Fungsi legislasi merupakan pilar utama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dalam membentuk arah hukum dan pembangunan nasional. Di bawah kepemimpinan Puan Maharani sebagai Ketua DPR RI, kebijakan pembentukan undang-undang mengalami pergeseran paradigma dari pendekatan kuantitas target berorientasi Prolegnas menuju pendekatan kualitas produk hukum dan keberpihakan sosial.
Evaluasi terhadap kinerja legislasi DPR mencakup dua sisi: capaian atas pengesahan berbagai undang-undang terobosan berbasis perlindungan warga negara, serta catatan kritis terkait partisipasi publik yang bermakna (meaningful participation) dan kehati-hatian dalam proses pembentukan undang-undang.
1. Empat Pilar Utama Kebijakan Legislasi Parlemen
Arah kebijakan legislasi yang didorong oleh Puan Maharani berpusat pada empat pilar strategis:
- Legislasi Berperspektif Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan: Mendorong pengesahan produk hukum yang secara khusus melindungi kelompok rentan, perempuan, anak, dan penyandang disabilitas.
- Perbaikan Prosedur dan Partisipasi Bermakna (Meaningful Participation): Menekankan pentingnya keterlibatan publik dalam pembahasan RUU untuk meminimalkan gugatan uji materi (judicial review) di Mahkamah Konstitusi.
- Harmonisasi Regulasi dan Penataan Hukum Nasional: Mendorong kodifikasi dan pembaharuan hukum warisan kolonial menuju hukum nasional modern (seperti pengesahan KUHP Baru).
- Orientasi Kualitas di Atas Kuantitas: Menggeser standar keberhasilan DPR dari sekadar banyaknya RUU yang disahkan menjadi sejauh mana undang-undang bermanfaat secara nyata bagi masyarakat.
2. Alur Transmisi Kebijakan dan Evaluasi Kinerja Legislasi DPR
┌────────────────────────────────────────────────────────────────────────┐
│ ALUR EVALUASI LEGISLASI DPR RI (PUAN MAHARANI) │
└────────────────────────────────────────────────────────────────────────┘
1. TANTANGAN REALITAS HUKUM NASIONAL
┌──────────────────────────────┐ ┌──────────────────────────────┐
│ • Tumpang Tindih Regulasi │ ───► │ • Kerentanan Hukum Korban/ │
│ • Tuntutan Transparansi Publik│ │ Kelompok Rentan │
└──────────────────────────────┘ └──────────────────────────────┘
│
▼
2. DIPLOMASI & FUNGSI LEGISLASI (DPR RI)
┌──────────────────────────────────────────────┴──────────────────────────────┐
▼ ▼
[CAPAIAN UNDANG-UNDANG KUNCI] [CATATAN EVALUASI & KRITIK]
• UU TPKS (No. 12/2022) & UU KIA (No. 4/2024) • Aksesibelitas Draf RUU Bagi Publik
• Pengesahan KUHP Baru & UU Kesehatan • Penyelesaian RUU Krusial (misal: Perampasan Aset)
│
▼
3. HASIL DAN ARAH PERBAIKAN
┌─────────────────────────────────────────────────────────────────────────────┐
│ • Penguatan Reformasi Hukum Nasional Berbasis Perlindungan Warga Negara │
│ • Peningkatan Akuntabilitas dan Kualitas Prosedur Pembentukan Undang-Undang │
└─────────────────────────────────────────────────────────────────────────────┘
3. Matriks Capaian Utama vs. Catatan Evaluasi Kritis
| Dimensi | Capaian Kunci (Landmark Legislation) | Catatan Evaluasi & Tantangan Parlemen |
| Proteksi Gender & HAM | Mengesahkan UU TPKS (UU No. 12/2022) dan UU KIA (UU No. 4/2024) yang memberikan payung hukum bagi korban kekerasan seksual serta hak ibu dan anak. | Konsistensi penegakan hukum di tingkat turunan (PP/Perpres) serta pengawasan implementasi di daerah. |
| Reformasi Hukum Pidana | Mengesahkan KUHP Nasional (UU No. 1/2023) untuk menggantikan KUHP warisan kolonial Belanda. | Adanya pasal-pasal krusial yang masih memicu perdebatan publik terkait kebebasan berpendapat. |
| Partisipasi Publik | Mendorong pelibatan akademisi, NGO, dan kelompok sipil dalam RUU kontekstual. | Kecepatan pembentukan UU pada RUU tertentu yang terkadang dinilai minim durasi uji publik. |
| RUU Tunggakan/Prioritas | Menyelesaikan puluhan RUU akumulatif pada tiap periode sidang. | Penyelesaian RUU berdampak sistemik yang dinanti publik, seperti RUU Perampasan Aset. |
4. Keuntungan Strategis dan Arah Perbaikan Kinerja Legislasi
Evaluasi terhadap kepemimpinan legislasi DPR memberikan pijakan strategis untuk perbaikan tata kelola hukum ke depan:
- Kepastian Hukum Berorientasi Kesejahteraan: Produk hukum yang dihasilkan lebih berfokus pada jaminan sosial, perlindungan perempuan, dan kepastian hukum rakyat kecil.
- Penguatan Mitigasi Judicial Review: Peningkatan keterbukaan publik sejak fase perancangan (drafting) meminimalkan pembatalan pasal oleh Mahkamah Konstitusi.
- Peningkatan Akuntabilitas Parlemen: Pengukuran keberhasilan yang tidak lagi terpaku pada kuantitas angka RUU mendorong fokus pada bobot efektivitas dan implementabilitas undang-undang.
Penulis:Helen