**Fakta Mengejutkan: Rasisme Piala Dunia 2026, 3 Kasus Pelecehan Rasial yang Menghantui** **Pembuka** Piala Dunia 2026 telah menjadi ajang yang tidak hanya menampilkan kemampuan sepak bola para tim, tetapi juga menunjukkan sisi gelap dari dunia sepak bola. Rasisme telah menjadi masalah yang semakin serius dan kompleks, tidak hanya di dalam stadion, tetapi juga di media sosial. Dalam artikel ini, kita akan membahas tiga kasus pelecehan rasial yang menghantui Piala Dunia 2026 dan apa artinya bagi dunia sepak bola ke depan. **Momen Penentu di Menit Akhir** Pada 13 Juli 2023, Piala Dunia 2026, Senator Paraguay, Celeste Amarilla, mengunggah serangkaian komentar rasisme terhadap kapten Prancis, Kylian Mbappé. Unggahan tersebut memicu perselisihan publik, mendorong penyelidikan oleh jaksa Prancis, dan memicu reaksi politik di Paraguay. “Bahasa yang sangat ekstrem yang ia gunakan, serta normalisasi terhadap bahasa tersebut, menciptakan preseden yang berbahaya,” kata Troy Townsend, mantan pesepak bola profesional dan mantan kepala keterlibatan pemain di Kick It Out. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Pelecehan rasisme di Piala Dunia 2026 bukanlah hal baru. Menurut data FIFA, lebih dari 89.000 unggahan bernada pelecehan dilaporkan selama fase grup saja, menandai peningkatan 13 kali lipat dibandingkan turnamen sebelumnya di Qatar pada 2022. Dari 89.000 unggahan tersebut, 11%-nya merupakan pelecehan bermotif rasial. Layanan Perlindungan Media Sosial FIFA mengidentifikasi bahwa perluasan turnamen dari 32 menjadi 48 tim, serta kemajuan teknologi deteksi yang digunakan untuk mengidentifikasi konten pelecehan, mungkin berkontribusi terhadap lonjakan tersebut. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Para peneliti yang mempelajari rasisme dalam sepak bola berpendapat bahwa insiden-insiden tersebut merupakan bagian dari tren yang lebih luas. “Rasisme tidak pernah hilang. Rasisme sangat licik dan berubah bentuk dalam setiap generasi,” kata Prof Daniel Kilvington dari Leeds Beckett University. Ia berpendapat bahwa meskipun rasisme terang-terangan di stadion telah menurun dibandingkan dekade-dekade sebelumnya, media sosial telah menyediakan saluran baru yang memungkinkan pelecehan menyebar dengan cepat dan secara global. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Troy Townsend menilai pelecehan rasisme di stadion harus dipisahkan dari pelecehan daring dan ia percaya otoritas sepak bola enggan menjatuhkan sanksi yang cukup berat untuk menjadi efek jera yang bermakna. “Kita [perlu] mulai melihat hukuman penjara, atau negara-negara dijatuhi sanksi karena basis pendukung mereka dan dikeluarkan dari kompetisi… Jika Anda tidak mampu mengendalikan pendukung Anda, mengapa Anda harus diizinkan bermain dalam beberapa kompetisi terbesar?” tanyanya. Dia berpendapat bahwa otoritas sepak bola masih kekurangan efek pencegah yang efektif. Dalam menanggapi temuan FIFA tersebut, serikat pemain global Fifpro memperingatkan bahwa para pesepak bola menghadapi “pola pelecehan yang terus berkembang” baik secara daring maupun langsung. “Insiden-insiden ini bukan kejadian yang berdiri sendiri; ini menunjukkan pola sistemik yang tidak boleh diterima sebagai bagian dari sepak bola maupun masyarakat,” kata organisasi tersebut. Dalam kesimpulan, pelecehan rasisme di Piala Dunia 2026 bukanlah hal baru, tetapi merupakan bagian dari tren yang lebih luas. Otoritas sepak bola harus mengambil langkah-langkah yang lebih serius untuk mengatasi masalah ini, termasuk meningkatkan efek pencegah yang efektif dan menjatuhkan sanksi yang cukup berat terhadap pelaku pelecehan. Dengan demikian, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan adil bagi semua orang yang terlibat dalam dunia sepak bola.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cvg0d4nyw3ko?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.