MRT Jakarta Phase 2: Progress Pembangunan, Rute Baru, dan Target Selesai
Pengembangan transportasi publik berbasis rel di DKI Jakarta terus menunjukkan komitmen nyata. Sukses dengan pengoperasian Fase 1 yang melayani rute Lebak Bulus hingga Bundaran HI, pemerintah bersama PT MRT Jakarta (Perseroda) kini berfokus penuh pada penyelesaian proyek MRT Jakarta Fase 2. Proyek strategis nasional ini dirancang untuk memperluas jangkauan aksesibilitas jalur kereta bawah tanah dari pusat bisnis ibu kota menuju kawasan bersejarah di Jakarta Utara.
Perkembangan proyek MRT Jakarta Fase 2 menjadi perhatian besar bagi masyarakat, pelaku usaha, dan komuter harian. Artikel ini menyajikan panduan komprehensif mengenai rute baru, pembagian paket konstruksi, kemajuan fisik terkini, serta target penyelesaian operasional proyek infrastructure megah ini.
1. Mengenal Jalur dan Rute Baru MRT Jakarta Fase 2
MRT Jakarta Fase 2 meluas sepanjang kurang lebih 11,8 kilometer yang terbagi menjadi dua tahapan utama, yaitu Fase 2A dan Fase 2B. Berbeda dengan Fase 1 yang memiliki kombinasi jalur melayang (elevated) dan bawah tanah (underground), seluruh jalur dan stasiun pada Fase 2A dirancang sepenuhnya berada di bawah tanah.
Fase 2A: Bundaran HI hingga Kota
Jalur Fase 2A membentang sepanjang 5,8 kilometer yang menghubungkan Stasiun Bundaran HI menuju Stasiun Kota. Jalur ini melewati kawasan padat aktivitas ekonomi, pusat pemerintahan, serta kawasan cagar budaya ikonik. Terdapat 7 stasiun bawah tanah yang dibangun pada Fase 2A:
- Stasiun Thamrin: Terletak di bawah persimpangan Jalan M.H. Thamrin dan Jalan Kebon Sirih. Stasiun ini menjadi stasiun interchange (persilangan) utama yang menghubungkan Jalur Selatan–Utara dengan rencana Jalur Timur–Barat (East–West Line).
- Stasiun Monas: Berada di kawasan Monumen Nasional dengan akses langsung menuju pusat pemerintahan dan museum nasional.
- Stasiun Harmoni: Terletak di persimpangan strategis Harmoni, dirancang terintegrasi dengan hub TransJakarta.
- Stasiun Sawah Besar: Berada di bawah Jalan Gajah Mada, melayani kawasan perkomersialan Sawah Besar.
- Stasiun Mangga Besar: Melayani kawasan pusat bisnis dan hiburan di sepanjang koridor Gajah Mada–Hayam Wuruk.
- Stasiun Glodok: Berada di pusat perdagangan elektronik dan kawasan Pecinan Jakarta.
- Stasiun Kota: Berada di kawasan Kota Tua Jakarta, dirancang terintegrasi langsung dengan Stasiun KRL Commuter Line Jakarta Kota dan Terminal Bus Kota Tua.
Fase 2B: Kota hingga Ancol Barat
Jalur Fase 2B dirancang membentang sepanjang sekitar 6 kilometer dari Stasiun Kota menuju kawasan Ancol Barat. Tahap ini akan menambah beberapa stasiun baru seperti Stasiun Mangga Dua, Stasiun Ancol, dan depo penyimpanan kereta di Ancol Barat.
2. Paket Pengerjaan Konstruksi MRT Jakarta Fase 2A
Untuk mengoptimalkan efisiensi pelaksanaan, pengerjaan proyek MRT Jakarta Fase 2A dibagi ke dalam beberapa paket kontrak konstruksi sipil utama (Contract Package / CP):
- CP 201 (Bundaran HI – Harmoni): Pengerjaan mencakup penggalian terowongan bawah tanah dari Bundaran HI ke Harmoni serta pembangunan fisik Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas.
- CP 202 (Harmoni – Mangga Besar): Pengerjaan penggalian terowongan serta pembangunan Stasiun Harmoni, Stasiun Sawah Besar, dan Stasiun Mangga Besar.
- CP 203 (Mangga Besar – Kota): Pengerjaan terowongan bawah tanah serta pembangunan fisik Stasiun Glodok dan Stasiun Kota.
- CP 205 dan CP 206 (Sistem Perkeretaapian dan Rel): Mencakup pengadaan sistem persinyalan, kelistrikan (substation), telekomunikasi, rel kereta, serta pengadaan sarana kereta (rolling stock).
3. Progress Pembangunan dan Tantangan Konstruksi
Pembangunan jalur bawah tanah Fase 2A menghadirkan tantangan teknis dan geologi yang jauh lebih rumit dibandingkan pengerjaan Fase 1.
