30 Agustus 2026
featured_image

Peluang Emas: 2.126 Lowongan Kerja Online dan Pendidikan Vokasi Siap Kerja di Banten!

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren Media Sosial yang Akan Populer di Tahun 2026

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren SEO Terbaru Tahun 2026 yang Wajib Diketahui

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Roadmap Belajar Digital Marketing dari Pemula hingga Mahir

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia
Musim kemarau melanda Aceh Utara, ratusan hektare sawah kering kerontang. Apa penyebabnya dan bagaimana nasib petani? Cari tahu dampaknya!

Musim kemarau yang melanda Aceh Utara telah menyebabkan ratusan hektare sawah di Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara, mengering dan menjadi lahan kering kerontang. Lebih dari 150 hektare sawah terdampak kekeringan, termasuk di Desa Alue Drien, Seuneubok Baro, U Baro, dan Ceumpeudak. Kondisi ini memaksa ratusan petani menunda musim tanam dan mengancam ribuan bibit padi yang telah berusia sekitar 30 hari.

Kekeringan Melanda, Petani Terancam

Permukaan tanah yang retak-retak akibat minimnya pasokan air membuat petani tidak bisa menanam padi. Aktivitas petani pun nyaris berhenti karena lahan belum memungkinkan untuk ditanami. Sebagian besar petani telah menyiapkan bibit padi di persemaian, namun tanpa pasokan air, bibit-bibit tersebut berisiko layu, rusak, bahkan mati sebelum ditanam.

🔖 Baca juga:
Tetangga Bela Titik Pengontrak Rumah yang Menolak Pindah: Susah 1 Bulan Cari Kontrakan

Seorang petani di Desa Ceumpeudak, Muslem, mengaku sempat menanam sebagian bibit ketika masih terdapat sisa air di sawah. Namun, pekerjaan itu terpaksa dihentikan karena lahan kembali mengering. “Padi ini belum lama saya tanam ketika air masih ada. Sekarang penanaman terpaksa berhenti karena sawah kembali kering. Sawah kami merupakan sawah tadah hujan, jadi hanya mengandalkan air hujan untuk bisa mengairi lahan,” ujar Muslem.

Mengapa Kekeringan Terjadi?

Kekeringan ini terjadi karena kawasan persawahan di wilayah tersebut belum memiliki jaringan irigasi yang memadai. Selama ini, petani sepenuhnya bergantung pada curah hujan. Keuchik Seuneubok Baro, Jon Junaidi, mengatakan bahwa persoalan tersebut terjadi karena kurangnya infrastruktur pendukung pertanian.

🔖 Baca juga:
Cirebon Bakal Panas Terik 32C, Waspada!

Dampak Kekeringan

Jika hujan tidak segera turun, bukan hanya tanaman yang telah ditanam yang terancam mati, tetapi juga bibit yang masih berada di persemaian. Hal itu akan memaksa petani mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli benih baru sekaligus mengulang seluruh proses tanam. Kondisi ini juga berdampak pada ketahanan pangan dan pendapatan petani.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Petani berharap pemerintah dapat membantu menyelesaikan masalah kekeringan ini dengan membangun infrastruktur irigasi yang memadai. Dengan demikian, petani dapat meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan. Selain itu, petani juga berharap adanya bantuan benih dan pupuk untuk membantu mereka dalam proses tanam.

🔖 Baca juga:
PITS Tangsel Terinspirasi Warta Kota Awards 2026 untuk Tingkatkan Layanan Publik

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://aceh.tribunnews.com/nanggroe/1033580/ratusan-hektare-sawah-di-aceh-utara-kering-kerontang-bibit-padi-terancam-mati-sebelum-ditanam, without altering the facts of the original article.

Peluang Emas: 2.126 Lowongan Kerja Online dan Pendidikan Vokasi Siap Kerja di Banten!

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren Media Sosial yang Akan Populer di Tahun 2026

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren SEO Terbaru Tahun 2026 yang Wajib Diketahui

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Roadmap Belajar Digital Marketing dari Pemula hingga Mahir

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *