Transformasi Karier Lulusan SMK: Dari Ruang Kelas Menuju Dunia Industri Berpenghasilan Tinggi di Era Digital
KompetitifMembangun Portofolio Sejak SMK: Strategi Efektif Menarik Perhatian Perusahaan Besar dan Meningkatkan Peluang Karier Profesional
KompetitifHari pertama sekolah di Indonesia diwarnai dengan berbagai kejadian unik dan dramatis. Ancaman bom di SDN Serengseng Sawah 15 Pagi, Jakarta Selatan, membuat proses Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) urung dilaksanakan. Sementara itu, di Solo, Jawa Tengah, para murid baru disambut oleh guru-guru yang memakai kostum unik. Di Makassar, Sulawesi Selatan, sejumlah bapak mengikuti gerakan ayah mengantar anak ke sekolah.
Momen Penentu di Hari Pertama Sekolah
Di Jakarta, tepatnya di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jakarta Selatan, MPLS yang menjadi momentum penting dan ceria bagi siswa, justru diwarnai dengan ancaman bom. Ancaman ini diterima melalui jalur pribadi kepada guru dan petugas tata usaha lewat aplikasi Whatsapp, yang dilaporkan pukul 07.30 WIB. Tim Gegana dan Densus 88 datang menyisir lokasi. Hingga petang, setelah memeriksa segala sudut sekolah, polisi tidak menemukan bom yang dimaksud. Namun begitu, polisi telah menangkap seorang pria berinisial MY, 34 tahun, di hari yang sama. MY diduga mengirim pesan ancaman bom.
“Masih dalam pendalaman penyidik terkait tujuan dan motif dari yang bersangkutan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan, Senin (13/07).
Apa Artinya Ini ke Depan?
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat menyesalkan insiden ini. “Kami mengutuk keras pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab ini,” kata Atip seperti dikutip Antara , Senin (13/07). Insiden ini menunjukkan bahwa keamanan di sekolah masih menjadi perhatian serius dan perlu ditingkatkan.
Selain itu, gerakan ayah mengantar anak ke sekolah juga menjadi perhatian. Gerakan ini dikampanyekan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sejak 2025. Menurut data BKKBN, sekitar 20,9% anak remaja mengalami kondisi kehilangan figur ayah. Gerakan ini dianggap penting sebagai upaya mengurangi fenomena fatherless atau minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Di Solo, Jawa Tengah, para murid baru disambut oleh guru-guru yang memakai kostum unik. Misalnya, di SDN Cemara 02 Solo, Jawa Tengah, guru setempat mengenakan kostum ala figur di Harry Potter. Di SDN Kaliasin, Surabaya, Jawa Timur, para pengajar juga tak kalah kreatif. Mereka menyambut kehadiran siswa baru dengan kostum bertema dunia laut.
Dalam masa pengenalan sekolah, para guru juga mengundang siswa baru mengenalkan lingkungan sambil bermain. Sebanyak 72 siswa baru di SDN 01 Kota Ternate, Maluku Utara, tampak peserta didik baru berjalan melingkar bak ular untuk berkenalan dengan lingkungan sekolah. Peserta didik baru juga menggunakan beragam kostum yang mereka sukai menyambut tahun ajaran baru.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Namun, tidak semua siswa baru di sekolah dasar yang bisa menikmati fasilitas yang mumpuni, disambut dengan suka cita. Beberapa sekolah bahkan menyambut mereka dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan. Oleh karena itu, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cq51vpydxnyo?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.