Nama Dr. Ir. Dadan Hindayana, M.Si. sempat menjadi sorotan utama dalam panggung birokrasi dan kebijakan publik Indonesia. Dikenal luas sebagai seorang akademisi tulen dan pakar di bidang entomologi (ilmu yang mempelajari tentang serangga) dari Institut Pertanian Bogor (IPB), perjalanan hidupnya berubah drastis ketika ia dipercaya memimpin sebuah lembaga baru yang sangat krusial bagi masa depan generasi muda bangsa: Badan Gizi Nasional (BGN).
Sebagai Kepala BGN pertama, Dadan memikul tanggung jawab besar untuk mengeksekusi salah satu program paling ambisius dalam sejarah kebijakan sosial Indonesia, yaitu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, dinamika politik dan tata kelola pemerintahan yang kompleks membawa babak baru dalam hidupnya. Pada pertengahan tahun 2026, posisinya dicopot dan ia harus berhadapan dengan proses hukum di Kejaksaan Agung terkait dugaan korupsi pengadaan dan tata kelola program tersebut.
Artikel ini akan mengulas secara mendalam profil, rekam jejak akademis, transformasi menjadi birokrat, perannya dalam merintis Badan Gizi Nasional, kontroversi yang menyertainya, hingga akhir masa jabatannya yang dramatis.
1. Latar Belakang dan Akar Akademis: Sang Pakar Serangga dari Garut
Dadan Hindayana lahir di Garut, Jawa Barat, pada tanggal 10 Juli 1967. Tumbuh besar di lingkungan Jawa Barat, ketertarikannya terhadap dunia pertanian dan alam membawanya untuk menempuh pendidikan tinggi di salah satu kampus pertanian paling prestisius di Indonesia, yaitu Institut Pertanian Bogor (IPB).
Pendidikan di Dalam dan Luar Negeri
- Strata 1 (S1): Dadan berkuliah di IPB pada rentang tahun 1986 hingga 1990. Ia mengambil jurusan Proteksi Tanaman dengan fokus spesifik pada Hama dan Penyakit Tumbuhan. Dedikasinya di bangku kuliah terbukti dengan keberhasilannya lulus sebagai salah satu lulusan terbaik di jurusannya.
- Strata 2 (S2): Setela memantapkan diri sebagai akademisi dan mulai mengajar, ia melanjutkan studi ke Jerman. Dadan menempuh program Master di bidang Entomologi Terapan di Rheinische Friedrich-Wilhelms-Universität Bonn (Universitas Bonn) dan berhasil lulus pada tahun 1997.
- Strata 3 (S3): Tidak berhenti di situ, ia melanjutkan riset doktoralnya di negara yang sama, tepatnya di Leibniz Universität Hannover (Universitas Hannover). Pada tahun 2000, ia resmi menyandang gelar Doctor rerum horticulturarum (Dr. rer. hort.) dengan spesialisasi entomologi terapan. Fokus risetnya banyak dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah internasional bereputasi.
Pengabdian di Dunia Pendidikan
Kembali ke tanah air, Dadan mendedikasikan sebagian besar hidupnya di dunia akademik. Sejak tahun 1992, ia tercatat sebagai dosen aktif di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB. Di kalangan mahasiswa dan sesama dosen, ia dikenal sebagai ilmuwan yang tekun, tegas, dan memiliki pemahaman mendalam tentang ekologi serangga, pengendalian hama hayati, serta perlindungan tanaman pangan.
Selain mengajar, Dadan juga dipercaya menduduki beberapa posisi struktural penting di luar kampus IPB. Di antaranya, ia pernah menjabat sebagai Direktur Ad-interim Direktorat Kerja Sama IPB (2007–2008). Ia juga memberikan kontribusi signifikan bagi pendidikan di daerah dengan menjadi Ketua Sekolah Tinggi Pertanian Kewirausahaan (STPK) Banau di Halmahera Barat, Maluku Utara, untuk periode 2014–2022. Pengalaman manajerial inilah yang perlahan mengasah kemampuannya dalam mengelola institusi dan program berskala makro.
