda dapat memiliki risiko yang lebih tinggi lagi dan disarankan berdiskusi dengan dokter lebih awal.
Artinya, usia 45 tahun bukan patokan pemeriksaan yang berlaku sama untuk semua pria. Keputusan melakukan skrining perlu mempertimbangkan usia, riwayat keluarga, faktor risiko, kondisi kesehatan, serta hasil diskusi dengan tenaga medis.
Pemeriksaan Prostat Tidak Hanya Dilakukan Saat Ada Keluhan
Kesalahan yang cukup umum adalah menganggap pemeriksaan prostat baru diperlukan ketika seseorang sudah mengalami gangguan buang air kecil. Padahal, kanker prostat pada tahap awal dapat berlangsung tanpa gejala.
Pemeriksaan rutin dapat membantu seseorang dan dokter mengetahui kondisi kesehatan secara lebih menyeluruh. Jika terdapat faktor risiko tertentu, dokter dapat menentukan apakah tes PSA atau pemeriksaan lain sesuai untuk dilakukan.
Namun, skrining juga memiliki keterbatasan. PSA dapat menghasilkan false positive, yaitu hasil yang menunjukkan kemungkinan adanya kanker padahal penyebabnya bukan kanker. Sebaliknya, hasil PSA yang rendah juga tidak selalu menjamin seseorang benar-benar bebas dari kanker prostat. Karena itu, hasil pemeriksaan harus dibaca dalam konteks medis yang tepat.
Siapa yang Perlu Lebih Waspada?
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko kanker prostat. Usia merupakan salah satu faktor penting karena penyakit ini lebih banyak ditemukan pada pria berusia lebih tua. Riwayat keluarga juga perlu diperhatikan, terutama jika ayah atau saudara laki-laki pernah mengalami kanker prostat.
Selain itu, faktor genetik tertentu juga dapat meningkatkan risiko. NCI menyebut bahwa pria dengan varian gen tertentu, termasuk BRCA2 dan dalam tingkat tertentu BRCA1, dapat memiliki risiko lebih tinggi.
Jika memiliki faktor risiko tersebut, sebaiknya jangan menentukan jadwal pemeriksaan hanya berdasarkan informasi umum di internet. Konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui kapan pemeriksaan perlu dimulai dan seberapa sering perlu dilakukan.
Jangan Menunggu Gejala untuk Peduli dengan Kesehatan Prostat
Kanker prostat sering menjadi perhatian karena pada tahap awal penyakit ini dapat berkembang tanpa keluhan yang jelas. Kondisi tersebut membuat pemeriksaan kesehatan dan kesadaran terhadap faktor risiko menjadi bagian penting dari upaya deteksi dini.
Tes PSA merupakan salah satu alat yang dapat membantu proses skrining, tetapi bukan pemeriksaan yang dapat memastikan kanker prostat secara sendirian. Pemeriksaan lanjutan seperti DRE, MRI, atau biopsi dapat diperlukan berdasarkan hasil evaluasi dokter.
Bagi pria yang mendekati usia 45 tahun atau memiliki riwayat keluarga kanker prostat, langkah yang dapat dilakukan adalah membicarakan risiko pribadi dengan tenaga kesehatan. Sementara itu, pria dengan risiko rata-rata juga dapat mendiskusikan skrining ketika memasuki usia yang sesuai.
Pada akhirnya, memahami tanda, faktor risiko, dan pilihan pemeriksaan dapat membantu seseorang mengambil keputusan kesehatan berdasarkan informasi yang benar. Tidak adanya gejala bukan berarti pemeriksaan tidak penting, tetapi pemeriksaan juga sebaiknya dilakukan sesuai kebutuhan dan rekomendasi tenaga medis.
Penulis: Shofiya M.P