Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Ketika Perea berhenti menanam koka, bahan baku yang digunakan untuk membuat kokain, petani di Provinsi Meta, Kolombia, ini bersumpah untuk tidak pernah menanamnya lagi. Parea mencabut semak-semak hijau di lahan pertanian kecilnya di sudut terpencil Kolombia, yang hanya dapat diakses melalui sungai. Saat itu laki-laki paruh baya ini mengganti tanaman koka dengan tanaman legal, seperti singkong dan pisang. Perea adalah satu dari ribuan petani Kolombia yang bergabung dengan program penggantian tanaman yang dijalankan pemerintah setempat.
Momen Penentu di Menit Akhir
Namun, belakangan sebagian besar bantuan yang dijanjikan pemerintah tidak pernah diterima oleh para petani. Infrastuktur jalan yang minim dan banjir yang berulang membuat para petani sulit untuk menjual hasil panen tanaman baru mereka. Pada tahun 2024, karena kecewa, Parea mulai menanam koka lagi. “Tetapi ketika Anda memiliki anak dan tidak ada pekerjaan, pilihan apa yang Anda miliki? Jika tidak ada bantuan yang pernah datang, Anda kembali menanamnya,” tuturnya.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Penanaman koka berada pada tingkat rekor lebih dari 250.000 hektare. Banyak warga Kolombia yang mengikuti program substitusi pertanian kecewa pada pemerintah. Elena Hernández, misalnya, pindah ke wilayah penghasil koka di Guaviare saat tanaman ini mencuat pada dekade 1990-an. Dia tergiur mendapatkan upah yang lebih layak. “Dulu ada lebih banyak uang. Anda bisa melihatnya di mana-mana,” kata Elena. “Saya berhasil menabung dan membeli rumah kecil,” tuturnya.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Ketika program substitusi nasional digelar pemerintah Kolombia pada 2017, Elena Hernández sangat ingin mendaftar. Dia lalu bergabung dengan sekitar 100 ribu keluarga yang dijanjikan pemerintah akan mendapat dukungan keuangan sebagai imbalan untuk meninggalkan tanaman koka. Akhirnya, pemerintah bilang akan menyalurkan uang itu selama dua tahun. “Cara program ini disajikan kepada kami tampak sangat menjanjikan untuk pengembangan wilayah kami,” kata Elena. Namun, industri koka juga memicu kekerasan dan ketidakamanan. Kelompok bersenjata memperebutkan kendali atas perdagangan koka, sementara pemerintah berusaha mengekang produksi melalui pemberantasan manual, fumigasi udara, dan kriminalisasi petani. **Pembuka** Petani di Kolombia tidak bisa berhenti menanam koka karena kebutuhan hidup mereka. Tanaman ini adalah sumber pendapatan mereka, dan mereka tidak memiliki pilihan lain. Pemerintah Kolombia telah mencoba memecahkan masalah ini dengan program penggantian tanaman, tetapi hasilnya belum memuaskan. **Mengapa & Dampak** Ketika program substitusi pertanian dijalankan, petani Kolombia dijanjikan akan mendapat dukungan keuangan sebagai imbalan untuk meninggalkan tanaman koka. Namun, sebagian besar bantuan yang dijanjikan tidak pernah diterima oleh para petani. Infrastuktur jalan yang minim dan banjir yang berulang membuat para petani sulit untuk menjual hasil panen tanaman baru mereka. Akibatnya, penanaman koka berada pada tingkat rekor lebih dari 250.000 hektare. **Penutup** Kolombia masih menghadapi masalah penanaman koka. Pemerintah harus memastikan bahwa bantuan yang dijanjikan kepada petani benar-benar diterima dan bahwa mereka memiliki akses ke pasar untuk menjual hasil panen mereka. Jika tidak, petani Kolombia akan terus menanam koka untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cdj0g9p7je0o?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.