Korban kasus kekerasan seksual di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) mengajukan keberatan kepada Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia terkait sanksi yang dijatuhkan kepada para pelaku. Mereka menilai sanksi yang diberikan belum mencerminkan beratnya perbuatan dan dampak yang dialami korban. Kasus ini melibatkan 16 pelaku yang dilaporkan melakukan kekerasan seksual melalui grup WhatsApp, dengan 15 orang di antaranya dinyatakan terbukti melakukan pelanggaran.
Kronologi Kasus Kekerasan Seksual di FH UI
Kasus kekerasan seksual ini terjadi di lingkungan FH UI dan melibatkan 16 pelaku yang dilaporkan melakukan kekerasan seksual melalui grup WhatsApp. Berdasarkan hasil pemeriksaan, 15 orang di antaranya dinyatakan terbukti melakukan pelanggaran. Sanksi yang diberikan berupa skors akademik, dengan tiga orang dikenakan skors selama 3 semester, tujuh orang skors selama 2 semester, dan empat orang skors selama 1 semester. Satu terlapor lainnya dikenakan sanksi administratif ringan.
Mengapa Kasus Ini Penting?
Kasus ini bukanlah pelanggaran etik biasa, melainkan sebuah rangkaian kekerasan seksual berbasis digital yang berkelindan dengan kekerasan psikis dan perundungan. Kekerasan ini dilakukan secara kolektif dan berulang melalui ruang percakapan digital. Korban menilai bahwa sanksi yang dijatuhkan belum cukup memberikan rasa aman dan perlindungan dari risiko reviktimisasi di lingkungan kampus. Apalagi sebagian korban dan pelaku masih berada dalam lingkungan akademik yang sama.
Dampak dan Tindakan Selanjutnya
Korban berharap Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia dapat memeriksa keberatan ini secara objektif dan memastikan adanya putusan yang lebih adil, proporsional, serta berpihak pada kepentingan terbaik bagi korban dan jaminan ketidakberulangan kekerasan di lingkungan kampus. Kasus ini juga menyoroti pentingnya penanganan kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan tinggi dan perlunya tindakan yang lebih efektif untuk mencegah dan menangani kasus serupa di masa depan.
Kedepannya, diharapkan Universitas Indonesia dapat meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus, serta memberikan dukungan yang lebih baik kepada korban. Dengan demikian, diharapkan kasus serupa tidak akan terjadi lagi di masa depan.