27 Agustus 2026
featured_image

Peluang Emas: 2.126 Lowongan Kerja Online dan Pendidikan Vokasi Siap Kerja di Banten!

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren Media Sosial yang Akan Populer di Tahun 2026

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren SEO Terbaru Tahun 2026 yang Wajib Diketahui

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Roadmap Belajar Digital Marketing dari Pemula hingga Mahir

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia
Penyintas erupsi Gunung Lew

Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/08) memicu kembali trauma para penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur. Setelah kehilangan rumah, lahan pertanian, dan sumber penghidupan akibat erupsi, mereka menghadapi dampak guncangan gempa di pengungsian dan hunian sementara.

Pengungsi Lewotobi Laki-laki: Dari Kerusakan Erupsi ke Gempa yang Tak Terduga

Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki pada tahun 2010 menebar abu, lava, dan material berbahaya yang menghancurkan sebagian besar rumah serta lahan pertanian di sekitarnya. Ribuan penduduk terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dan mencari perlindungan di tempat penampungan sementara. Sekitar 3.000 orang yang terdampak pindah ke kamp pengungsian di daerah sekitar gunung. Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu, bambu, dan tenda yang tidak tahan terhadap gempa bumi. Sejak saat itu, mereka hidup di bawah ketidakpastian, menunggu keajaiban atau perubahan kondisi yang lebih baik.

🔖 Baca juga:
Pengibaran Bendera Bulan Bintang di Hari Damai Aceh ke-21 Picu Kericuhan, Simbolisme Kontroversial Membakar Ketegangan Lokal

Gempa 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus menambah beban psikologis dan fisik bagi para pengungsi. Gempa tersebut menimbulkan kerusakan pada bangunan pengungsian yang sudah rapuh, serta mengganggu pasokan listrik dan air bersih. Banyak yang mengalami luka ringan hingga patah tulang karena jatuhnya tenda atau bangunan yang runtuh. Meskipun gempa tidak menimbulkan kerusakan besar di luar wilayah pengungsian, ketakutan yang dirasakan sangat tinggi, mengingat sejarah gempa dan erupsi yang pernah terjadi di daerah tersebut.

Para penyintas juga menghadapi kondisi ekonomi yang sangat sulit. Sejak erupsi, lahan pertanian mereka terkontaminasi dan tidak dapat dipakai lagi. Akibatnya, pendapatan keluarga yang dulunya berasal dari hasil panen menurun drastis. Kini, mereka harus bergantung pada pekerjaan serabutan, menjual barang bekas, atau berdagang di pinggir jalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Situasi ini memaksa mereka menempuh perjalanan jauh ke kota untuk mencari pekerjaan, yang menambah beban biaya transportasi dan pengeluaran hidup.

Pengaruh Status Siaga Gunung Lewotobi Laki-laki terhadap Kesiapsiagaan Pengungsi

Gunung Lewotobi Laki-laki masih berstatus Level III atau Siaga. Status ini menunjukkan bahwa gunung masih berpotensi aktif, sehingga warga di sekitarnya harus tetap waspada. Meskipun tidak ada erupsi besar yang terjadi setelah 2010, adanya aktivitas seismik kecil masih terdeteksi secara berkala. Status siaga ini menambah kecemasan bagi para pengungsi, karena mereka tidak hanya menghadapi risiko gempa tetapi juga kemungkinan erupsi kembali.

Guru Besar Ilmu Manajemen Kebencanaan Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, menilai bahwa kondisi tersebut menunjukkan bagaimana bencana dapat memperpanjang kemiskinan dan memberi dampak paling berat kepada kelompok masyarakat yang sudah lebih dahulu rentan. Menurutnya, ketika pendapatan tidak stabil, keluarga tidak mampu berinvestasi dalam infrastruktur tahan gempa atau perbaikan rumah, sehingga mereka menjadi lebih rentan terhadap bencana berikutnya.