2. Pintu Masuk ke Birokrasi Nasional: Pembentukan Badan Gizi Nasional
Perubahan besar dalam karier Dadan Hindayana terjadi pada pertengahan tahun 2024. Pemerintah di bawah Presiden Joko Widodo kala itu tengah mempersiapkan transisi kepemimpinan menuju pemerintahan baru. Salah satu agenda utama yang disiapkan adalah penguatan fondasi sumber daya manusia (SDM) melalui perbaikan gizi masyarakat, sebuah visi yang juga menjadi pilar kampanye presiden terpilih berikutnya, Prabowo Subianto.
Untuk mengonsolidasikan program-program pemenuhan gizi yang sebelumnya tersebar di berbagai kementerian (seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, dan Kementerian Pendidikan), pemerintah memutuskan membentuk lembaga struktural baru setingkat kementerian yang dinamakan Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Peraturan Presiden pada Agustus 2024.
Pelantikan yang Unik dan Penuh Tantangan
Pada tanggal 19 Agustus 2024, secara mengejutkan bagi banyak pihak, Presiden Joko Widodo melantik Dadan Hindayana sebagai Kepala BGN yang pertama. Penunjukan seorang ahli serangga (entomolog) untuk memimpin lembaga gizi sempat memicu tanda tanya di ruang publik. Namun, pemerintah berargumen bahwa keahlian Dadan dalam manajemen rantai pasok pangan pertanian, pemenuhan logistik, serta rekam jejak manajerialnya yang bersih di dunia akademik menjadi modal utama untuk membangun lembaga baru ini dari nol.
Dalam sebuah refleksi satu tahun pasca-pelantikannya, Dadan sempat menceritakan betapa menantangnya hari-hari pertamanya sebagai kepala badan.
“Bayangkan saja, saya dilantik sendirian tanpa diantar protokoler, karena memang belum ada pegawai satu pun di Badan Gizi Nasional. Foto pelantikan saya pun diambil langsung dari Sekretariat Negara,” kenang Dadan dalam sebuah acara di Jakarta pada Agustus 2025.
Sebagai pionir, tugas pertama Dadan bukan langsung membagikan makanan, melainkan menyusun struktur organisasi, merekrut personel, menyusun regulasi, dan mengamankan alokasi anggaran yang bernilai puluhan triliun rupiah untuk mendukung jalannya lembaga. Jabatan ini terus diembannya secara mulus saat estafet kepemimpinan nasional berpindah ke tangan Presiden Prabowo Subianto pada Oktober 2024.
3. Mengarsiteki Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Tugas utama dan paling berat yang dipundakkan kepada Dadan Hindayana di BGN adalah mengeksekusi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini menyasar puluhan juta anak sekolah (dari PAUD hingga SMA), santri di pesantren, serta ibu hamil dan menyusui di seluruh pelosok Indonesia.
Di bawah kepemimpinannya, Dadan merumuskan cetak biru (blueprint) pelaksanaan MBG dengan pendekatan berbasis wilayah lokal. Konsep utamanya adalah mendirikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di tingkat kecamatan atau komunitas. SPPG ini berfungsi sebagai dapur pusat (central kitchen) yang memasak, mengemas, dan mendistribusikan makanan segar setiap hari langsung ke sekolah-sekolah terdekat.
Strategi dan Keberhasilan Awal
- Multiplayer Effect Ekonomi Lokal: Dadan selalu menekankan bahwa MBG bukan sekadar program kesehatan, melainkan program penggerak ekonomi roda bawah. SPPG diwajibkan menyerap bahan baku pangan—seperti beras, telur, sayur, daging, dan susu—langsung dari petani, peternak, dan nelayan lokal di sekitar satuan pelayanan.
- Kemitraan Strategis: BGN di bawah Dadan secara agresif berkolaborasi dengan berbagai institusi, termasuk TNI dan Polri, untuk membangun ribuan titik SPPG dan gudang ketahanan pangan guna memastikan jangkauan logistik hingga ke daerah terpencil, terluar, dan tertinggal (3T).
