Italia Ekstradisi Hacker China ke AS: Dampak Geopolitik dan Ancaman Pencurian Data Vaksin
Berita Hari Ini – 29 April 2026 | Roma – Otoritas Italia pada akhir pekan lalu mengekstradisi seorang warga negara Tiongkok, Xu Zewei, berusia 34 tahun, ke Amerika Serikat atas tuduhan peretasan tingkat tinggi yang menargetkan data penelitian vaksin COVID-19. Penangkapan Xu di Milan pada Juli 2025 menandai babak baru dalam konfrontasi siber antara Washington dan Beijing, serta menyoroti kerentanan infrastruktur akademik di era pasca‑pandemi.
Latar Belakang Kasus dan Tuduhan
Menurut jaksa federal di Houston, Xu Zewei dituduh membobol jaringan komputer universitas terkemuka di Amerika Serikat untuk mencuri data riset vaksin yang sedang dikembangkan pada puncak pandemi. Selain pencurian data, Xu juga diduga terlibat dalam operasi spionase siber global yang dikenal sebagai Hafnium, sebuah kelompok yang secara luas diperkirakan berafiliasi dengan Kementerian Keamanan Negara (MSS) China. Selama penyelidikan, terungkap bahwa Xu bekerja untuk perusahaan swasta Shanghai Powerock Network, yang berfungsi sebagai perantara teknis antara pemerintah China dan aktor peretasan independen.
Proses Ekstradisi dan Persidangan di AS
Pengadilan Tinggi Italia memberikan lampu hijau untuk ekstradisi pada awal bulan ini setelah menilai bahwa tidak ada alasan hukum yang menghalangi penyerahan terdakwa. Xu kemudian diterbangkan ke Houston, di mana ia dijadwalkan menghadiri sidang pertama pada 27 April 2026. Jaksa Penuntut Umum John G. E. Marck menegaskan bahwa Xu menghadapi sembilan dakwaan pidana, termasuk konspirasi penipuan elektronik, akses komputer tidak sah, dan pencurian identitas. Setiap dakwaan penipuan elektronik dapat berujung pada hukuman maksimal 20 tahun penjara, menambah potensi ancaman hukuman total yang sangat berat.
Reaksi Internasional dan Tuduhan Balik
Pemerintah China mengecam ekstradisi tersebut sebagai aksi politik yang dimotivasi oleh Amerika Serikat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menuduh Italia menjadi “kaki tangan” Washington dan meminta agar proses hukum segera dibatalkan. Sementara itu, tim kuasa hukum Xu mengklaim bahwa kliennya menjadi korban identitas yang salah, serta mengkhawatirkan perlakuan tidak adil bila dia diadili di pengadilan federal Amerika. Pada saat yang sama, FBI terus mencari rekan Xu, Zhang Yu, yang hingga kini masih dalam status buron.
Dampak pada Keamanan Siber Global
Kasus ini menambah daftar panjang insiden siber yang melibatkan grup Hafnium, yang sebelumnya diketahui mengeksploitasi kerentanan Microsoft Exchange Server untuk menancapkan malware di ribuan organisasi di seluruh dunia. Pencurian data vaksin COVID-19 menimbulkan pertanyaan serius tentang keamanan riset ilmiah, terutama ketika hasil penelitian dapat menjadi bahan strategis dalam persaingan geopolitik. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan komitmen untuk melindungi aset ilmiah nasional, sementara negara-negara Eropa meninjau kembali kebijakan keamanan siber mereka di institusi pendidikan tinggi.
Kesimpulan
Ekstradisi Xu Zewei oleh Italia ke AS menegaskan bahwa aksi siber lintas negara kini menjadi agenda keamanan nasional yang tak dapat dipisahkan dari politik luar negeri. Proses pengadilan yang akan datang tidak hanya menentukan nasib satu individu, tetapi juga menjadi barometer bagi cara komunitas internasional menangani serangan siber yang menargetkan data sensitif seperti vaksin. Dengan tekanan diplomatik yang terus meningkat, kasus ini kemungkinan akan menjadi referensi penting dalam pembentukan regulasi siber multinasional di masa depan.