Momen Penentu di Menit Akhir
Puncak Tengger di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, Kalimantan Selatan, kembali mengalami kebakaran hutan (karhutla) yang meluas. Meski berhasil dikendalikan, karhutla menghanguskan sekitar lima hektare kawasan semak belukar di Bukit Besar. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius Dinas Kehutanan (Dishut) Kalimantan Selatan.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Karhutla yang melanda Puncak Tengger tersebut berhasil dikendalikan, tetapi kebakaran masih berpotensi meluas karena kondisi cuaca yang masih kering. Oleh karena itu, Dishut mengambil keputusan untuk menutup kawasan wisata Tahura Sultan Adam sampai waktu yang belum ditentukan. Penutupan ini bertujuan untuk memastikan keselamatan pengunjung dan memudahkan proses pemantauan di kawasan rawan kebakaran.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Dishut Kalimantan Selatan meningkatkan pengawasan di kawasan Tahura Sultan Adam dengan melibatkan Brigade Pengendalian Karhutla, Polisi Kehutanan, petugas Tahura Sultan Adam, personel Dinas Kehutanan, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) di sekitar kawasan hutan. Patroli kini dilakukan selama 24 jam dengan sistem dua shift untuk memastikan setiap potensi titik api dapat segera dideteksi dan ditangani sebelum meluas.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Kepala Seksi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Dishut Kalsel, Bambang Marwanto, mengatakan bahwa penutupan kawasan wisata Tahura Sultan Adam adalah salah satu upaya untuk mengantisipasi potensi kebakaran susulan. “Untuk sementara kawasan wisata Tahura Sultan Adam masih ditutup hingga waktu yang belum ditentukan. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari upaya pengamanan pascakebakaran,” ujarnya. Kadishut Kalsel, Fathimatuzzahra, menjelaskan bahwa cepatnya penanganan di lapangan menjadi faktor utama sehingga api tidak meluas ke area hutan konservasi. Menurutnya, penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan satu instansi. Sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, aparat keamanan hingga masyarakat, menjadi kunci agar kebakaran dapat segera dikendalikan. Selain itu, Dishut juga meningkatkan pengawasan di kawasan perbatasan Kabupaten Tanahlaut (Tala) dan Banjarbaru, tempat karhutla kembali membara. Kobaran api yang memerah membumbung tinggi menerangi wilayah setempat. Salah seorang warga yang tinggal di kawasan perbatasan setempat, Yanti, mengatakan bahwa kobaran api tak terlihat lagi pada pagi hari, namun kondisi tersebut belum sepenuhnya aman. Dengan adanya penutupan kawasan wisata Tahura Sultan Adam, diharapkan dapat memudahkan proses pemantauan dan penanganan karhutla. Selain itu, peningkatan pengawasan di kawasan perbatasan juga diharapkan dapat mengurangi potensi kebakaran susulan. Penanganan karhutla memerlukan sinergi dari semua pihak, termasuk pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat. Dengan kerja sama yang baik, diharapkan dapat mengurangi dampak kebakaran hutan dan melindungi lingkungan hidup.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://banjarmasin.tribunnews.com/kalsel/1371161/karhutla-melanda-puncak-tengger-kalsel-dishut-tutup-tahura, without altering the facts of the original article.