- Standarisasi Gizi: Ia melibatkan ahli gizi di setiap SPPG untuk memastikan kalori, protein, dan mikronutrien yang disajikan sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak berdasarkan kelompok usia.
Atas dedikasi dan kecepatan akselerasinya dalam membangun infrastruktur gizi nasional dalam waktu singkat, Dadan Hindayana dianugerahi sejumlah penghargaan prestisius oleh negara dan lembaga media sepanjang tahun 2025 dan awal 2026, termasuk tanda kehormatan Bintang Mahaputera dan Bintang Jasa Utama dari Presiden RI, serta penghargaan People of the Year untuk kategori Penggerak Gerakan Kesehatan Masyarakat.
4. Dinamika dan Kontroversi Publik
Mengelola anggaran jumbo dan program yang menyentuh hajat hidup orang banyak tentu membuat Dadan Hindayana tidak luput dari sorotan tajam dan kritik masyarakat. Selama menjabat, beberapa kebijakan dan pernyataannya sempat memicu polemik di ruang publik.
Kontroversi Pasokan Susu Nasional
Salah satu perdebatan paling sengit yang dihadapi BGN adalah mengenai pemenuhan komponen susu dalam menu Makan Bergizi Gratis. Mengingat produksi susu sapi segar di Indonesia belum mampu mencukupi kebutuhan puluhan juta anak secara serentak, muncul wacana opsi impor atau penggunaan susu bubuk rekonstitusi. Pernyataan-pernyataan Dadan terkait strategi pemenuhan komoditas ini sempat menuai kritik dari asosiasi peternak sapi perah lokal yang merasa kurang dilibatkan, serta dari para pengamat kebijakan publik yang mengkhawatirkan pembengkakan anggaran akibat ketergantungan impor.
Mekanisme Program di Bulan Ramadan
Kontroversi lain muncul menjelang bulan suci Ramadan. Publik mempertanyakan bagaimana keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis ketika mayoritas anak sekolah menjalankan ibadah puasa. Dadan mengumumkan kebijakan penyesuaian mekanisme, di mana jatah makanan dialihkan menjadi menu berbuka puasa atau sahur yang didistribusikan dengan pola berbeda. Meskipun dimaksudkan sebagai solusi adaptif, implementasi di lapangan menghadapi banyak kendala logistik dan memicu perdebatan mengenai efektivitas anggaran selama bulan puasa.
Di balik semua hiruk-pikuk itu, Dadan secara jujur mengakui bahwa dirinya merasa kurang nyaman dengan popularitas mendadak yang ia dapatkan.
“Akhirnya sudah satu tahun selalu dikejar-kejar wartawan. Makanya saya ditanya, menyesal enggak jadi kepala badan? Menyesal jadi terkenal,” ujarnya berkelakar di depan media pada pertengahan 2025, merefleksikan transformasinya dari seorang ilmuwan menara gading menjadi figur publik.
5. Kejatuhan dan Pusaran Kasus Korupsi di Badan Gizi Nasional
Roda nasib berputar dengan sangat cepat. Ketika program Makan Bergizi Gratis sedang gencar-gencarnya diakselerasi di berbagai daerah, tata kelola internal Badan Gizi Nasional justru diguncang isu miring. Investigasi mendalam yang dilakukan oleh aparat penegak hukum menemukan adanya indikasi penyimpangan struktural yang serius dalam tubuh organisasi yang baru seumur jagung tersebut.
Pencopotan Jabatan oleh Presiden
Merespons perkembangan situasi hukum dan demi menjaga keberlangsungan serta integritas program prioritas nasional ini, Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah tegas. Pada tanggal 2 Juni 2026, Presiden resmi memberhentikan Dadan Hindayana dari jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional.
Untuk mengisi kekosongan kepemimpinan dan memastikan program MBG tidak mandek, pemerintah menunjuk Nanik Sudaryati Deyang (Nani S. Deyang), yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN, untuk naik menjadi Kepala BGN yang baru. Presiden juga melakukan perombakan total pada jajaran pengurus teras lembaga tersebut.
