Berita Hari Ini – 15 April 2026 | Awal pekan ini, harga minyak mentah dunia kembali menguat tajam, mencatat level $111 per barel pada kontrak berjangka paling likuid. Lonjakan ini dipicu oleh keputusan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) yang memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran setelah perundingan damai antara kedua negara gagal pada akhir pekan.
Blokade Iran dan Dampaknya pada Pasokan
Presiden Donald Trump secara tegas memerintahkan blokade Selat Hormuz, jalur penyedia sekitar 20 % pasokan minyak dunia, serta pelabuhan-pelabuhan di Teluk Arab dan Teluk Oman. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa kebijakan tersebut akan diterapkan secara imparsial, menahan semua kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran, sementara kapal menuju pelabuhan non‑Iran tetap diizinkan.
Langkah ini menimbulkan kekhawatiran akan gangguan aliran minyak Iran, yang diperkirakan mencapai 2 juta barel per hari. Analis pasar energi menilai bahwa penahanan tersebut dapat menambah tekanan pada pasar, mengingat suplai global telah tertekan sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran dimulai pada akhir Februari.
Pergerakan Harga Minyak
Data pasar menunjukkan pergerakan harga yang signifikan dalam beberapa hari terakhir:
| Waktu | Indeks | Harga (USD/barel) |
|---|---|---|
| 13 Apr 2026 08:04 WIB | Brent | 101,91 |
| 13 Apr 2026 08:04 WIB | WTI | 104,16 |
| 14 Apr 2026 08:00 WIB | Brent (pengiriman Mei) | 99,08 |
| 14 Apr 2026 08:00 WIB | WTI (pengiriman Mei) | 99,36 |
| 14 Apr 2026 00:03 GMT | Brent (penurunan) | 97,50 |
| 14 Apr 2026 00:03 GMT | WTI (penurunan) | 96,83 |
| 14 Apr 2026 (puncak) | Minyak Dunia | 111 |
Lonjakan ke $111 per barel tercapai setelah laporan pasar menunjukkan penurunan pasokan sebesar 10 juta barel per hari akibat blokade, serta spekulasi bahwa blokade dapat diperluas ke Teluk Oman.
Implikasi bagi Indonesia
Indonesia, sebagai negara importir energi, merasakan dampak langsung dari kenaikan harga minyak global. Kenaikan harga menjadi $110–$111 per barel diproyeksikan menambah beban subsidi energi nasional hingga Rp79 triliun, menurut analisis lembaga riset energi.
Data dari Kementerian Energi menunjukkan bahwa Indonesia mengimpor sekitar 117,8 juta barel minyak mentah per tahun, dengan sekitar sepertiga impor LPG melewati Selat Hormuz. Gangguan di jalur tersebut dapat memperburuk defisit energi dan menekan neraca perdagangan.
- Subsidi BBM diperkirakan naik lebih dari Rp10 triliun dibandingkan periode sebelumnya.
- Angka inflasi dapat terdorong naik akibat kenaikan harga bahan bakar dan energi.
- Pemerintah tengah mengupayakan diversifikasi sumber impor, termasuk peningkatan pasokan dari Australia dan negara non‑Timur Tengah.
Proyeksi dan Pernyataan Resmi
Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, memperingatkan bahwa harga minyak dapat mencapai puncak dalam beberapa minggu ke depan jika blokade terus berlanjut. Ia menegaskan bahwa harapan penurunan harga secara cepat tidak realistis, mengingat kebutuhan waktu untuk memulihkan aliran kapal melalui Selat Hormuz.
Di sisi lain, analis pasar Indonesia mencatat bahwa meskipun harga sempat turun di sesi Asia pada 14 April setelah muncul wacana perundingan kembali, tekanan geopolitik tetap tinggi. Iran mengancam akan menargetkan pelabuhan negara‑negara Teluk jika blokade terus berlanjut, menambah ketidakpastian.
Harga minyak mentah yang kembali melambung ke $111 per barel mencerminkan kombinasi faktor geopolitik, kebijakan blokade AS, dan ekspektasi pasar terhadap gangguan pasokan. Dampaknya tidak hanya dirasakan di pasar internasional, tetapi juga menambah beban fiskal dan inflasi di Indonesia. Selama negosiasi antara AS dan Iran belum menghasilkan kesepakatan yang mengakhiri blokade, pasar energi diproyeksikan tetap volatil, menuntut pemantauan ketat dari pelaku industri dan regulator.