Gempa Sulut, Dosen ITB Ungkap Kompleksitas Sesar yang Berpotensi Bahaya
Gempa bumi dengan magnitudo 6,7 yang terjadi di Sulawesi Tengah pada Selasa, 16 Juni 2026, telah menimbulkan dampak signifikan pada masyarakat dan infrastruktur daerah tersebut. Menurut dosen geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Astyka Pamumpuni, kompleksitas patahan gempa atau sesar di Sulawesi Tengah menjadi salah satu faktor yang menyebabkan gempa tersebut memiliki kekuatan yang cukup besar. “Banyak sambungan lempeng itu yang bentuknya adalah sesar,” kata Astyka.
Apa yang Terjadi
Gempa bumi tersebut terjadi di sisi timur Sesar Palu-Koro, yang lokasinya di antara Kota Palu dengan pantai timur Sausu. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut bahwa gempa tersebut dipicu oleh Sesar Sausu, sedangkan Badan Geologi menyebut bahwa gempa tersebut dipicu oleh Sesar Palolo. Astyka menerangkan bahwa kejadian gempa di Sulawesi ikut dipengaruhi oleh gerakan lempeng besar Pasifik ke barat dengan batas selatannya adalah di utara Papua.
Mengapa dan Dampak
Menurut Astyka, pergerakan lempeng Pasifik itu kemudian bertemu lempeng Eurasia dengan batas Sesar Sorong hingga ke daerah Palu. “Itu yang menyebabkan Sesar Palu-Koro bisa cukup besar karena pergerakan lempengnya kencang,” ujar dia menunjuk satu dari dua sesar utama di Sulawesi Tengah. Gempa tersebut telah menimbulkan dampak signifikan pada masyarakat dan infrastruktur daerah tersebut, dengan sebanyak tiga orang tewas dan lebih dari seratus lainnya luka-luka. Kerusakan terdata pada lebih dari 1600 rumah tinggal dan puluhan bangunan fasilitas umum dan pemerintahan.
Kompleksitas Sesar dan Bahaya yang Berpotensi
Astyka menambahkan bahwa kompleksitas sesar di Sulawesi Tengah membuat sulit untuk mengetahui mana sesar yang aktif dan tidak. “Kita belum bisa memastikan sebelum di lapangan terbukti lokasinya,” kata Astyka. Oleh karena itu, Astyka menekankan pentingnya untuk terus memantau dan mempelajari sesar-sesar yang ada di Sulawesi Tengah untuk mengantisipasi potensi bahaya yang dapat timbul.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Dalam menghadapi potensi bahaya yang dapat timbul dari sesar-sesar di Sulawesi Tengah, Astyka menekankan pentingnya untuk terus melakukan penelitian dan monitoring untuk memahami kompleksitas sesar dan potensi bahaya yang dapat timbul. Dengan demikian, diharapkan dapat dilakukan upaya pencegahan dan mitigasi yang efektif untuk mengurangi risiko bencana gempa bumi di daerah tersebut.