Karhutla menghanguskan korban di gambut Kalimantan, suami menggugat penanganan dan menuntut siapa yang harus disalahkan. Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan tengah menjadi perbincangan hangat karena dampaknya yang meluas dan tragedi pribadi yang menimpa keluarga seorang relawan.
Tragedi di Jalan Rungan: Akhmad Rizani, Relawan yang Kehilangan Nyawa
Akhmad Rizani, 53 tahun, memegang posisi Ketua Tim Serbu Api Kecamatan (TSAK) Jekan Raya, Kota Palangka Raya. Pada 27 Agustus 2026, ia terpaksa memadamkan kebakaran di Jalan Rungan, kawasan belakang Kantor Kecamatan Jekan Raya. Menurut rekan-rekannya, Rizani tiba-tiba memberi tanda kepada timnya sambil memegang dada, yang pada awalnya dianggap gurauan. Namun, kondisi ia menurun drastis, ia menjadi pucat, muntah, dan kesakitan. Ia dibawa ke Kantor BPBD dan kemudian dirujuk ke rumah sakit, namun sayangnya ia tidak selamat dan meninggal di tempat.
Wahidah, istri Rizani, mengingat dengan penuh duka. Ia menyatakan bahwa jika bisa mengulang waktu, ia akan melarang suami ikut menjadi relawan. Pengalaman ini menjadi titik balik bagi banyak orang yang menyadari risiko besar yang dihadapi para relawan di tengah karhutla.
Pemerintah dan Badan Restorasi Gambut: Kritik atas Kebijakan “Pembubaran”
Di balik tragedi ini, telunjuk pun diarahkan kepada pemerintah. Banyak yang menilai bahwa pemerintah gagal memitigasi karhutla, salah satunya dengan “membubarkan” Badan Restorasi Gambut dan Mangrove pada akhir 2024. Tugas memulihkan gambut yang rusak akibat kebakaran lantas dilimpahkan ke kementerian terkait. Para pegiat lingkungan menilai keputusan Presiden Prabowo Subianto sebagai kesalahan yang harus dibayar mahal.
Karhutla yang terjadi tahun ini disebut sebagai salah satu yang terparah dalam lebih dari satu dekade. Tidak hanya menghanguskan ratusan ribu hektare lahan, kebakaran ini juga menimbulkan kerugian materi dan merenggut nyawa. Dampak ekologisnya sangat besar, mengancam keseimbangan ekosistem gambut dan mangrove yang penting bagi mitigasi perubahan iklim.
Peran Relawan dan Risiko yang Dihadapi
Relawan seperti Rizani memainkan peran penting dalam memadamkan kebakaran. Namun, kondisi lapangan seringkali tidak aman. Tanpa perlindungan yang memadai dan pelatihan yang tepat, para relawan harus menghadapi risiko tinggi, seperti terpapar asap, cedera, atau bahkan kehilangan nyawa. Tragedi Rizani menyoroti pentingnya pengawasan dan dukungan bagi relawan.
Selain itu, keputusan untuk memindahkan tugas pemulihan gambut ke kementerian terkait menambah beban bagi relawan. Tanpa struktur yang kuat dan dukungan yang memadai, upaya pemulihan menjadi tidak efektif dan menambah risiko bagi mereka yang terlibat langsung di lapangan.
Dampak Sosial dan Ekonomi Karhutla di Kalimantan
Karhutla tidak hanya menimbulkan kerugian ekologis, tetapi juga berdampak pada masyarakat. Banyak keluarga kehilangan mata pencaharian, terutama di sektor pertanian dan perikanan yang bergantung pada tanah gambut dan mangrove. Kerusakan lahan juga mempengaruhi kualitas udara dan kesehatan masyarakat, menimbulkan penyakit pernapasan dan masalah kesehatan lainnya.
Ekonomi lokal juga terpengaruh. Penurunan produktivitas pertanian dan kerusakan infrastruktur mengakibatkan penurunan pendapatan. Pemerintah diharapkan dapat memberikan bantuan dan program pemulihan bagi daerah terdampak agar masyarakat dapat bangkit kembali.
Reaksi Masyarakat dan Ajakan Perubahan Kebijakan
Reaksi masyarakat terhadap kebijakan pemerintah cukup tajam. Banyak yang menuntut pertanggungjawaban atas keputusan pembubaran Badan Restorasi Gambut dan Mangrove. Mereka menganggap bahwa struktur tersebut penting untuk koordinasi dan pelaksanaan program pemulihan yang efektif.
Selain itu, tuntutan untuk memperkuat pelatihan dan perlindungan bagi relawan menjadi sorotan utama. Banyak pihak menegaskan bahwa tanpa dukungan yang memadai, upaya pemadam kebakaran akan terus berakhir dengan tragedi seperti yang dialami Rizani.
Kesimpulan: Menuntut Tanggung Jawab dan Memperkuat Sistem Pemulihan
Karhutla di gambut Kalimantan menimbulkan dampak luas, baik ekologis, sosial, maupun ekonomi. Tragedi Akhmad Rizani menjadi contoh nyata betapa seriusnya risiko yang dihadapi para relawan. Kritik terhadap kebijakan pemerintah, khususnya pembubaran Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, menunjukkan perlunya evaluasi dan perbaikan sistem pemulihan. Masyarakat menuntut pertanggungjawaban atas keputusan yang dianggap berkontribusi pada kegagalan mitigasi karhutla.
Untuk menghindari tragedi serupa di masa depan, pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama dalam memperkuat struktur pemulihan, memberikan pelatihan dan perlindungan bagi relawan, serta memastikan bahwa kebijakan yang diambil dapat mengatasi masalah karhutla secara efektif. Dengan demikian, harapan dapat terwujud bahwa gambut Kalimantan akan tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi yang akan datang.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cwe87mlylj56o?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.