Cara Memulai Bisnis Digital dengan Modal Kecil Sebagai Reseller Digital
KompetitifMonolog Otto Iskandar Dinata: Kisah Inspiratif di Balik Panggung Asia Afrika Festival 2026
Panggung utama De Majestic diselimuti sorot lampu yang redup, hanya kursi kayu berwarna putih yang diterangi. Tak lama, sang aktor yang membawa karakter sosok Otto Iskandar Dinata muncul dengan monolog yang terinspirasi dari biografi pahlawan nasional asal Bandung. Komunitas Teater Siediekdjari mempersembahkan “Mauk: Diujung Laut Diujung Maut” dalam helatan Asia Afrika Corner Stage and Soul, Minggu (12/7/2026). Melalui monolog ini, penonton diajak melihat sisi lain “Si Jalak Harupat” yang selama ini nyaris terlupakan.
Apa yang Terjadi di Panggung?
Sorot lampu yang redup menyelimuti panggung utama De Majestic. Kursi kayu berwarna putih menjadi satu-satunya yang diterangi. Tak lama dari sana muncul sang aktor yang membawa karakter sosok Otto Iskandar Dinata dalam balutan monolog. Di atas panggung nyaris tanpa dekorasi yang berlebihan, hanya beberapa properti sederhana menjadi penanda perjalanan hidup sang pahlawan. Dialog mengalir pelan namun lugas. Tidak ada adegan heroik perang atau pidato perjuangan. Banyak orang mengenali Otto Iskandar Dinata melalui nama jalan yang berada di tengah Kota Bandung. Namun, tidak banyak orang yang benar-benar mengenal sosok di balik nama besar tokoh pahlawan nasional itu.
Mengapa Monolog Otto Iskandar Dinata Penting?
Sutradara Ilyas Noerwansyah atau yang dikenal dengan nama panggung Ilyas Mate, mengatakan ide pertunjukan berangkat dari kegelisahan sederhana. Menurutnya, banyak warga Bandung yang akrab dengan nama Otto Iskandar Dinata, tetapi hanya sebatas nama jalan. “Ketika kami ngobrol soal Bandung, akhirnya muncul pertanyaan, apa yang sebenarnya mulai hilang dari ingatan masyarakat. Otto Iskandar Dinata itu sangat familiar, tetapi orang melihatnya hanya sebagai simbol nama jalan. Padahal ada kisah yang jauh lebih dalam dari itu,” kata Ilyas, saat ditemui di sela-sela acara, Minggu (12/7/2026). Kesempatan untuk menggarap karya tersebut datang ketika pihaknya mendapat undangan untuk menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan dalam Asia Afrika Festival. Bersama timnya, Ilyas kemudian mulai menyusun naskah berdasarkan biografi Otto Iskandar Dinata.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Proses kreatif pertunjukan itu terbilang singkat. Dikatakannya, penulisan naskah berlangsung sekitar satu bulan, sedangkan latihan intensif dilakukan selama kurang lebih tiga minggu. Meskipun singkat, monolog ini memberikan gambaran yang lebih dalam tentang sosok Otto Iskandar Dinata. Dengan demikian, masyarakat dapat lebih memahami dan mengenal sosok di balik nama jalan yang familiar di Kota Bandung. Jalan panjang yang masih harus ditempuh adalah melestarikan kisah-kisah inspiratif seperti Otto Iskandar Dinata agar tidak terlupakan oleh generasi mendatang.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Monolog Otto Iskandar Dinata dalam Asia Afrika Festival 2026 merupakan salah satu upaya untuk mengingatkan kembali masyarakat tentang pentingnya melestarikan sejarah dan kisah-kisah inspiratif. Dengan menyajikan kisah-kisah seperti ini, diharapkan masyarakat dapat lebih menghargai dan memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus dilanjutkan dan didukung agar kisah-kisah inspiratif seperti Otto Iskandar Dinata tidak terlupakan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/metro-bandung/1178301/kisah-otto-iskandar-dinata-dipentaskan-dalam-monolog-di-asia-afrika-festival-2026, without altering the facts of the original article.