Hebohnya croissant “berambut” di media sosial belakangan ini menarik perhatian banyak orang. Pastry yang dibuat oleh toko roti Sai Wan Bake House di Thailand ini menjadi viral karena menggunakan topping berupa serat hitam yang sekilas menyerupai rambut manusia. Banyak warganet yang bereaksi terhadap kreasi ini, dengan sebagian menganggapnya kreatif dan sebagian lain menilai tampilannya menjijikkan.
Apa yang Terjadi dengan Croissant “Berambut”?
Fenomena hair croissant atau croissant “berambut” ini bermula dari Thailand, di mana toko roti Sai Wan Bake House menciptakan pastry dengan topping serat hitam yang menyerupai rambut. Kreasi ini merupakan adaptasi dari tren hairy cake atau kue berbulu yang lebih dulu dikenal di Thailand. Pada beberapa penyajian, bagian atas croissant juga diberi tambahan saus berwarna putih, sehingga tampilannya memicu lebih banyak perdebatan.
Serat hitam yang digunakan pada croissant tersebut sebenarnya bukanlah rambut, melainkan fat choy atau black moss, yakni lumut yang dapat dikonsumsi dan telah lama digunakan dalam berbagai hidangan khas Tionghoa. Fat choy memiliki nilai budaya tersendiri karena pelafalannya dalam bahasa Mandarin terdengar mirip dengan ungkapan fa cai, yang dikaitkan dengan harapan akan datangnya rezeki dan kemakmuran.
Mengapa Fat Choy Penting?
Fat choy merupakan lumut yang tumbuh di batu dan populer dalam kuliner Tibet. Bahan ini sering disajikan pada perayaan Tahun Baru Imlek maupun acara-acara penting dalam masyarakat Tionghoa. Menurut trainer etiket, Vindy Lee, fat choy memiliki representasi rezeki yang bagus karena namanya. “Fa” berarti toufa atau rambut, sedangkan “Choy” berarti sayur. Oleh karena itu, fat choy sering dihidangkan dalam jamuan resmi masyarakat Tionghoa.
Dampak dan Reaksi
Fenomena hair croissant turut menarik perhatian kreator konten kuliner di Indonesia. Sejumlah food vlogger mencoba mengulas makanan tersebut, namun beberapa di antaranya juga menuai kritik karena menggunakan istilah yang dianggap vulgar saat menggambarkan bentuk croissant tersebut. Vindy Lee sendiri mengaku kurang tertarik dengan konsep penyajian fat choy di atas croissant, karena menurutnya persoalan bukan terletak pada penggunaan fat choy, melainkan pada kombinasi bahan serta cara penyajiannya.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof. K, juga memberikan tanggapan terkait fenomena hair croissant ini. Meskipun demikian, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab terkait keaslian dan keamanan bahan yang digunakan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memahami dampaknya terhadap masyarakat. Dengan demikian, kita dapat memahami lebih baik tentang pentingnya fat choy dalam budaya Tionghoa dan bagaimana cara penyajiannya yang tepat.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.brilio.net/duh/croissant-berambut-hebohkan-media-sosial-trainer-etiket-luruskan-apa-itu-fat-choy-dan-respons-mui-2607162.html, without altering the facts of the original article.