Musim Hujan Membawa Ancaman: 9 Penyakit Mematikan yang Sering Melejit, Warga Harus Waspada dan Siapkan Langkah Pencegahan
Musim hujan tidak hanya identik dengan udara yang lebih sejuk dan meningkatnya curah hujan. Di balik kondisi tersebut, terdapat sejumlah risiko kesehatan yang perlu diperhatikan masyarakat. Genangan air, banjir, kelembapan tinggi, kualitas air yang menurun, hingga meningkatnya populasi nyamuk dapat menciptakan kondisi yang mendukung munculnya berbagai penyakit.
Kementerian Kesehatan RI menyebutkan beberapa penyakit yang kerap berkaitan dengan musim hujan dan banjir, antara lain demam berdarah dengue (DBD), diare, leptospirosis, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, serta gangguan saluran pencernaan.
Tidak semua penyakit tersebut otomatis menjadi mematikan. Namun, beberapa dapat menyebabkan komplikasi serius apabila terlambat dikenali dan mendapatkan penanganan. Karena itu, masyarakat perlu mengetahui penyakit yang berpotensi meningkat saat musim hujan sekaligus cara pencegahannya.
1. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam Berdarah Dengue atau DBD menjadi salah satu penyakit yang perlu mendapat perhatian ketika musim hujan tiba. Genangan air yang muncul di sekitar rumah dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti, salah satu penular virus dengue.
Kemenkes mencatat dengue sebagai masalah kesehatan serius di Indonesia. Pada 2023 terdapat 114.720 kasus dengan 894 kematian yang dilaporkan. Hingga minggu ke-43 tahun 2024, tercatat 210.644 kasus dan 1.239 kematian akibat DBD.
Pencegahan dapat dilakukan melalui pemberantasan tempat perkembangbiakan nyamuk, termasuk menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, dan menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air.
2. Leptospirosis
Leptospirosis merupakan penyakit akibat infeksi bakteri Leptospira. Penyakit ini memiliki kaitan erat dengan banjir dan lingkungan yang terkontaminasi urine hewan, terutama tikus.
Air banjir atau lumpur yang tercemar dapat meningkatkan risiko penularan, terutama apabila seseorang memiliki luka pada kulit dan terpapar lingkungan tersebut. WHO Indonesia juga menyebut banjir, genangan pascabanjir, serta sanitasi yang buruk sebagai faktor risiko leptospirosis.
Masyarakat sebaiknya menghindari kontak langsung dengan air banjir jika tidak diperlukan. Bila harus berada di lingkungan banjir, gunakan perlindungan yang sesuai dan segera membersihkan diri setelah terpapar.
3. Diare
Diare menjadi salah satu penyakit yang sering muncul ketika terjadi hujan lebat dan banjir. Penyebabnya dapat berkaitan dengan konsumsi air atau makanan yang telah terkontaminasi.
Saat banjir, sumber air, terutama sumur dangkal, dapat tercemar. Kondisi pengungsian dengan keterbatasan air bersih juga dapat mempercepat penularan penyakit.
Pencegahannya antara lain mencuci tangan menggunakan sabun, mengonsumsi air yang aman, memastikan makanan dimasak dengan baik, dan menjaga kebersihan lingkungan.
4. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
ISPA mencakup berbagai infeksi pada saluran pernapasan yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri, maupun mikroorganisme lainnya. Gejala yang umum antara lain batuk dan demam, sementara kondisi yang lebih berat dapat disertai sesak napas.
Lingkungan yang padat, termasuk tempat pengungsian ketika banjir, dapat meningkatkan risiko penularan infeksi pernapasan.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat perlu menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk, menjaga sirkulasi udara, beristirahat cukup, dan memeriksakan diri apabila gejala memburuk.
5. Influenza
Influenza juga dapat menjadi salah satu penyakit yang muncul di tengah musim hujan. Penyakit ini disebabkan oleh virus influenza dan dapat menyebar melalui percikan pernapasan serta kontak dengan permukaan yang terkontaminasi.
Kemenkes memasukkan influenza sebagai salah satu penyakit penyerta yang perlu diperhatikan selama musim hujan.
Menjaga kebersihan tangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit, serta menjaga kondisi tubuh merupakan bagian dari upaya pencegahan.
