Berita Hari Ini β 07 Mei 2026 | Pakarnya, Dwikorita Karnawati, mengungkapkan pada pertemuan ilmiah kebencanaan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bahwa zona megathrust selatan Jawa kini berada di 30 tahun terakhir siklus Megathrust 200 Tahun. Penelitian tersebut bukan prediksi tanggal pasti, melainkan dasar ilmiah untuk memperkuat strategi mitigasi bencana di wilayah rawan.
tiga zona rawan masuk fase kritis
Menurut temuan terbaru, tiga daerah yang secara historis menjadi sumber energi tektonik megathrust telah memasuki fase kritis dalam siklus 200 tahunan. Daerahβdaerah tersebut meliputi:
- Pulau Siberut, bagian barat Sumatera, yang selama berabadβabad menyimpan potensi pelepasan energi tektonik besar.
- Selat Sunda bagian selatan, lintasan utama antara Jawa dan Sumatera yang pernah menjadi jalur gempa megathrust bersejarah.
- Wilayah selatan Pulau Jawa, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang kini berada dalam zona tekanan tinggi.
Keberadaan ketiga zona ini menegaskan perlunya kesiapsiagaan berkelanjutan, terutama mengingat potensi gempa megathrust dengan magnitudo hingga 8,7.
Bandara Internasional Yogyakarta sebagai pusat mitigasi
Pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) dijadikan contoh konkret upaya mitigasi. Bandara dirancang tidak hanya sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai fasilitas penanggulangan bencana. Struktur bangunan mampu menahan guncangan hingga magnitudo 8,7, mengacu pada skenario terburuk megathrust di wilayah selatan Jawa.
Desain khusus meliputi:
- Timbunan tanah setinggi 7β10β―meter untuk mengurangi dampak tsunami, dengan perkiraan ketinggian gelombang potensial lebih dari 10β―meter.
- Area mezzanine dan lantai dua yang difungsikan sebagai zona evakuasi, mampu menampung sekitar 10.000 orang.
- Fasilitas crisis center di menara bandara dengan kapasitas penampungan sekitar 2.000 jiwa.
- Sistem peringatan dini, sirine di underpass, serta pintu palang otomatis yang menutup secara otomatis saat terjadi gempa.
Studi banding ke Jepang, khususnya kota Sendai yang pernah mengalami gempa megathrust, menjadi acuan utama dalam perencanaan. Hasilnya, meski bandara di Sendai mengalami kerusakan struktural, tidak ada korban jiwa karena sistem mitigasi yang matang.
Langkah kesiapsiagaan daerah DIY
BPBD DIY secara aktif menggelar pelatihan dan simulasi evakuasi secara periodik. Masyarakat dilibatkan dalam program edukasi kebencanaan berkelanjutan, termasuk penyuluhan mengenai jalur evakuasi ke bandara dan penggunaan aplikasi peringatan dini. Upaya ini memperkuat koordinasi antarβinstansi, sehingga respons tanggap darurat dapat berlangsung cepat dan terorganisir.
Selain itu, pemerintah daerah telah menyiapkan protokol penutupan jalan utama dan pengalihan transportasi ketika skenario gempa megathrust terdeteksi. Infrastruktur pendukung seperti jaringan listrik darurat, pasokan air bersih, dan pusat medis sementara juga telah dipetakan.
Implikasi bagi kebijakan nasional
Penelitian Megathrust 200 Tahun menegaskan perlunya integrasi kebijakan mitigasi di tingkat nasional. Pemerintah pusat diharapkan menyesuaikan standar konstruksi bangunan publik, memperluas jaringan sensor seismik, serta meningkatkan kapasitas tim tanggap darurat di daerahβdaerah berpotensi tinggi.
Secara keseluruhan, meski tidak ada kepastian kapan gempa besar akan terjadi, fakta bahwa tiga zona utama telah memasuki fase akhir siklus 200 tahunan menjadi peringatan penting. DIY, dengan bandara internasional yang berperan ganda, menunjukkan contoh bagaimana infrastruktur modern dapat berkontribusi pada kesiapsiagaan wilayah. Upaya berkelanjutan dalam edukasi, pelatihan, dan pembangunan berbasiskan risiko tetap menjadi kunci mengurangi dampak potensial bencana megathrust di masa depan.