Paparan Asap Karhutla Tingkatkan Risiko Kanker Paru hingga 40%, dokter jelaskan mekanisme dan langkah pencegahan untuk warga.
Kerusakan Paru-paru yang Dipicu oleh Asap Karhutla
Menurut Dr. Linda Masniari, SpP(K), seorang dokter spesialis paru sekaligus subspesialis onkologi toraks di MRCCC Siloam Semanggi, paparan asap dengan konsentrasi tinggi dapat memicu munculnya banyak masalah kesehatan di paru-paru. “Kebakaran asap itu bisa menyebakan bronkitis, kemudian misalnya PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), terakhir bisa akut cedera paru,” ujarnya saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (1/9/2026). Paparan Asap Karhutla Tingkatkan Risiko Kanker Paru hingga 40% merupakan peringatan serius bagi masyarakat yang masih tinggal di daerah rawan kebakaran hutan dan lahan.
Dr. Linda menekankan bahwa jika seseorang terpapar asap lama, risiko kanker paru meningkat secara signifikan. “Karena salah satu faktor risiko adalah kebakaran hutan dan lahan,” sambungnya. Selain karhutla, ia menambahkan bahwa asap-asap lain juga dapat menimbulkan masalah pada organ paru, termasuk kanker. “Misalnya orang-orang di komplek atau di perumahan yang suka bakar sampah, itu juga bisa jadi pencetus terjadinya kanker paru. Jadi semua faktor lingkungan, misalnya asap rokok, asap kendaraan bermotor, kebakaran lahan,” jelasnya.
Data Polusi Udara yang Mengkhawatirkan
Di tengah peringatan ini, data polusi udara di beberapa wilayah Kalimantan Tengah dan Barat menunjukkan kondisi yang semakin memprihatinkan. Pada Senin (31/8) wilayah di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah mencatat nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang bahkan sempat mencapai 848, dengan PM10 menjadi pencemar dominan. Kondisi serupa juga terlihat di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dengan ISPU 773, serta Pontianak Tenggara, Kalimantan Barat, dengan ISPU 732. Di Kotawaringin Timur, PM10 tetap menjadi pencemar utama, sementara di Pontianak Tenggara, PM2.5 menjadi pencemar dominan.
Data ini menegaskan bahwa kualitas udara di wilayah tersebut berada di tingkat yang sangat berbahaya, sehingga memerlukan tindakan cepat dari semua pihak.
Mekanisme Paparan Asap dan Risiko Kanker Paru
Paparan Asap Karhutla Tingkatkan Risiko Kanker Paru hingga 40% terjadi karena partikel-partikel berbahaya yang terlepas saat kebakaran. Partikel PM2.5 dan PM10 dapat menembus saluran pernapasan hingga ke paru-paru, menyebabkan iritasi, inflamasi, dan kerusakan jaringan. Akumulasi kerusakan ini dapat memicu perkembangan sel kanker. Selain itu, bahan kimia organik volatil (VOC) yang dilepaskan selama kebakaran juga memiliki potensi karsinogenik.
Dr. Linda menambahkan bahwa bronkitis dan PPOK yang disebabkan oleh paparan asap menjadi kondisi prekursor bagi kanker paru. “Jika bronkitis kronis tidak diobati, jaringan paru dapat mengalami perubahan seluler yang akhirnya berujung pada kanker,” jelasnya. Mekanisme ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan pengendalian polusi udara.
Langkah Pencegahan untuk Warga
Untuk mengurangi risiko, Dr. Linda menyarankan beberapa langkah pencegahan yang dapat diambil oleh warga, terutama yang tinggal di daerah rawan karhutla. Pertama, hindari keluar rumah ketika indeks polusi udara tinggi. Gunakan masker N95 atau masker filter khusus untuk melindungi saluran pernapasan. Kedua, batasi aktivitas fisik di luar ruangan pada jam-jam puncak polusi. Ketiga, gunakan alat pengendali polusi udara di dalam rumah, seperti filter HEPA, untuk menurunkan partikel berbahaya.
Selain itu, mengurangi kebakaran sampah di lingkungan sekitar juga penting. “Orang-orang di komplek atau di perumahan yang suka bakar sampah, itu juga bisa jadi pencetus terjadinya kanker paru,” kata Dr. Linda. Mengganti praktik bakar sampah dengan metode pengelolaan sampah yang lebih bersih dapat mengurangi emisi asap. Penerapan kebijakan pengendalian kebakaran lahan secara ketat juga menjadi kunci untuk menurunkan paparan asap secara keseluruhan.
Peran Pemerintah dan Masyarakat
Perlindungan terhadap Paparan Asap Karhutla Tingkatkan Risiko Kanker Paru hingga 40% memerlukan sinergi antara pemerintah, lembaga kesehatan, dan masyarakat. Pemerintah daerah perlu memastikan penegakan regulasi pengendalian kebakaran lahan serta menyediakan fasilitas pengendalian polusi udara di wilayah rawan. Sementara masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam program pengurangan sampah dan penggunaan teknologi bersih.
Program edukasi tentang bahaya asap kebakaran dan dampaknya terhadap kesehatan paru juga sangat diperlukan. Masyarakat harus diberi pengetahuan tentang cara mengenali tanda-tanda awal masalah pernapasan, serta kapan harus mencari perawatan medis. Dengan kesadaran yang tinggi, risiko kanker paru akibat paparan asap dapat diminimalisir.
Kesimpulan
Paparan Asap Karhutla Tingkatkan Risiko Kanker Paru hingga 40% merupakan peringatan penting bagi semua pihak. Dari mekanisme kerusakan paru hingga data polusi udara yang alarm, jelas bahwa kebakaran hutan dan lahan menimbulkan dampak kesehatan yang serius. Melalui langkah pencegahan yang tepat, pengendalian kebakaran lahan, dan edukasi masyarakat, risiko ini dapat dikurangi. Paparan Asap Karhutla Tingkatkan Risiko Kanker Paru hingga 40% harus menjadi titik tolak bagi upaya kolektif melindungi kesehatan paru-paru warga.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8645532/paparan-asap-karhutla-bisa-picu-risiko-kanker-paru-ini-penjelasan-dokter, without altering the facts of the original article.