Warisan Budaya yang Terlupakan
Hasan Husein, nama yang mungkin tidak asing bagi sebagian orang Aceh, terutama yang familiar dengan sejarah perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Namun, bagi masyarakat luas, nama ini mungkin hanya terdengar sebagai sebuah cerita masa lalu yang terlupakan. Hikayat Hasan Husein, sebuah karya sastra yang ditulis ulang dan dirombak oleh pengarang, menjadi “obor pengompor” semangat juang rakyat Aceh melawan Belanda. Derajat keagungan Hikayat Hasan-Husein setara dan semartabat dengan Hikayat Prang Sabi yang terkenal itu.
Hikayat Hasan Husein ini telah menggugah semangat juang rakyat Aceh melawan Marsose Belanda. Masa perjuangan melawan Belanda di pantai barat-selatan Aceh (Barsela) berlangsung puluhan tahun. Perlawanan yang amat panjang dipimpin oleh Raja Tampoek. Sayangnya, sejauh informasi yang saya miliki, kisah perlawanan Raja Tampoek terhadap Belanda belum satu buku pun mencatatnya.
Momen Penentu di Menit Akhir
Di Gampong Dayah, kampung yang berbatasan dengan Gampong Ujong Blang, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, masih dikenal dua situs sejarah melawan Belanda. Lokasi SDN Gampong Dayah sekarang, dulunya adalah bivak Belanda (pos pasukan Marsose Belanda) saat mengawasi pergerakan pasukan Raja Tampoek. Kabar ini disampaikan Kuk Jafa, yang bernama asli Muhamad Ali, pemilik kios tempat saya selalu membeli barang kebutuhan pokok. Di dekat Masjid Dayah terdapat sebuah âbaleâ, yakni balai tempat orang menunggu sebelum masuk waktu shalat Jumat. Di âbaleâ itu pernah singgah pasukan Cut Nyak Dhien dalam perjalanan gerilya. Suatu bekas tetakan pedang (ditektek ngon peudeueng) masih tetap ada jejaknya dan menjadi kebanggaan masyarakat di sana.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Saya sempat berkenalan dengan cucu Raja Tampoek, bernama Meureudom Sakeuti ketika ia berobat di Rumoh Drien Guru; Rumoh Gunong milik Abu Tabib Wen. Abu Tabib Wen memiliki sebuah pedang hadiah Raja Tampoek. Meureudom Sakeuti memiliki sebuah azimat yang selalu digantung di lehernya, di balik baju. Azimat itu berupa kitab Al-Qurâan mungil, lebih besar dari ibu jari orang dewasa. Bila dipakai oleh orang yang âpatutâ, azimat itu dapat berperan sebagai beberapa âilmu gaibâ untuk mempertahankan diri. Saya pernah mendengar kisah kebalnya Pang Jafa, Panglima Perang Raja Tampoek, dalam serangan fajar di pos militer di Ulee Jalan (kota kecamatan) pada tahun 1950-an. Hanya dengan membentangkan sehelai baju di hadapannya, beliau sedikit pun tidak cedera oleh peluru dari senapan mesin serdadu Belanda.
Bagi pembaca/penyimak hikayat ini yang menghayati kisannya, pasti âbertangisanâ pada beberapa bagian yang memancarkan kasih sayang seorang ibunda ketika melepaskan sang anak pergi berperang. âRatapanâ ibunda ini dapat dijumpai pada kisah istri Saidina Hasan yang bernama Fathimah Zainub. Ia merasa amat pilu saat memakaikan pakaian putra semata wayangnya untuk berangkat ke medan perang. Tidak kurang pula âgalaunyaâ batin kita selaku pembaca dan pendengar hikayat, ketika ibunda Ali Hanafiyah yang amat bersedih karena putranya terkurung dalam gua batu di bagian penutup hikayat.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Hasan Husein dan Raja Tampoek adalah dua nama yang sangat penting dalam sejarah perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Namun, masih banyak cerita lainnya yang belum terungkap. Oleh karena itu, kita harus terus melestarikan dan mempelajari sejarah kita sendiri, agar kita dapat memahami perjalanan panjang bangsa kita dan menghargai jasa-jasa para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan kita. Dengan demikian, kita dapat memetik hikmah dari pengalaman masa lalu dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://aceh.tribunnews.com/opini/1034430/hikayat-hasan-husein-khazanah-budaya-barsela-yang-harus-diselamatkan, without altering the facts of the original article.