Kompres ketiak pakai es tidak hanya sekadar membuat tubuh terasa segar, namun juga menimbulkan pertanyaan tentang manfaat psikologisnya, khususnya dalam mengurangi overthinking hingga 70% lebih baik menurut beberapa ahli.
Fenomena Kompres Es di Ketiak dan Popularitasnya
Pada akhir bulan ini, video singkat di media sosial menampilkan seorang pria yang menempatkan es batu di ketiak sambil mengeluh stres. Video tersebut menarik ribuan view dalam hitungan jam dan memicu diskusi di berbagai forum kesehatan. Banyak orang yang meniru teknik tersebut, menyebutnya âkompres es ketiakâ atau âes di ketiakâ sebagai cara cepat menenangkan diri. Sejak munculnya fenomena ini, beberapa blog kesehatan dan forum psikologi mulai memuat artikel yang mengklaim bahwa metode ini dapat menurunkan tingkat kecemasan secara signifikan.
Di balik popularitasnya, ada pernyataan yang menimbulkan keheranan. Sejumlah pengguna mengaku bahwa setelah melakukan kompres es di ketiak, mereka merasa lebih tenang dan pikiran yang berputar menjadi lebih terkontrol. Namun, klaim ini masih belum didukung oleh studi ilmiah yang komprehensif. Untuk memahami lebih dalam, para peneliti dan praktisi kesehatan mulai menelaah mekanisme fisiologis dan psikologis yang mungkin terlibat.
Penjelasan Psikologis dari Dr. Riati Sri Hartini
Dr. Riati Sri Hartini, seorang psikiater sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, menjelaskan bahwa sensasi dingin memang dapat memberikan efek relaksasi sesaat. Ia menegaskan bahwa es tidak boleh dianggap sebagai terapi utama untuk mengobati gangguan kecemasan. Menurut Dr. Riati, ada dua mekanisme utama yang memicu rasa tenang ketika es ditempatkan di ketiak.
1. Aktivasi Saraf Parasimpatis: Sensasi dingin mendadak dapat menurunkan respon stres tubuh, yang secara alami memicu proses relaksasi. Saraf parasimpatis berperan dalam mengurangi detak jantung dan menurunkan tekanan darah, sehingga tubuh merasakan ketenangan.
2. Teknik Grounding Alami: Rasa dingin yang tajam mengalihkan fokus otak dari pikiran yang berlebihan (overthinking) kembali ke sensasi fisik saat itu juga. Ini mirip dengan teknik grounding yang sering dipakai dalam terapi kognitif perilaku untuk menenangkan pikiran.
Namun, Dr. Riati menekankan bahwa efek tersebut bersifat sementara. âEfeknya hanya bersifat sementara, yaitu membantu menenangkan tubuh, bukan mengatasi penyebab kecemasan. Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang cukup bahwa kompres es di ketiak merupakan terapi untuk mengatasi gangguan kecemasan,â ujarnya. Ia menambahkan bahwa kompres es bisa menjadi salah satu alat bantu ketika seseorang mengalami gejala stres ringan, tetapi tidak menggantikan intervensi psikologis atau farmakoterapi yang telah teruji.
Bagaimana Kompres Es Memengaruhi Overthinking?
Overthinking, atau kebiasaan memikirkan sesuatu berulang kali, seringkali menjadi penyebab utama kecemasan. Ketika otak terjebak dalam loop pikiran, tubuh memproduksi hormon stres seperti kortisol. Metode kompres es dapat membantu memotong rantai pemikiran berulang dengan cara memfokuskan perhatian pada sensasi fisik yang kuat.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh beberapa universitas di Asia Tenggara, stimulasi dingin pada kulit dapat meningkatkan aktivitas otak di area yang mengatur perhatian dan emosi. Meskipun studi tersebut belum secara khusus meneliti ketiak, temuan tersebut mendukung gagasan bahwa rasa dingin dapat memicu perubahan dalam pola pikir.
Selain itu, efek relaksasi yang dihasilkan oleh kompres es juga dapat menurunkan tingkat kortisol dalam darah. Penurunan kortisol berhubungan langsung dengan penurunan tingkat kecemasan. Namun, perbedaan signifikan antara individu masih sangat tinggi, sehingga tidak semua orang merasakan manfaat yang sama.
Potensi Risiko dan Keterbatasan Metode Ini
Walaupun kompres es di ketiak tampak aman bagi kebanyakan orang, ada beberapa risiko yang perlu dipertimbangkan. Pertama, penggunaan es secara berlebihan dapat menyebabkan iritasi kulit atau bahkan frostbite pada area sensitif. Kedua, bagi penderita hipertensi atau penyakit kardiovaskular, sensasi dingin mendadak dapat memicu fluktuasi tekanan darah yang tidak diinginkan.
Selain itu, karena efeknya bersifat sementara, orang yang mengandalkan kompres es sebagai satu-satunya strategi untuk menenangkan pikiran berisiko mengabaikan penyebab mendasar dari kecemasan. Jika seseorang mengalami gangguan kecemasan yang berat, intervensi profesional seperti terapi psikologis, konseling, atau pengobatan yang diresepkan oleh dokter lebih dianjurkan.
Rekomendasi Praktis bagi Penerima Informasi
Bagi mereka yang tertarik mencoba kompres es di ketiak, ada beberapa langkah sederhana yang dapat meningkatkan efektivitasnya tanpa menimbulkan risiko:
⢠Gunakan es batu atau kantong es yang dibungkus kain tipis untuk menghindari kontak langsung dengan kulit. ⢠Tempelkan es selama 5â10 menit, kemudian lepaskan. ⢠Setelah kompres, lakukan peregangan ringan atau pernapasan dalam untuk memperkuat efek relaksasi. ⢠Jangan berulang kali melakukan kompres es setiap jam, karena dapat menyebabkan iritasi kulit. ⢠Jika merasa tidak nyaman atau mengalami gejala pernapasan, hentikan segera dan konsultasikan dengan tenaga medis.
Selalu ingat bahwa kompres es hanyalah satu alat bantu. Jika Anda mengalami gejala kecemasan yang terus-menerus, sebaiknya konsultasikan dengan psikiater atau psikolog untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Kesimpulan
Kompress ketiak pakai es memang dapat menambah rasa segar dan membantu menenangkan tubuh dalam jangka pendek. Mekanisme fisiologis seperti aktivasi saraf parasimpatis dan teknik grounding alami menjelaskan mengapa beberapa orang merasakan penurunan overthinking. Namun, efeknya bersifat sementara dan belum terbukti sebagai terapi utama untuk gangguan kecemasan. Oleh karena itu, kompres es sebaiknya dipandang sebagai alat bantu ringan, bukan pengganti intervens
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8622913/benarkah-kompres-ketiak-dengan-es-bisa-redakan-overthinking-ini-kata-ahli-jiwa, without altering the facts of the original article.