Selain itu, Eko Teguh menekankan pentingnya program rehabilitasi yang komprehensif. Ia menyarankan pemerintah daerah untuk memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang tahan gempa, penyediaan lahan pertanian yang aman, serta pelatihan keterampilan bagi pengungsi. Tanpa dukungan tersebut, situasi ekonomi yang sudah buruk akan semakin memburuk, menambah ketidakpastian hidup bagi keluarga yang telah kehilangan segalanya.

🔖 Baca juga:
Gempa M5,7 Guncang Halmahera Barat, BMKG Sebut Tidak Berpotensi Tsunami

Dampak Psikologis: Trauma dan Ketakutan yang Tidak Pernah Selesai

Setelah erupsi, banyak keluarga yang mengalami trauma psikologis. Mereka tidak hanya kehilangan rumah, lahan, dan mata pencaharian, tetapi juga kehilangan rasa aman. Ketika gempa 7,7 terjadi, ketakutan yang sudah ada menjadi lebih intens. Beberapa pengungsi melaporkan mengalami insomnia, kecemasan, dan stres pasca trauma yang berkepanjangan.

Para psikolog setempat menyatakan bahwa trauma ini mempengaruhi cara hidup sehari-hari, termasuk pola makan, interaksi sosial, dan kepercayaan diri. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan pengungsian seringkali mengalami kesulitan belajar dan bermain, karena mereka tidak memiliki ruang yang aman dan nyaman. Hal ini menambah beban bagi orang tua yang sudah berjuang untuk mencari nafkah.

Selain itu, ketidakpastian ekonomi memperburuk kondisi psikologis. Ketika pendapatan tidak stabil, keluarga harus membuat keputusan sulit mengenai pengeluaran. Beberapa bahkan meminjam uang dari pemberi pinjaman dengan bunga tinggi, yang menambah beban utang. Kondisi ini dapat memicu konflik dalam rumah tangga dan menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Upaya Pembangunan dan Kesiapsiagaan: Solusi Jangka Panjang bagi Pengungsi

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah daerah telah mengimplementasikan beberapa program rehabilitasi. Program pertama adalah pembangunan rumah tahan gempa yang terbuat dari bahan kuat seperti beton dan baja. Rumah ini dirancang dengan fondasi yang kuat dan sistem penahan gempa. Selain itu, pemerintah juga menyediakan lahan pertanian yang aman bagi para pengungsi untuk menanam tanaman yang lebih tahan terhadap erupsi dan gempa.

Program kedua adalah pelatihan keterampilan kerja bagi pengungsi. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam bidang kerajinan tangan, pertanian organik, dan pekerjaan serabutan. Dengan keterampilan baru, para pengungsi dapat mencari penghasilan tambahan dan mengurangi ketergantungan pada pekerjaan serabutan yang tidak stabil.

🔖 Baca juga:
Pengelola Hotel Sultan Dapat Waktu 6 Bulan untuk Angkut Aset

Program ketiga adalah penyediaan akses ke layanan kesehatan mental. Pusat kesehatan mental di daerah tersebut menyediakan konseling gratis bagi keluarga yang mengalami trauma. Selain itu, program ini juga mengajarkan teknik relaksasi dan manajemen stres, yang dapat membantu keluarga mengatasi ketakutan yang terus-menerus.

Di samping itu, pemerintah daerah bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk memfasilitasi penyediaan air bersih dan sanitasi. Dengan akses air bersih, risiko penyakit menular berkurang, dan keluarga dapat lebih fokus pada pekerjaan dan pendidikan.

Peran M

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c8d3p5j82jvo?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.

Peluang Emas: 2.126 Lowongan Kerja Online dan Pendidikan Vokasi Siap Kerja di Banten!

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren Media Sosial yang Akan Populer di Tahun 2026

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren SEO Terbaru Tahun 2026 yang Wajib Diketahui

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Roadmap Belajar Digital Marketing dari Pemula hingga Mahir

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *