Seorang pria berusia sekitar 50 tahun itu bergegas keluar dari gate Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. “Kita langsung ke masjid,” katanya kepada penjemputnya. Sopir yang mengantar juga sudah paham kebiasaanya. Dari pesawat, langsung ke masjid. Tujuannya Masjid Al-Mukhlishin di kompleks bandara. Pas berhadapan dengan Patung Sultan Hasanuddin. Magrib telah lewat. Isya pun telah masuk.
Momen Penentu di Menit Akhir
Tujuannya adalah untuk menjamak ta’khir Magrib dengan Isya. Tetapi langkahnya berhenti di depan pintu masjid. Tangannya bergerak memegang besi putih melengkung di tengah daun pintu kayu. Diputar. Tak bergeming. Diplintir. Tak mempan. Terkunci. Dia mencoba pintu lain. Pun sama. Terkunci. Berpindah lagi. Kali ini ke pintu depan. Terkunci juga. Dia tidak putus asa. Di mencoba masuk lewat dua pintu dari samping kiri. Dari arah tempat wudhu dan toilet. Juga sama. Terkunci. Enam pintu masuk masjid malam itu tidak dapat dibuka.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Ruang utama gelap gulita. Lelaki berusia sekitar 50 tahun itu mulai kesal. âMasjid ini sudah kehilangan fungsi sosialnya,â teriaknya. Suara itu memecah kesunyian teras. Beberapa lelaki yang sedang duduk ikut menyahut. âKami juga mau masuk shalat tadi, Pak. Terkunci semua. Sejak jam sembilan malam sudah terkunci dan dimatikan lampunya.â Mereka akhirnya hanya duduk di teras. Di depan mereka kendaraan keluar-masuk. Lampu jalan menyala. Kawasan bandara masih hidup. Tetapi masjid sudah tidur.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Kejadian ini menunjukkan bahwa Masjid Al-Mukhlishin di kompleks bandara telah kehilangan fungsi sosialnya. Masjid yang seharusnya menjadi tempat ibadah dan pertemuan bagi masyarakat sekarang telah menjadi tidak tersedia. Ini dapat menyebabkan kesulitan bagi masyarakat yang ingin melakukan shalat atau kegiatan lain di masjid. Selain itu, kejadian ini juga menunjukkan bahwa masjid tidak memiliki prioritas dalam pengelolaan dan perawatan.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Pemerintah dan pengelola bandara harus segera menyikapi kejadian ini. Mereka harus memastikan bahwa masjid dapat dibuka kembali dan berfungsi dengan normal. Selain itu, mereka juga harus melakukan perawatan dan perbaikan pada masjid agar tidak terjadi kejadian serupa di masa depan. Dengan demikian, masyarakat dapat melanjutkan kegiatan ibadah dan sosial di masjid dengan aman dan nyaman.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://makassar.tribunnews.com/news/1845602/catatan-dari-masjid-bandara-hasanuddin-semua-pintu-tekunci-rapat-lampu-dimatikan, without altering the facts of the original article.