**Korban Jiwa di Sikundo: Warga Harus Berhati-Hati** **Momen Penentu di Menit Akhir** Ketiadaan jembatan yang memadai membuat warga Dusun Sarah Sare dan Dusun Durian terpaksa mengandalkan jembatan kabel sebagai satu-satunya akses penghubung. Dengan berpegangan pada kabel baja, warga melangkah perlahan di atas sungai yang arusnya dapat berubah sewaktu-waktu. Risiko yang mereka hadapi bukan perkara kecil. Setiap kali menyeberang, keselamatan menjadi taruhan. **Mengapa & Dampak** Keberadaan jembatan kabel tidak hanya berdampak pada keselamatan warga, tetapi juga pada kualitas pendidikan. Anak-anak harus melewati jalur tersebut untuk menuntut ilmu, sementara para guru harus menyeberang demi menjalankan tugas pendidikan. Para orang tua pun menggunakan akses yang sama untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. Kisah Ruqiah, seorang guru bakti yang harus menggendong putrinya sambil meniti kabel baja, seharusnya tidak hanya dipandang sebagai cerita perjuangan yang mengharukan. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** – Jembatan gantung yang dibangun pada 2024 telah hanyut diterjang banjir bandang pada November 2025. – Sejak saat itu, warga kembali mengandalkan jembatan kabel. – Kegiatan belajar mengajar bahkan harus dipindahkan dari gedung SD Swasta Sikundo di Dusun Sarah Sare ke Balai Polindes di Dusun Durian. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, dan Pemerintah Aceh Barat tidak seharusnya membiarkan kondisi ini berlarut-larut. Pembangunan jembatan yang aman dan permanen harus menjadi prioritas, bukan sekadar rencana yang terus menunggu proses administrasi. Pemerintah harus hadir sebelum bencana terjadi, bukan sekadar datang setelah musibah menelan korban. Jika pembangunan jembatan permanen membutuhkan waktu, maka pemerintah harus menyediakan akses sementara yang lebih aman dan memenuhi standar keselamatan. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Pembangunan jembatan yang aman dan permanen tidak bisa dipungkiri akan membutuhkan perencanaan, kajian teknis, serta dukungan anggaran. Namun, ketika masyarakat setiap hari menghadapi risiko kecelakaan dan kehilangan nyawa, pemerintah juga dituntut untuk menunjukkan kecepatan, keberpihakan, dan keberanian dalam mengambil keputusan. Persoalan Sikundo tidak boleh dibiarkan menjadi cerita rutin yang hanya muncul ketika ada liputan media. Pemerintah perlu segera turun ke lapangan, memastikan kondisi warga secara langsung, serta menyusun langkah penanganan yang jelas dan terukur. Pemerintah perlu menyediakan akses sementara yang lebih aman dan memenuhi standar keselamatan untuk warga yang terus mengandalkan jembatan kabel. Warga tidak boleh terus dibiarkan menanggung risiko hanya karena pembangunan jembatan belum masuk dalam prioritas anggaran. Kita juga mengajak DPR Aceh, DPRK Aceh Barat, para wakil rakyat asal daerah pemilihan setempat, serta seluruh pemangku kepentingan untuk ikut mengawal penyelesaian persoalan ini. Pemerintah harus menunjukkan kecepatan, keberpihakan, dan keberanian dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan persoalan jembatan Sikundo. Warga tidak boleh terus dibiarkan menanggung risiko hanya karena pembangunan jembatan belum masuk dalam prioritas anggaran. Semoga pemerintah akan segera menyelesaikan persoalan ini dan menyediakan akses yang lebih aman bagi warga.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://aceh.tribunnews.com/editorial/1036544/jangan-tunggu-korban-jiwa-di-sikundo, without altering the facts of the original article.