Berita Hari Ini – 03 April 2026 | Jakarta, 3 April 2026 – Tiga prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII‑S untuk United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) gugur dalam serangan mortir di Lebanon Selatan pada 29 Maret 2026. Kejadian itu menewaskan Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwaan. Keluarga ketiga pahlawan tersebut kini menanti kepulangan jenazah sambil menuntut investigasi terbuka dari Perserikatan Bangsa‑Bangsa (PBB). Di tengah duka, Partai Golongan Karya (Golkar) menegaskan komitmen mendorong negara untuk menjamin masa depan anak‑anak mereka.
Latar Belakang Insiden dan Tanggapan Keluarga
Serangan mortir yang menewaskan tiga anggota TNI terjadi pada Minggu (29/3/2026) waktu setempat. Praka Farizal, prajurit asal Kulon Progo, semula direncanakan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Nambangan, namun keluarga memutuskan untuk memindahkan pemakaman ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Giripeni, Wates, Kulon Progo. Keputusan ini diambil demi kebanggaan anak‑nya kelak, yang dapat melihat ayahnya dikenang sebagai pahlawan bangsa yang berbakti pada perdamaian dunia.
Kakak ipar Praka, Fitra Abdul Aziz, menjelaskan, “Pertimbangannya pertama lebih ke anak beliau, biar anaknya ketika sudah besar bisa dengan bangga bahwa ayahnya itu merupakan salah satu pahlawan bangsa yang sudah memberikan jasanya ke perdamaian dunia.” Ia menambah, “Kemudian juga mengingat masa depan anaknya supaya ke depannya lebih bagus, bisa ada support dari pemerintah juga.” Harapan serupa diungkapkan oleh keluarga Kapten Zulmi dan Sertu, yang menuntut agar pemerintah Indonesia melobi PBB untuk melakukan investigasi terbuka terkait penyebab serangan mortir tersebut.
Golkar Menyerukan Jaminan Pemerintah
Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers pada 2 April 2026 menegaskan bahwa negara wajib memberikan jaminan kesejahteraan kepada anak‑anak prajurit yang gugur. “Kami menuntut Pemerintah untuk segera mengamankan kepulangan jenazah, mengurus proses pemakaman dengan hormat, serta menyiapkan program beasiswa, tunjangan pendidikan, dan fasilitas kesehatan bagi anak‑anak mereka,” ujar Hartarto. Ia menambahkan, “Selain itu, kami akan terus mengawasi agar PBB melaksanakan investigasi transparan. Keluarga harus mendapatkan keadilan dan kepastian, bukan hanya sekadar kata‑kata belaka.”
Golkar juga menyampaikan rencana konkret berupa pembentukan komisi khusus di dalam Kementerian Sosial yang akan mengkoordinasikan bantuan pendidikan, beasiswa, dan dukungan psikologis bagi anak‑anak prajurit yang kehilangan ayah mereka. Komisi tersebut akan berkolaborasi dengan Kementerian Pertahanan, Kementerian Luar Negeri, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk memastikan proses pemulangan jenazah berjalan cepat dan aman.
Respon Pemerintah dan Upaya Diplomatik
Menanggapi dorongan Golkar, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan pemerintah akan mengirim tim diplomatik ke New York untuk berkoordinasi dengan PBB. “Kami akan meminta pembentukan panel investigasi independen yang dapat menelusuri penyebab serangan mortir tersebut, serta memastikan bahwa fakta-fakta yang terungkap dapat dipublikasikan secara terbuka,” kata Luhut.
Selain itu, Kementerian Pertahanan mengonfirmasi bahwa proses pemulangan jenazah ketiga prajurit telah dijadwalkan pada Jumat (3 April 2026) waktu setempat, dengan dukungan logistik lengkap. Pemerintah juga berjanji untuk mempercepat proses administrasi, termasuk pengurusan surat keterangan kematian dan dokumen pemakaman, agar keluarga tidak perlu menunggu lama.
Harapan Keluarga dan Langkah Selanjutnya
Keluarga Farizal, Zulmi, dan Ichwaan menilai bahwa langkah‑langkah konkret yang diusulkan Golkar dan pemerintah merupakan sinyal positif. Namun, mereka menegaskan bahwa dukungan jangka panjang tetap diperlukan. “Kami berharap tidak hanya bantuan materi, tetapi juga perhatian berkelanjutan terhadap pendidikan dan perkembangan anak‑anak kami,” ujar Fitra.
Jika investigasi PBB menemukan keterlibatan pihak tertentu dalam serangan mortir, Golkar berjanji akan memperjuangkan hak Indonesia dalam forum internasional. “Kami tidak akan membiarkan tragedi ini terulang, dan kami akan memastikan bahwa pelaku bertanggung jawab,” tegas Hartarto.
Dengan dukungan politik, diplomatik, dan sosial yang terkoordinasi, diharapkan anak‑anak tiga prajurit yang gugur dapat melanjutkan hidup dengan rasa aman, pendidikan yang layak, dan kebanggaan akan warisan ayah mereka yang berjuang untuk perdamaian dunia.