25 Juli 2026
featured_image

Cara Kerja di Malaysia untuk WNI: Syarat, Gaji, Visa, dan Peluang Karier Lengkap

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Cara Menghadapi Perubahan Posisi dan Tanggung Jawab Baru

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Pentingnya Memiliki Portofolio Digital Dibandingkan Sekadar CV

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Mengembangkan Jiwa Kepemimpinan Sejak Masih Sekolah atau Kuliah

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia
Pekerja pabrik yang menghirup debu asbes selama puluhan tahun mengaku penyakit paru-paru kronis tidak sebanding dengan kompensasi yang diterima.

**Pekerja Pabrik yang Menghirup Debu Asbes Selama Puluhan Tahun: “Nominal Kompensasi Tidak Sebanding dengan Penyakit yang Saya Alami** **Momen Penentu di Menit Akhir** Siti Kristina, seorang pekerja pabrik yang telah menghabiskan 22 tahun bekerja di pabrik produk asbes, baru-baru ini menyadari bahwa paru-paru mereka telah rusak akibat paparan asbes. Siti, yang awalnya bekerja sebagai operator mesin pemintal asbes di Cibinong, Jawa Barat, merasakan gejala batuk terus-menerus setelah 10 tahun beraktivitas dengan paparan asbes. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Pada tahun 1991, Siti bekerja di pabrik asbes di Cibinong sebagai operator mesin di bagian pemintalan bahan asbes dengan polyester. Pabrik itu memproduksi kain asbes peredam panas untuk kilang minyak. Pada proses pencampuran, pemintalan, hingga menjadi kain asbes, ruang kerjanya terus-menerus berdebu bercampur bubuk asbes. Siti tidak pernah memakai maskernya dengan benar, hanya menggunakan masker kain yang masih tembus. Pada tahun 2010, Siti memeriksakan dirinya ke RS Cipto dengan CT-Scan. Ia didiagnosis mengidap asbestosis awal. Setelah divonis harus hidup dengan asbestosis, Siti selalu minum obat untuk meringankan gejala penyakit tersebut, termasuk batuk kering yang sangat menyakitkan. Siti tetap bekerja sampai pabrik itu tutup pada 2013. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Penyakit asbestosis dan penyakit terkait asbes (ARD) memang diakui secara internasional sebagai penyakit akibat paparan serat asbes di tempat kerja. Lebih dari 70 negara telah melarang total penggunaan asbes. Tapi tidak dengan Indonesia, yang masih mengizinkan krisotil atau asbes putih. Bahkan, Indonesia masuk daftar lima negara pengguna asbes terbesar di dunia. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Siti Kristina, 60 tahun, kembali mengunjungi poliklinik paru Rumah Sakit Islam Yogyakarta Persaudaraan Djamaah Hadji Indonesia (RSIY PDHI) Kalasan, Sleman, Yogyakarta, pada Senin (19/04) sore. Siti, pengidap absestosis, memang datang setiap bulan ke rumah sakit tersebut untuk terapi uap. Rutinitas ini kini harus dijalaninya seumur hidup, karena asbestosis belum ada obatnya. Siti mengenang awal mula dia mengidap asbestosis. Menurutnya, ini semua dimulai ketika dia bekerja di pabrik asbes di Cibinong pada April 1991 sebagai operator mesin di bagian pemintalan bahan asbes dengan polyester. Pabrik itu memproduksi kain asbes peredam panas untuk kilang minyak. Pada proses pencampuran, pemintalan, hingga menjadi kain asbes, ruang kerjanya terus-menerus berdebu bercampur bubuk asbes. Siti tidak pernah memakai maskernya dengan benar, hanya menggunakan masker kain yang masih tembus. Pemeriksaan rontgen rutin dari perusahaan tak pernah mendeteksi apa-apa. “Tapi yang pemeriksaan kesehatan dari perusahaan, tidak terdeteksi adanya penyakit karena hanya rontgen biasa. Semua karyawan saat itu sehat semua,” jelasnya. Setelah gejalanya terus memburuk, Siti memeriksakan dirinya pada 2010 berkat pendampingan LION Indonesia, LSM yang fokus terhadap isu perburuhan dan keselamatan kerja. “Baru pada 2010, saya periksa di RS Cipto dengan CT-Scan. [Saya] didiagnosa asbestosis awal,” jelasnya. Setelah divonis harus hidup dengan asbestosis, Siti selalu minum obat untuk meringankan gejala penyakit tersebut, termasuk batuk kering yang sangat menyakitkan. Siti tetap bekerja sampai pabrik itu tutup pada 2013. Dia lalu pulang ke kampung halamannya di Berbah, Sleman. Siti mengatakan bahwa nominal kompensasi yang diterimanya tidak sebanding dengan penyakit yang ia alami. “Saya tidak bisa melupakan masa laluku di pabrik asbes. Saya hanya ingin mengingatkan semua orang untuk berhati-hati dengan paparan asbes,” katanya. Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Ferry Noor, menyatakan bahwa asbestosis dan penyakit terkait asbes atau ARD—termasuk kanker paru dan mesothelioma—memang diakui secara internasional sebagai penyakit akibat paparan serat asbes di tempat kerja, dan dapat dikategorikan sebagai penyakit akibat kerja. Lebih dari 70 negara telah melarang total penggunaan asbes. Tapi tidak dengan Indonesia, yang masih mengizinkan krisotil atau asbes putih.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c0kmv671n66o?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.

Cara Kerja di Malaysia untuk WNI: Syarat, Gaji, Visa, dan Peluang Karier Lengkap

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Cara Menghadapi Perubahan Posisi dan Tanggung Jawab Baru

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Pentingnya Memiliki Portofolio Digital Dibandingkan Sekadar CV

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Mengembangkan Jiwa Kepemimpinan Sejak Masih Sekolah atau Kuliah

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *