Kebakaran hebat yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, sudah memasuki hari kedelapan pada Selasa (07/07). Kebakaran ini menyebabkan asap tebal yang berdampak pada warga sekitar, sehingga mereka terpaksa mengungsi ke posko pengungsian yang disediakan oleh pemerintah daerah setempat. Berdasarkan hasil pengukuran Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), kualitas udara di sekitar TPA berada pada level yang membahayakan.
Kronologi Kebakaran TPA Jatiwaringin
Kebakaran TPA Jatiwaringin terjadi sejak Selasa pekan lalu dan hingga saat ini masih belum tuntas. Api membakar 15 hektare area TPA, dengan 45% sudah padam. Upaya memadamkan api dilakukan dengan empat helikopter water bombing dan operasi darat. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebut kejadian tersebut bukan insiden biasa, melainkan “bencana ekologis akibat kelalaian sistemik”.
Dampak Kebakaran terhadap Warga
Kebakaran TPA Jatiwaringin berdampak pada ratusan warga sekitar yang terpaksa mengungsi akibat asap tebal dan beracun. Sarmanah, salah satu warga yang mengungsi, bercerita bahwa asap pekat masuk ke rumahnya yang berjarak selemparan batu dengan TPA. Ia terpaksa meninggalkan rumah karena tak kuat menghirup udara beracun itu. “Asapnya tebal, sampai enggak kelihatan orang. Masuk sampai ke dalam rumah, kamar, bikin sesak sampai enggak bisa napas,” keluhnya.
Tosiyani, warga lain yang juga mengungsi, menceritakan bahwa dampak kebakaran tidak hanya menyisakan asap pekat, tapi juga abu dari sisa pembakaran. “Sekarang asapnya sudah kayak debu pasir, nempel di rumah. Hari ini, asapnya memang enggak setebal kemarin, tapi kami belum boleh pulang karena katanya asap itu mengandung gas beracun⦔ “Mata saya perih dan kena radang tenggorokan, untungnya di posko ada pengobatan yang sedia 24 jam,” imbuhnya.
Mengapa Kebakaran TPA Jatiwaringin Terjadi?
Kebakaran TPA Jatiwaringin diduga akibat kelalaian sistemik dalam pengelolaan TPA. Walhi menyebut bahwa kejadian tersebut bukan insiden biasa, melainkan “bencana ekologis akibat kelalaian sistemik”. Kepala Desa Tanjakan Mekar, Uti, mengatakan bahwa jarak TPA dengan permukiman warga yang terlalu dekat menjadi salah satu faktor yang memperparah dampak kebakaran. “Kami berharap pemerintah daerah mengevaluasi keberadaan TPA yang jaraknya kira-kira 100 meter dari permukiman warga,” katanya.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan lingkungan hidup yang baik. Pemerintah daerah harus mengevaluasi keberadaan TPA dan mencari solusi untuk mengatasi masalah pengelolaan sampah yang efektif. Masyarakat juga harus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan hidup yang bersih dan sehat.
Jumlah pengungsi akibat kebakaran TPA Jatiwaringin masih terus bertambah. Hingga hari ketujuh, tercatat ada 185 orang lebih yang masih bertahan di posko pengungsian. Pemerintah daerah harus terus memberikan bantuan dan dukungan kepada warga yang terkena dampak kebakaran. Jalan panjang yang masih harus ditempuh untuk memulihkan kondisi lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat sekitar.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c2dykplnz8ko?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.