**Hamas Setuju Melucuti Senjata, Namun Keterusterangan Masa Depan Tetap Tidak Jelas** **Momen Penentu di Menit Akhir** Pada bulan Oktober, Hamas menyetujui “perlucutan senjata total” setelah mencapai kesepakatan dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace) bentukan Donald Trump. Dewan tersebut menyatakan perlucutan senjata Hamas merupakan “terobosan bersejarah”. Lebih lanjut, dewan itu mengklaim perlucutan senjata akan “disusul oleh penarikan Israel dari Gaza”. Namun, Israel belum memberikan tanggapan publik terhadap rencana tersebut. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Seorang pejabat AS mengatakan kepada wartawan bahwa Presiden Trump akan “sangat kecewa” jika Israel memutuskan untuk tidak menarik diri dari Gazaâsebuah syarat kesepakatan Israel dan Hamas dalam rencana perdamaian Trump. Pemerintah AS menekankan bahwa cetak biru perdamaian ini dirancang dengan prinsip “tanpa kepercayaan” dan verifikasi ketat. Pelucutan senjata akan dimulai dari kelompok-kelompok bersenjata yang lebih kecil, kemudian barulah Hamas membongkar infrastruktur militer berskala besar miliknya, mulai dari jaringan terowongan, gudang senjata, hingga fasilitas produksi. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Bagi banyak orang, kepercayaan terhadap Hamas dan Israel tetap rendah, karena kesepakatan-kesepakatan sebelumnya berulang kali gagal sebelum memberikan perbaikan yang berarti di lapangan. Masyarakat di Gaza tidak terlalu antusias dengan pengumuman tersebut, kata koresponden BBC di Gaza, Rushdi Abualouf, yang melaporkan dari Kairo. “Setelah bertahun-tahun gencatan senjata yang gagal dan kesepakatan yang runtuh, banyak warga Palestina menjadi sangat skeptis terhadap terobosan politik baru,” tulisnya. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab mengenai penarikan pasukan Israel. Koresponden BBC Amerika Utara, Shaimaa Khalil, menulis: “Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sejauh ini kurang menunjukkan keinginan untuk menarik pasukannya secara permanen dari Gaza. Dia menghadapi tekanan dari mitra koalisi sayap kanan yang telah lama menentang langkah tersebut.” Ada banyak pertanyaan operasional juga, katanya. Misalnya, kepada siapa pasukan Israel menyerahkan kendali? Apakah zona penyangga yang dikenal sebagai Garis Kuning akan dimasukkan dalam penarikan pasukan? Dalam beberapa tahun terakhir, Israel melakukan serangan ke Gaza yang menyebabkan lebih dari 73.290 orang tewas, termasuk 21.280 anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan di Gaza yang dikelola Hamas. Penghitungan tersebut dianggap dapat diandalkan oleh PBB. Gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku Oktober lalu. Jika kesepakatan ini berhasil diimplementasikan, ini akan menjadi “langkah kredibel pertama” menuju penghentian pertikaian di Gaza, yang berlangsung hampir tiga tahun.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c98vlyge2ego?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.