Harga Plastik Melonjak Tajam, Dampak pada Industri Makanan & Minuman dan Upaya Pemerintah
Berita Hari Ini – 14 April 2026 | Jakarta – Harga plastik di pasar domestik melambung tajam dalam beberapa pekan terakhir, memicu kekhawatiran di kalangan produsen, pedagang, dan konsumen. Kenaikan yang dilaporkan mencapai 40% hingga lebih dari 100% tergantung jenis produk, dipicu oleh gabungan faktor eksternal dan internal.
Penyebab utama lonjakan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa semua produk petrokimia berbasis bahan bakar minyak mengalami tekanan harga akibat naiknya biaya produksi minyak mentah. Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menambahkan bahwa Indonesia selama ini sangat bergantung pada impor naphtha dari wilayah Timur Tengah sebagai bahan baku utama plastik. Konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat serta ketegangan di kawasan tersebut mengganggu rantai pasok, menyebabkan penurunan pasokan dan naiknya harga naphtha secara signifikan.
Akibat gangguan ini, para produsen plastik melaporkan margin keuntungan tertekan, sekaligus menghadapi keterbatasan stok. Beberapa pemasok mengindikasikan bahwa persediaan bahan baku dapat habis pada akhir Mei atau Juni, memperparah situasi.
Dampak pada sektor makanan dan minuman
Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia GAPMMI mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik langsung menekan biaya kemasan produk makanan dan minuman. Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman menyatakan bahwa hampir semua produk mamin mengandalkan kemasan plastik, sehingga kenaikan harga bahan baku berpotensi menambah harga jual kepada konsumen. Ia mencatat bahwa kenaikan harga plastik berkisar antara 30% hingga 100%, tergantung jenis dan ketebalan material.
Pedagang di pasar tradisional, seperti Pasar Senen, melaporkan bahwa harga plastik untuk pembungkus bakso, daging beku, dan produk sejenis telah naik tajam, memaksa mereka menyesuaikan harga jual atau mencari alternatif kemasan lain yang lebih mahal.
Respons pemerintah
Hingga kini, pemerintah belum mengumumkan insentif khusus untuk meredam dampak harga plastik. Airlangga Hartarto menegaskan bahwa belum ada kebijakan insentif yang disiapkan. Namun, Kementerian Perdagangan telah mengalihkan pencarian pasokan ke negara lain, termasuk India, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Afrika. Komunikasi dengan produsen di wilayah tersebut telah dimulai sebagai upaya jangka pendek untuk mengurangi ketergantungan pada naphtha Timur Tengah.
Asosiasi Pengusaha Indonesia APINDO melalui Ketua Bidang Ketenagakerjaan Bob Azam menyoroti risiko penghentian produksi di sektor yang sangat bergantung pada plastik. Ia menekankan pentingnya deregulasi impor serta penyederhanaan perizinan agar pelaku usaha dapat mengakses bahan baku alternatif lebih cepat.
Langkah adaptasi industri
- Penggunaan bahan baku alternatif seperti bioplastik atau bahan daur ulang.
- Peningkatan efisiensi penggunaan plastik melalui desain kemasan yang lebih tipis.
- Negosiasi harga jangka panjang dengan pemasok luar negeri untuk menstabilkan biaya.
- Pencarian pasokan naphtha dari wilayah non‑Timur Tengah, misalnya Afrika dan Amerika Selatan.
Beberapa perusahaan besar telah mulai menguji kemasan berbasis bahan biodegradable, meski biaya produksi masih lebih tinggi dibandingkan plastik konvensional. Upaya ini dianggap sebagai strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok yang rentan.
Secara keseluruhan, lonjakan harga plastik mencerminkan kerentanan ekonomi Indonesia terhadap fluktuasi pasar energi global serta dinamika geopolitik. Pemerintah tengah berupaya diversifikasi sumber pasokan, namun langkah kebijakan fiskal seperti insentif atau subsidi belum terwujud. Sektor makanan dan minuman, yang menyerap sebagian besar penggunaan plastik, diperkirakan akan meneruskan tekanan biaya ke konsumen akhir, berpotensi menambah inflasi pangan.
Ke depan, koordinasi lintas kementerian, percepatan deregulasi impor, serta investasi pada teknologi ramah lingkungan menjadi kunci untuk menstabilkan harga bahan baku plastik dan menjaga kelangsungan produksi industri domestik.