Penetapan Tersangka oleh Kejaksaan Agung
Satu hari setelah pencopotannya, tepatnya pada 3 Juni 2026, Kejaksaan Agung melalui Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) resmi menetapkan Dadan Hindayana bersama dua mantan Wakil Kepala BGN, yaitu Lodewyk Pusung dan Sonny Sanjaya, sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis. Ketiganya pun langsung menjalani penahanan.
| Detail Kasus Hukum Dadan Hindayana | |
| Status Hukum | Tersangka dan Ditahan (sejak 3 Juni 2026) |
| Institusi Penyidik | Kejaksaan Agung RI (Jampidsus) |
| Pasal yang Disangkakan | Pasal 603 dan 604 jo. Pasal 20 UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP (terkait kerugian negara) |
| Dugaan Modus Operandi | 1. Mark-up pengadaan fasilitas kantor BGN (motor listrik, sepatu, TV) 2. Intervensi dan pengaturan verifikasi pembentukan yayasan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) |
Modus Operandi dan Kerugian Negara
Berdasarkan rilis resmi dari Kejaksaan Agung yang disampaikan oleh Direktur Penyidikan Jampidsus, Syarief Sulaeman Nahdi, terdapat dua klaster utama penyimpangan yang diduga dilakukan oleh Dadan bersama kroninya:
- Penggelembangan Anggaran (Mark-up) Pengadaan Fisik: Ditemukan adanya selisih harga yang tidak wajar (markup) dalam proyek pengadaan sarana penunjang operasional di lingkungan internal BGN, mulai dari pengadaan sepeda motor listrik untuk mobilitas lapangan, sepatu dinas, hingga penyediaan perangkat televisi di kantor-kantor perwakilan.
- Patgulipat dan Afiliasi Yayasan SPPG: Kasus yang jauh lebih masif terkait dengan intervensi dalam pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Berdasarkan regulasi, pengelolaan dapur MBG seharusnya bermitra dengan yayasan-yayasan mandiri di setiap sekolah atau komunitas demi transparansi. Namun, dalam praktiknya, Dadan cs diduga mengintervensi proses verifikasi dan menunjuk yayasan-yayasan tertentu yang sebenarnya tidak memenuhi syarat, tetapi sengaja dijadikan alat karena terafiliasi langsung secara personal dengan para pejabat BGN untuk meraup keuntungan finansial secara berkala.
Kejaksaan Agung menegaskan bahwa tindakan manipulasi pengelolaan dana publik ini telah menimbulkan kerugian keuangan negara yang sangat signifikan. Proses persidangan dan audit investigatif lanjutan terus bergulir untuk menghitung secara pasti total kerugian negara yang ditimbulkan.
6. Penutup: Esensi Pelajaran dari Sebuah Transformasi Tragis
Perjalanan hidup Dr. Ir. Dadan Hindayana, M.Si. memberikan pelajaran berharga sekaligus tragis dalam dunia birokrasi dan kebijakan publik kontemporer di Indonesia. Di satu sisi, ia adalah representasi kaum intelektual kampus yang memiliki kapasitas akademik mumpuni di bidangnya dan dipercaya memegang mandat besar bagi kemaslahatan jutaan anak bangsa. Keberaniannya menerima tantangan mendirikan Badan Gizi Nasional dari nol patut dicatat dalam sejarah.
Namun, di sisi lain, kejatuhannya dalam pusaran kasus korupsi memperlihatkan betapa rentannya integritas individu ketika dihadapkan pada godaan kekuasaan dan pengelolaan anggaran negara yang luar biasa besar tanpa disertai sistem pengawasan (checks and balances) yang kokoh. Kasus ini sekaligus menjadi alarm keras bagi pemerintahan dalam menjalankan program-program strategis nasional ke depan, bahwa niat mulia untuk menyehatkan bangsa harus selalu dikawal dengan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel (good governance), tanpa celah bagi tindakan koruptif.
Penulis : Adham Munif