Suara gesekan logam memecah keheningan di sebuah bengkel sederhana di Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Di depan rumahnya, Hashilatun Nasifah menggerakkan kikir tradisional di atas sebilah keris yang tengah ia garap. Perempuan 25 tahun yang akrab disapa Sisil itu merupakan salah satu dari enam empu keris perempuanâdari total 446 perajin keris di Desa Aeng Tongtongâyang dikenal sebagai sentra pembuatan keris Madura. Pada 2022, desa ini memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai desa wisata dengan jumlah empu keris terbanyak.
Pilihan hidup Sisil terbilang tidak biasa. Setelah menamatkan sekolah penerbangan di Sidoarjo, ia sempat bekerja sebagai petugas ticketing dan kargo di Bandara Juanda. Namun, beberapa tahun lalu, ia memutuskan pulang ke kampung halaman dan menekuni profesi yang telah diwariskan keluarganya selama bergenerasi-generasi, yakni membuat keris. âSebagai keturunan seorang empu, tentunya sejak kecil saya sudah tidak asing lagi dengan keris. Karena dunia keris merupakan aktivitas turun-temurun dalam keluarga,â kata Sisil. Menurutnya, keris memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar benda pusaka. âDan kuatnya nilaiânilai yang ada dalam keris terus ditanamkan pada saya akhirnya muncul ketertarikan saya, bagaimana saya bisa melanjutkan aktivitas pembuatan keris,â ujarnya.
Bagi Sisil, setiap keris menyimpan filosofi, harapan, dan doa. Nilaiânilai itu jugalah yang memantapkan dirinya menjadi penerus tradis. Ia belajar menumbuk batu bara, memanaskan logam, dan menentukannya menjadi senjata yang memancarkan energi spiritual. Prosesnya memerlukan ketelitian tinggi, ketekunan, dan rasa hormat terhadap warisan leluhur. Ia tidak hanya menyalurkan bakatnya, tetapi juga menjaga agar makna keris tetap hidup di tengah modernitas yang terus berubah.
Kerajinan Keris di Desa Aeng Tongtong
Desa Aeng Tongtong telah lama dikenal sebagai pusat pembuatan keris Madura. Di antara 446 perajin keris, Sisil menempati posisi yang unik sebagai salah satu empu keris perempuan. Kehadiran perempuan dalam dunia keris, yang selama ini didominasi oleh lakiâlaki, menambah warna baru pada tradisi yang kaya. Setiap hari, di bengkel kecil yang sederhana, suara logam yang berderak menjadi melodi yang menenangkan. Kerajinan ini tidak hanya menghasilkan barang seni, tetapi juga memelihara nilai budaya dan identitas lokal.
Keberhasilan desa ini dalam memperebutkan penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia pada tahun 2022 menegaskan bahwa kualitas dan kuantitas keris yang dihasilkan di Aeng Tongtong memang luar biasa. Kegiatan ini juga menjadi daya tarik wisata, memikat pengunjung dari berbagai daerah untuk menyaksikan proses pembuatan keris secara langsung. Sisil, dengan keterampilannya, sering menjadi sorotan dalam setiap kunjungan, menampilkan keahlian yang telah diwariskan melalui generasi.
Perjalanan Sisil dari Bandara ke Bengkel Keris
Keputusan Sisil untuk kembali ke kampung halaman bukanlah keputusan yang mudah. Setelah menempuh pendidikan penerbangan, ia bekerja di Bandara Juanda, sebuah tempat yang berdenyut dengan aktivitas penerbangan. Namun, rasa rindu akan tanah kelahirannya dan keinginan untuk melanjutkan warisan keluarga membuatnya memilih jalur yang berbeda. Ia menyadari bahwa keris bukan sekadar alat, melainkan simbol kebanggaan dan identitas budaya Sumenep.
Setelah memutuskan untuk kembali, Sisil memulai proses belajar yang intensif. Ia belajar mengolah logam, menyiapkan bahan, dan mengasah kikir tradisional. Meskipun masih baru, ia menunjukkan bakat yang luar biasa. Keris yang ia hasilkan memancarkan keindahan dan keunikan yang khas, sehingga mendapat perhatian tidak hanya dari masyarakat lokal, tetapi juga dari para kolektor keris.
Peran Sisil dalam Mengangkat Status Empu Keris Perempuan
Keberadaan Sisil sebagai empu keris perempuan membawa dampak positif bagi komunitas. Ia menjadi contoh bagi perempuan muda di Sumenep bahwa mereka juga dapat berkontribusi dalam bidang yang sebelumnya dianggap eksklusif lakiâlaki. Dengan keterampilannya, Sisil membantu memperluas jaringan pemasaran keris, membuka peluang kerja bagi para pengrajin muda, dan menambah nilai ekonomi bagi desa.
Selain itu, Sisil aktif mengajarkan teknik pembuatan keris kepada generasi berikutnya. Ia menyadari pentingnya mentransfer pengetahuan agar tradisi ini tidak hilang. Melalui workshop dan pelatihan, ia memastikan bahwa nilai-nilai budaya tetap terjaga dan terus berkembang. Ini juga membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya di kalangan masyarakat muda.
Dampak Sosial dan Budaya
Perubahan yang dibawa oleh Sisil tidak hanya terlihat di tingkat ekonomi, tetapi juga di tingkat sosial dan budaya. Dengan menumbuhkan rasa bangga terhadap keris, masyarakat Aeng Tongtong semakin menghargai warisan leluhur. Aktivitas pembuatan keris menjadi ajang pengumpulan cerita, tradisi, dan nilai spiritual yang diwariskan secara turun-temurun. Hal ini memperkuat ikatan sosial antarwarga dan memperkuat identitas lokal.
Di sisi lain, keberhasilan Sisil juga menarik perhatian media nasional. Ia sering diundang untuk tampil dalam acara televisi dan radio, yang menambah eksposur bagi keris Aeng Tongtong. Penampilan ini juga menjadi ajang promosi bagi pariwisata Sumenep, memperkenalkan keunikan keris Madura ke khalayak luas. Dengan begitu, Sisil tidak hanya menjadi perajin, tetapi juga duta budaya yang melampaui batas tradisi.
Kesempatan dan Tantangan di Masa Depan
Meski telah mencapai banyak prestasi, Sisil masih menghadapi tantangan. Ketersediaan bahan baku, persaingan pasar, dan kebutuhan akan inovasi dalam desain keris menjadi hal yang harus dihadapi. Namun, dengan tekad dan dukungan komunitas,
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c0lrwl9dxn9o?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.