Maybank Tetap Optimis, Target IHSG 8.400 Akhir 2026 Meski MSCI Tahan Kenaikan Bobot
Berita Hari Ini β 27 April 2026 | Jakarta β Maybank Sekuritas menegaskan kembali proyeksi kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level 8.400 pada akhir 2026 meskipun Morgan Stanley Capital International (MSCI) memperpanjang kebijakan freeze terhadap bobot saham Indonesia. Keputusan MSCI, yang disebut “asymmetric freeze”, menahan peningkatan bobot indeks namun tetap memungkinkan penurunan, menimbulkan dinamika baru bagi aliran dana global.
Ruang Gerak di Tengah Kebijakan MSCI
Keputusan MSCI untuk menunda evaluasi peningkatan bobot hingga Mei 2026 memicu kekhawatiran tentang terbatasnya inflow dana asing. Namun, Jeffrosenberg Chenlim, Head of Research Maybank Sekuritas, menilai kebijakan ini tidak serta-merta menutup peluang pertumbuhan. Ia menyoroti bahwa meski aliran dana teknikal terhambat, fundamental perusahaan tetap kuat, memberi ruang bagi investor yang fokus pada nilai intrinsik.
Sektor Energi Menjadi Sorotan
Di sektor energi, dua emiten utama diprediksi mendapat manfaat dari ketatnya pasokan batu bara global. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Indika Energy Tbk. (INDY) diperkirakan akan melihat margin yang lebih tinggi karena harga komoditas yang menguat. Chenlim menambahkan bahwa kebijakan pemerintah yang mendukung energi terbarukan juga memberi peluang tambahan bagi perusahaan yang beralih ke sumber energi bersih.
Telekomunikasi dan Sinergi Merger
Sektor telekomunikasi tidak kalah menarik. Saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) berada pada radar investor karena potensi sinergi dari merger yang sedang direncanakan. Integrasi jaringan dan layanan digital diharapkan meningkatkan efisiensi operasional serta profitabilitas dalam jangka menengah.
Bank dengan Valuasi Menarik
Di bidang perbankan, PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) menonjol sebagai pilihan yang masih relatif murah dibandingkan bank-bank besar lainnya. Fundamental BBNI tetap solid, dengan rasio kecukupan modal yang kuat dan jaringan distribusi yang luas, menjadikannya kandidat utama bagi alokasi dana defensif.
Dukungan Kebijakan Pemerintah
Program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang bagi perusahaan agribisnis, khususnya PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JFPA). Peningkatan permintaan produk pangan bergizi diharapkan memperkuat pendapatan JFPA dalam beberapa tahun ke depan.
Risiko HSC dan Potensi Penurunan Free Float
Walaupun ada peluang, risiko tetap ada. MSCI dapat mengeluarkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari indeks, yang dapat menurunkan estimasi free float. Beberapa saham yang masuk dalam daftar HSC antara lain PT Barito Renewable Energy Tbk. (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA). Investor perlu memantau perkembangan regulasi ini.
Prospek Jangka Panjang dan Reforms
Di sisi lain, langkah reformasi regulator, termasuk peningkatan transparansi dan perbaikan struktur pasar, memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia. Hal ini mengurangi kemungkinan Indonesia turun ke kategori frontier market, yang menjadi faktor positif bagi investor jangka panjang.
- Energi: AADI, INDY
- Telekomunikasi: EXCL
- Perbankan: BBNI
- Agribisnis: JFPA
- Risiko HSC: BREN, DSSA
Kesimpulannya, meski MSCI menahan kenaikan bobot indeks, Maybank Sekuritas tetap optimis dengan target IHSG 8.400 akhir 2026. Investor disarankan untuk menyeimbangkan portofolio antara saham-saham dengan valuasi menarik dan mengawasi risiko terkait konsentrasi kepemilikan tinggi, sambil memanfaatkan peluang sektor-sektor yang diproyeksikan akan mendapat manfaat dari kondisi makroekonomi dan kebijakan pemerintah.