Berita Hari Ini – 22 April 2026 | Jakarta, 22 April 2026 – Pernyataan kontroversial mengenai ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, di Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menjadi sorotan publik. Pada kesempatan itu, Pendeta Prof John Ruhulessin menegaskan bahwa tidak ada unsur penistaan agama dalam ujaran JK, sekaligus menyoroti pentingnya dialog lintas kepercayaan dalam upaya perdamaian nasional.
Pernyataan Tegas John Ruhulessin
Prof John Ruhulessin, pendeta senior Gereja Protestan Maluku dan tokoh perundingan damai Malino II, menyampaikan pandangannya dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri media nasional. Menurutnya, video potongan yang beredar tidak mencerminkan keseluruhan isi ceramah JK. “Tidak ada kata-kata yang menyinggung atau menista agama apa pun,” ujar Ruhulessin. Ia menambahkan bahwa konteks pembicaraan JK lebih menitikberatkan pada proses perdamaian dunia dan dinamika konflik internal Indonesia, bukan pada provokasi agama.
Ruhulessin menekankan bahwa dalam era informasi yang serba cepat, pemotongan video dapat menimbulkan interpretasi keliru. “Kita harus menilai sebuah pernyataan secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan fragmen yang dipilih,” tegasnya. Pernyataan ini mendapat sambutan positif dari kalangan akademisi dan aktivis hak asasi manusia yang menilai pentingnya menahan diri dari penilaian sepihak.
Pertemuan Tokoh Perdamaian Malino I & II
Sehari setelah pernyataan tersebut, Jusuf Kalla menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh yang pernah terlibat dalam perundingan damai Malino I (Poso) dan Malino II (Maluku). Acara yang berlangsung di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, dihadiri oleh perwakilan agama Kristen, Islam, serta tokoh-tokoh budaya yang memiliki peran penting dalam menyelesaikan konflik di Maluku dan Poso.
- Pendeta Rudolf Metusala (Sinode Gereja Kristen Tentena)
- Pendeta Jetroson Rense
- Pendeta Dajaramo Tasiabe
- Pendeta Rinaldi Damanik (delegasi Malino I)
- Ustaz Sugianto Kaimuddin (delegasi Malino I)
- Ustaz Muh. Amin
- Ustaz Samsul Lawenga
- Ustaz Mualim Fauzil
- Pdt. Prof John Ruhulessin (Gereja Protestan Maluku)
- Prof. Hasbullah Toisutta (mantan Rektor UIN Ambon)
- Ustaz Hadi Basalamah
Pertemuan ini bertujuan memperbaiki situasi pasca polemik ceramah JK, sekaligus memperkuat jaringan dialog lintas agama yang telah terbukti efektif pada perundingan Malino. JK menyampaikan bahwa ceramahnya di UGM membahas “proses perdamaian dunia dan nasional,” serta menyoroti 15 konflik besar di Indonesia yang sering dipicu oleh persepsi keliru tentang ajaran agama.
Selama diskusi, Ruhulessin menegaskan kembali pentingnya menjaga keutuhan sosial dengan menolak segala bentuk fitnah yang dapat memecah belah. Ia menambahkan, “Kita telah melewati masa-masa kelam di Maluku dan Poso; pengalaman itu mengajarkan bahwa dialog terbuka dan rasa saling menghormati adalah kunci menghindari konflik baru.”
Jusuf Kalla juga menanggapi kritik publik dengan menyatakan bahwa tindakan hukum terhadap penyebaran video klip yang menimbulkan salah paham sedang diproses. Ia berharap agar semua pihak dapat menahan diri dari penyebaran informasi yang belum terverifikasi, demi menjaga kedamaian berbangsa.
Keberadaan tokoh-tokoh agama dalam pertemuan tersebut menunjukkan komitmen bersama untuk menegakkan nilai-nilai toleransi. Sejumlah ulama dan pendeta menekankan peran penting pendidikan agama yang moderat, serta pentingnya menanamkan nilai kebangsaan sejak dini di sekolah-sekolah.
Secara keseluruhan, pernyataan John Ruhulessin dan langkah konkret JK dalam mengundang tokoh damai mencerminkan upaya bersama mengurangi ketegangan sosial yang dipicu oleh salah persepsi. Masyarakat diharapkan dapat menilai informasi secara kritis dan mengedepankan semangat persatuan.