Berita Hari Ini – 04 Mei 2026 | Anggota DPR sekaligus praktisi hukum, Hillary Brigitta Lasut, kembali menegaskan pentingnya etika kritik dalam ranah politik Indonesia. Menyikapi pernyataan senior politik Amien Rais yang menyinggung kehidupan pribadi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Brigitta menilai bahwa serangan personal tidak hanya melanggar norma publik, melainkan juga berpotensi merusak martabat institusi negara.
Kontroversi Video Amien Rais
Beberapa hari lalu, Amien Rais mengunggah video berjudul “Jauhi Istana dari Skandal Moral” ke kanal YouTube resmi miliknya. Dalam video tersebut, Rais menuduh adanya penyimpangan moral di lingkungan Sekretariat Kabinet, sekaligus menyinggung secara implisit pribadi Letkol Teddy Indra Wijaya. Video tersebut cepat menjadi sorotan publik, bahkan kemudian diminta pemerintah untuk diturunkan karena dianggap mengandung hoaks dan ujaran kebencian.
Hillary Brigitta menilai tindakan Amien Rais telah melewati batas kritik konstruktif. “Ini bukan lagi kritik, ini serangan yang tidak berdasar. Kritik memang penting dalam demokrasi, namun ketika tuduhan dilempar tanpa bukti yang jelas, itu berubah menjadi fitnah,” ujarnya dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media nasional.
Pernyataan Hillary Brigitta tentang Etika Kritik
Brigitta menekankan bahwa figur publik memikul tanggung jawab besar sebagai penjaga kualitas informasi. Ia menambah, “Figur publik harus memfilter informasi sebelum disebarkan kepada khalayak luas. Menjadi sumber spekulasi yang meracuni ruang publik hanya akan memperlemah kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.”
Sebagai seseorang yang pernah berinteraksi langsung dengan sistem kerja di Sekretariat Kabinet, Hillary memberikan kesaksian nyata. “Saya saksi hidup bagaimana gerak cepat Seskab dalam menangani laporan masyarakat, termasuk kasus ketidakadilan yang menimpa seorang anak dari wilayah perbatasan,” katanya, menegaskan bahwa tuduhan terhadap Letkol Teddy tidak berdasar.
Dampak Serangan Personal terhadap Demokrasi
- Melemahnya Etika Publik: Serangan personal menurunkan standar etika dalam wacana politik, membuat debat menjadi sarana adu fitnah alih-alih pertukaran gagasan.
- Polarisasi Sosial: Tuduhan tanpa bukti memecah belah publik, menciptakan kelompok yang bersifat “kita vs mereka”.
- Merusak Kepercayaan Institusi: Ketika pejabat negara menjadi sasaran fitnah, citra institusi pemerintah ikut tercoreng, mengurangi legitimasi kebijakan publik.
Hillary Brigitta menutup pernyataannya dengan ajakan kepada seluruh aktor politik untuk menjaga hati nurani dan etika dalam bersaing di ruang publik. Ia menegaskan bahwa kompetisi politik seharusnya diisi dengan gagasan dan kontribusi nyata kepada masyarakat, bukan serangan personal yang berpotensi memecah belah bangsa.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa demokrasi yang sehat memerlukan kritik yang berbasis fakta, bukan fitnah yang bersifat pribadi. Semua pihak diharapkan dapat menegakkan standar etika yang tinggi, demi menjaga integritas serta martabat negara.