6. Malaria
Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles yang terinfeksi. Di wilayah tertentu, kondisi lingkungan setelah hujan dapat mendukung perkembangbiakan nyamuk.
Gejala malaria dapat berupa demam, menggigil, sakit kepala, dan keluhan lainnya. Bila tidak ditangani dengan tepat, malaria dapat berkembang menjadi kondisi serius.
Karena risiko malaria berbeda-beda menurut wilayah, masyarakat yang tinggal atau bepergian ke daerah endemis perlu mengikuti anjuran pencegahan dari tenaga kesehatan setempat.
7. Penyakit Kulit
Musim hujan dan banjir dapat menyebabkan masalah kulit karena tubuh lebih sering bersentuhan dengan air kotor, lumpur, atau lingkungan yang lembap. Penyakit kulit dapat berupa infeksi maupun gangguan lainnya.
Kementerian Kesehatan mencatat bahwa masalah kebersihan yang terganggu saat banjir dapat meningkatkan risiko penyakit kulit, terutama di tempat dengan banyak orang berkumpul.
Menjaga kulit tetap bersih dan kering, mengganti pakaian yang basah, serta menghindari penggunaan barang pribadi secara bergantian dapat membantu mengurangi risiko.
8. Demam Tifoid
Demam tifoid atau tifus berkaitan dengan infeksi bakteri Salmonella Typhi dan dapat menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Pada musim hujan, gangguan sanitasi dan kualitas air dapat menjadi perhatian, terutama di daerah yang mengalami banjir. Karena itu, kebersihan makanan dan minuman harus tetap dijaga.
Pastikan makanan dimasak dengan baik dan air minum berasal dari sumber yang aman. Apabila mengalami demam berkepanjangan atau keluhan pencernaan yang mengganggu, pemeriksaan medis diperlukan.
9. Hepatitis A
Hepatitis A merupakan infeksi virus yang terutama menyebar melalui jalur fekal-oral, termasuk melalui makanan atau air yang terkontaminasi. Kondisi sanitasi dan akses air bersih yang terganggu dapat meningkatkan risiko penularan.
WHO mencantumkan hepatitis A sebagai salah satu penyakit yang dapat berkaitan dengan kondisi banjir, khususnya melalui persoalan air, sanitasi, dan keamanan pangan.
Menjaga kebersihan tangan, mengonsumsi air yang aman, dan memastikan makanan diolah secara higienis merupakan langkah penting untuk mencegah penularan.
Langkah Pencegahan Penyakit Saat Musim Hujan
Mencegah penyakit saat musim hujan tidak selalu membutuhkan langkah yang rumit. Kebiasaan sederhana justru dapat memberikan perlindungan penting bagi keluarga.
Pertama, jaga kebersihan rumah dan lingkungan. Jangan membiarkan sampah atau wadah terbuka menampung air hujan karena dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
Kedua, pastikan air yang dikonsumsi aman. Saat terjadi banjir, masyarakat perlu lebih berhati-hati terhadap sumber air yang berpotensi tercemar.
Ketiga, biasakan mencuci tangan menggunakan sabun, terutama sebelum makan dan setelah menggunakan toilet.
Keempat, hindari kontak langsung dengan air banjir jika tidak diperlukan. Risiko leptospirosis menjadi perhatian khusus ketika air atau lumpur tercemar urine hewan.
Kelima, jaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat cukup, dan tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Kenali Gejala dan Jangan Menunda Pemeriksaan
Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua demam atau batuk merupakan tanda penyakit berbahaya. Namun, gejala yang berat, menetap, atau semakin memburuk sebaiknya tidak diabaikan.
Demam tinggi yang tidak membaik, sesak napas, muntah terus-menerus, tanda dehidrasi, penurunan kesadaran, atau keluhan berat setelah kontak dengan air banjir merupakan alasan untuk segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Musim hujan memang tidak dapat dihindari, tetapi risiko penyakit dapat ditekan dengan menjaga kebersihan, mengendalikan genangan air, memastikan keamanan makanan dan minuman, serta segera mencari pertolongan medis ketika muncul gejala yang mengkhawatirkan.
Dengan kewaspadaan dan penerapan pola hidup bersih dan sehat, masyarakat dapat menjalani musim hujan dengan lebih aman sekaligus mengurangi risiko penyebaran berbagai penyakit.
penulis: Anisa Zahra Sabrina f.