Surabaya menjadi pusat perhatian pada hari Minggu, 23 Agustus 2026, ketika Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, memberikan pengarahan di konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur. Ia menegaskan pentingnya Surabaya dalam sejarah perjuangan dan pembentukan pemikiran Presiden pertama RI, Sukarno, yang pernah menyebut kota ini sebagai “Dapur Nasionalisme”.
Menggali Warisan Sejarah Surabaya
Megawati menyoroti fakta bahwa Sukarno lahir, dibesarkan, dan tumbuh di Jawa Timur. Surabaya, Mojokerto, dan Blitar menjadi latar belakang perjalanan hidupnya, menandai kota ini sebagai tempat kelahiran ideologi nasionalisme Indonesia. Ia mengingatkan bahwa Sukarno menamatkan pendidikan di HBS (Hoogere Burgerschool) di Surabaya dan belajar di bawah bimbingan H.O.S. Tjokroaminoto. Meskipun bersaing dengan keterbatasan fasilitas, Sukarno tinggal di ruang sempit tanpa jendela, hanya dengan lampu teplok sebagai penerang. Dari tempat sederhana itu, ia menyalurkan semangat nasionalisme yang kemudian menjadi landasan bagi perjuangan kemerdekaan.
Surabaya juga dikenal sebagai tempat lahirnya peristiwa penting dalam sejarah Indonesia, seperti Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, yang menegaskan komitmen rakyat terhadap kemerdekaan. Megawati menekankan bahwa kota ini tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga tempat berakar ideologi nasionalisme yang mempengaruhi generasi berikutnya.
Perayaan Hari Kemerdekaan dengan Festival Sejarah
Untuk memperingati Hari Kemerdekaan, Megawati mengusulkan agar Surabaya menggelar festival sejarah yang menampilkan rekonstruksi peristiwa bersejarah dan penampilan seni tradisional. Festival ini akan menampilkan peran Surabaya sebagai “Dapur Nasionalisme” serta kontribusi Sukarno dalam membentuk identitas nasional. Dengan melibatkan berbagai lembaga budaya dan pendidikan, festival tersebut diharapkan dapat memperkuat rasa kebanggaan warga Surabaya terhadap warisan sejarahnya.
Festival ini juga direncanakan menjadi ajang promosi bagi kota Surabaya sebagai destinasi wisata sejarah. Melalui pameran artefak, pertunjukan drama, dan kuliner khas, pengunjung akan mendapatkan pengalaman belajar yang mendalam tentang perjuangan kemerdekaan dan peran penting Surabaya dalam proses tersebut.
Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Surabaya
Dengan mengangkat Surabaya sebagai “Dapur Nasionalisme”, megawati berharap dapat meningkatkan kesadaran sejarah di kalangan generasi muda. Penekanan pada warisan sejarah ini dapat memperkuat identitas daerah dan mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pelestarian budaya. Selain itu, festival sejarah dapat menambah jumlah pengunjung, yang pada gilirannya meningkatkan pendapatan daerah melalui sektor pariwisata dan pelestarian sejarah.
Inisiatif ini juga dapat mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta. Melalui kerja sama ini, Surabaya dapat menjadi contoh bagi kota lain dalam memanfaatkan warisan sejarah sebagai alat pembangunan sosial dan ekonomi. Peningkatan kesadaran sejarah juga dapat memicu inovasi dalam bidang pendidikan dan seni, yang pada akhirnya akan memperkaya kehidupan sosial masyarakat.
Kesimpulan
Surabaya, sebagai “Dapur Nasionalisme” yang pernah diungkapkan oleh Sukarno, kini menjadi pusat perhatian melalui inisiatif Megawati Soekarnoputri. Dengan menggelar festival sejarah, kota ini tidak hanya memperingati Hari Kemerdekaan, tetapi juga memperkuat identitas nasional dan meningkatkan daya tarik wisata. Langkah ini diharapkan membawa dampak positif bagi pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya Surabaya.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://nasional.tempo.co/read/2118167/megawati-surabaya-adalah-dapur-nasionalisme-bung-karno, without altering the facts of the original article.