Transformasi Karier Lulusan SMK: Dari Ruang Kelas Menuju Dunia Industri Berpenghasilan Tinggi di Era Digital
KompetitifMembangun Portofolio Sejak SMK: Strategi Efektif Menarik Perhatian Perusahaan Besar dan Meningkatkan Peluang Karier Profesional
KompetitifNelayan Kotabaru, Ali, masih trauma dengan momen mengerikan tabrakan kapal yang menelan korban jiwa. Insiden tersebut terjadi pada 16 Juni 2026 lalu, ketika kapal penumpanag besi bertabrakan dengan KM Harapana Mega. Teriakan rekan yang hilang, Gilang, masih terngiang-ngiang di kepalanya. “Kejadian ini rasanya seperti mimpi,” ujar Ali singkat, Rabu (8/7).
Momen Penentu di Menit Akhir
Menurut Ali, insiden berlangsung sangat cepat. Tidak ada aba-aba ataupun petunjuk, tiba-tiba ada bunyi benturan keras di bagian samping depan kapal dan membuatnya langsung terpental ke laut sekitar 5 meter. Lelaki 43 tahun ini pun terkejut, karena yang terlihat di dekatnya ada kapal besi besar warna putih biru melintas. Padahal belum hitungan menit yang lalu, ia masih menunaikan tugasnya memasak lauk di dapur untuk makan pagi.
Merasa dirinya terancam bakal tertarik air ke pusaran roda, ia pun bergegas sekuat tenaga berenang menjauh. “Saat-saat itu saya melihat Gilang berteriak meminta tolong karena timbul tenggelam di bawa ombak,” ucap ayah dua anak ini. Namun kondisi Ali juga tidak memungkinkan untuk menolong, karena harus mengejar pecahan kapal agar tetap bisa mengapung.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Ketika tiba di pecahan kapal bagian belakang bersama enam orang lainnya, ia sudah tidak ada lagi melihat tubuh Gilang yang hilang ditelan lautan. Di atas pecahan kapal, tangis dan ucapan istigfar tak menentu masing-masing keluar dari mulut empat rekanan yang masih hidup. Sedangkan Muhammad Alwi, sang juragan sekaligus kapten kapal telah meninggal, dengan sejumlah luka bekas benturan keras di kepala dan punggung.
Kejadian itu sekitar pukul 09.00 Wita. Mereka pun bertahan hingga sekitar pukul 12.30 Wita baru ada kapal balapan nelayan yang membantu evakuasi. Ali juga mengalami luka bakar tersiram air panas di paha. Bersama rekan lainnya di atas pecahan kapal, Ali juga sempat meminta pertolongan dengan melambaikan tutup fiber penampung batu es.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Insiden tabrakan kapal ini menimbulkan pertanyaan tentang keselamatan nelayan dan kapal-kapal yang beroperasi di perairan Kotabaru. Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat meningkatkan pengawasan dan memberikan pelatihan keselamatan kepada nelayan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Selain itu, kejadian ini juga berdampak pada keluarga nelayan yang menjadi korban. Ali dan keluarganya masih trauma dengan kejadian tersebut dan membutuhkan dukungan untuk pulih. “Kejadian ini rasanya seperti mimpi, tapi mimpi yang buruk,” ujar Ali.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Proses investigasi dan penanganan kejadian ini masih terus berlangsung. Pihak terkait diharapkan dapat memberikan kejelasan tentang penyebab kejadian dan tindakan yang akan diambil untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Ali dan keluarganya berharap kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak dan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan di laut. “Kami hanya ingin kejadian ini tidak terjadi lagi pada orang lain,” ujar Ali.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://banjarmasin.tribunnews.com/kalsel/1368168/kesaksian-nelayan-kotabaru-korban-tabrakan-kapal-masih-teringat-teriakan-rekan-saat-minta-tolong, without altering the facts of the original article.