Harga Minyak Melonjak Setelah Trump Ancaman Serang Infrastruktur Iran, Lalu Turun Drastis Karena Harapan Perdamaian
Berita Hari Ini – 15 April 2026 | Pasar minyak dunia kembali menjadi sorotan pada minggu ini setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan ancaman serangan terhadap infrastruktur minyak Iran. Pernyataan tegas tersebut langsung mendorong harga minyak mentah naik tajam, memicu kekhawatiran di kalangan importir dan konsumen energi global.
Lonjakan Harga Akibat Ancaman Trump
Segera setelah Trump menyatakan kesiapan militer untuk menargetkan fasilitas minyak dan pelabuhan Iran, kontrak berjangka Brent melesat melewati level US$100 per barel. Investor menilai bahwa penutupan kembali Selat Hormuz—jalur pengiriman utama minyak Timur Tengah—akan mengurangi pasokan secara signifikan. Sentimen pasar berubah menjadi “risk‑off”, dengan spekulasi bahwa konflik berskala luas dapat mengganggu produksi dan ekspor minyak dari wilayah tersebut.
Faktor-faktor Penopang Kenaikan Harga
- Ancaman militer AS yang dipimpin Trump terhadap infrastruktur energi Iran.
- Penutupan atau pembatasan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz.
- Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Saudi, dan sekutu‑sekutu Barat.
- Pengurangan stok minyak mentah strategis oleh negara‑negara produsen sebagai langkah defensif.
Perubahan Sentimen: Harga Turun Setelah Harapan Perdamaian
Namun, pada Rabu (15/4/2026) pasar menunjukkan perubahan arah. Reuters melaporkan bahwa Brent turun 52 sen menjadi US$94,27 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) anjlok 1,04 dolar menjadi US$90,24 per barel. Penurunan ini dipicu oleh ekspektasi bahwa dialog damai antara AS dan Iran akan dilanjutkan, terutama setelah pertemuan yang direncanakan di Pakistan.
Presiden Trump pada Selasa (14/4/2026) menegaskan kembali niatnya untuk mencari solusi diplomatik meski blokade terhadap pelabuhan Iran masih berlangsung. Seorang pejabat AS menyebutkan bahwa kapal perusak Amerika menghentikan dua tanker yang berusaha meninggalkan wilayah tersebut, menandakan bahwa tekanan militer belum sepenuhnya dicabut.
Implikasi Terhadap Pasokan Global
Selat Hormuz tetap menjadi titik kritis. Meskipun ada gencatan senjata selama dua minggu, lalu lintas kapal belum kembali ke tingkat normal; hanya sebagian kecil dari sekitar 130 kapal yang biasanya melintas setiap hari yang berhasil lewat. Hal ini menambah ketidakpastian bagi produsen minyak, distributor, dan konsumen di Asia serta Eropa.
Selain itu, kebijakan sanksi AS terhadap Iran dan Rusia menambah lapisan kompleksitas. Dua pejabat pemerintah AS mengonfirmasi bahwa keringanan sanksi minyak Iran yang dijadwalkan berakhir pada akhir pekan ini tidak akan diperpanjang, sementara keringanan serupa untuk Rusia juga akan berakhir.
Data Persediaan dan Prediksi Pasar
Pasar kini menantikan rilis data persediaan minyak AS dari Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan pada pukul 10.30 ET. Data tersebut diperkirakan akan memberikan gambaran lebih jelas tentang keseimbangan pasokan domestik dan dapat memperkuat atau mengubah sentimen yang sedang berkembang.
Secara keseluruhan, pergerakan harga minyak dalam beberapa hari terakhir mencerminkan dinamika geopolitik yang cepat berubah. Ancaman militer dapat memicu lonjakan harga secara tiba‑tiba, namun harapan akan dialog damai mampu menurunkan tekanan pasar dalam waktu singkat.
Investor dan pelaku industri tetap harus memantau kebijakan luar negeri AS, perkembangan di Selat Hormuz, serta data persediaan resmi untuk menilai arah pergerakan harga minyak ke depan.