Tantangan Geografis dan Cagar Budaya
Lintasan Fase 2A melewati daerah aliran sungai, kondisi tanah lunak di utara Jakarta, serta struktur bangunan cagar budaya (heritage) berumur ratusan tahun di kawasan Kota Tua. PT MRT Jakarta menerapkan teknologi Tunnel Boring Machine (TBM) berteknologi tinggi serta teknik penggalian bertingkat (stacked station) untuk Stasiun Sawah Besar dan Mangga Besar guna menghemat ruang lahan di permukaan.
Kemajuan Fisik Nyata (Data Progress Terkini)
Hingga periode paruh kedua tahun 2024 dan memasuki tahap pemantapan proyek di tahun 2025–2026, progress konstruksi menunjukkan tren positif:
- Paket CP 201 (Bundaran HI – Harmoni): Progress pengerjaan fisik telah mencapai lebih dari 80 persen. Terowongan bawah tanah yang menghubungkan Bundaran HI, Thamrin, dan Monas telah tersambung sepenuhnya. Pekerjaan interior stasiun dan instalasi jalur mekanikal-elektrikal terus berjalan.
- Paket CP 202 (Harmoni – Mangga Besar): Progress pengerjaan konstruksi sipil mencapai kisaran 45 hingga 50 persen. Pekerjaan dinding penahan tanah (diaphragm wall) dan penggalian struktur stasiun bertingkat terus dikejar.
- Paket CP 203 (Mangga Besar – Kota): Progress pengerjaan telah menembus angka di atas 60 persen. Terowongan jalur ganda antara Glodok dan Kota telah berhasil ditembus oleh mesin TBM.
- Total Progress Fase 2A (Bundaran HI – Kota): Secara keseluruhan, akumulasi kemajuan fisik pengerjaan proyek MRT Jakarta Fase 2A saat ini telah melewati angka 65–70 persen dari total target konstruksi sipil.
4. Target Selesai dan Rencana Operasional
Pemerintah menetapkan target pengoperasian MRT Jakarta Fase 2 secara bertahap (phasing approach) guna memastikan standar keselamatan operasional yang maksimal.
Pengoperasionalan Tahap 1 (Bundaran HI – Monas)
Target penyelesaian fisik dan uji coba sistem untuk segmen Bundaran HI hingga Stasiun Monas ditargetkan rampung lebih cepat. Jalur segmen awal ini diproyeksikan dapat beroperasi melayani masyarakat pada kurun waktu akhir tahun 2027.
Pengoperasionalan Tahap 2 (Monas – Kota)
Untuk segmen lanjutan dari Stasiun Harmoni hingga Stasiun Kota, proses konstruksi dan penataan kawasan cagar budaya membutuhkan ketelitian ekstra. Segmen ini ditargetkan siap beroperasi penuh secara komersial pada tahun 2029.
5. Dampak Ekonomi, Sosial, dan Integrasi Transportasi
Kehadiran MRT Jakarta Fase 2 akan memberikan dampak positif yang luas bagi penataan tata ruang ibu kota dan efisiensi transportasi publik.
Konektivitas dan Integrasi Antarmoda
Stasiun-stasiun Fase 2A dirancang untuk terhubung dengan moda transportasi massal lainnya. Stasiun Thamrin akan menjadi hub integrasi Jalur Timur–Barat, Stasiun Monas dan Harmoni terintegrasi langsung dengan busway TransJakarta, sementara Stasiun Kota akan menghubungkan penumpang secara seamless dengan KRL Commuter Line Jabodetabek.
Pelestarian Kawasan Kota Tua dan Penataan TOD
Proyek ini mengusung konsep Transit-Oriented Development (TOD). Pembangunan stasiun di kawasan utara diimbangi dengan penataan area pejalan kaki (pedestrian), revitalisasi gedung-gedung tua bernilai sejarah, serta pengurangan emisi karbon dari kendaraan pribadi menuju kawasan pusat bisnis.
Kesimpulan
Pembangunan MRT Jakarta Phase 2 menjadi bukti nyata transformasi transportasi publik modern di Indonesia. Meskipun menghadapi tantangan struktur tanah lunak dan area cagar budaya di kawasan utara Jakarta, progress pengerjaan fisik tetap melaju secara konsisten.
Dengan target pengoperasian segmen awal (Bundaran HI–Monas) pada tahun 2027 dan pengoperasian penuh hingga Stasiun Kota pada tahun 2029, kehadiran rute baru ini akan semakin mempercepat mobilitas masyarakat, mengurangi kemacetan jalan raya, serta memperkuat konektivitas kawasan bisnis dan sejarah di DKI Jakarta.
Penulis ; milinda z