Jika ada satu pertanyaan yang paling sering saya dengar dari mahasiswa baru, atau bahkan dari teman-teman seangkatan saya dulu, pertanyaannya selalu sama: “Sebenarnya apa sih gunanya masuk BEM? Apa yang didapat? Apakah hanya capek-capek saja, atau memang ada manfaatnya?”
Dulu, sebelum saya memutuskan untuk mendaftar dan akhirnya terpilih menjadi pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), saya juga bertanya hal yang sama. Saat itu, saya hanya melihat BEM dari luar. Saya melihat mereka sibuk ke sana ke mari, memakai jaket kebesaran yang keren, berbicara lantang, terlihat hebat, tapi juga sering menjadi bahan pembicaraanโada yang memuji, ada pula yang mencibir.
Saat itu, saya hanyalah mahasiswa biasa. Pendiam, pemalu, sulit berbicara di depan umum, tidak punya keberanian menyampaikan pendapat, dan hidup saya hanya berputar di antara kamar kos, kelas kuliah, dan perpustakaan. Dunia saya sempit, nyaman, tapi terasa hampa. Saya merasa ada sesuatu yang hilang, ada potensi yang terpendam tapi tidak tahu bagaimana cara mengeluarkannya.
Hingga akhirnya, atas dorongan teman dan rasa penasaran yang besar, saya memberanikan diri mendaftar. Lewat serangkaian seleksi yang melelahkan, wawancara yang menegangkan, dan ujian tulis yang menguras pikiran, saya resmi diterima. Hari pelantikan menjadi hari bersejarah dalam hidup saya. Saat jaket organisasi itu tersampir di bahu saya, saya merasa bangga, tapi juga takut. Saya belum tahu, bahwa hari itu adalah awal dari perubahan terbesar dalam hidup saya.
Tiga tahun telah berlalu sejak saya melepas jabatan dan kembali menjadi mahasiswa biasa. Namun, jejak yang ditinggalkan oleh pengalaman satu periode itu tidak pernah hilang, bahkan semakin terasa dampaknya seiring berjalannya waktu. Pengalaman mengikuti BEM bukan sekadar kenangan masa kuliah, bukan sekadar baris tambahan di Curriculum Vitae (CV), tapi sebuah PROSES PEMBENTUKAN JATI DIRI yang mengubah cara saya berpikir, bertindak, dan memandang dunia.
Di artikel ini, saya akan menceritakan secara jujur, lengkap, dan mendalam tentang pengalaman saya, apa saja yang saya lalui, apa yang saya pelajari, dan yang paling penting: Mengapa pengalaman ini mengubah hidupku selamanya.
Siapkan dirimu, karena cerita ini mungkin akan mengubah pandanganmu tentang organisasi, kepemimpinan, dan masa depanmu sendiri.
Bab 1: Awal Mula: Dari Ragu Menjadi Berani Melangkah
Masih sangat jelas di ingatan saya, saat pertama kali melangkahkan kaki masuk ke ruang sekretariat BEM. Suasana di sana sangat berbeda dengan lingkungan lain yang saya kenal. Suara hiruk-pikuk diskusi, tumpukan berkas di mana-mana, papan tulis penuh catatan, dan wajah-wajah orang yang terlihat sangat sibuk tapi bersemangat.
Jujur, saya merasa sangat kecil saat itu. Saya merasa saya tidak sebanding dengan mereka. Saya merasa saya tidak punya keahlian apa-apa. Saya tidak bisa berbicara hebat, saya tidak pandai membuat desain, saya tidak paham administrasi, dan saya tidak punya koneksi dengan siapa pun.
Namun, di situlah letak keajaiban pertama dari BEM: Mereka tidak mencari orang yang sudah hebat, tapi mereka mencari orang yang mau ditempa menjadi hebat.
Masa pengenalan dan pendidikan dasar organisasi menjadi gerbang awal transformasi diri saya. Di sana, saya diajarkan dasar-dasar kepemimpinan, tata cara administrasi, cara berkomunikasi, hingga visi misi organisasi. Tidak ada yang instan. Semuanya dipelajari sedikit demi sedikit.
Ada momen di mana saya hampir menyerah. Saat tugas kuliah sedang menumpuk, di saat yang sama saya diminta menyusun konsep acara besar, di saat saya harus mengurus izin ini-itu, di saat saya harus berhadapan dengan pejabat kampus yang tegas. Rasanya berat sekali. Saya berpikir: “Untuk apa saya menyiksa diri sendiri seperti ini? Kenapa tidak seperti teman-teman lain yang santai saja kuliahnya?”
Tapi, di saat-saat itulah saya belajar hal pertama yang mengubah hidup saya: KELUAR DARI ZONA NYAMAN.
Saya sadar, bahwa pertumbuhan dan perubahan tidak akan pernah terjadi di tempat yang nyaman. Pertumbuhan hanya terjadi saat kita menghadapi tantangan, saat kita merasa berat, saat kita merasa tidak sanggup, tapi memaksakan diri untuk tetap melangkah. Itulah awal mula perubahan karakter saya.
Dari yang tadinya orang yang menghindari masalah, saya berubah menjadi orang yang mencari solusi. Dari yang tadinya takut salah, saya berubah menjadi orang yang berani mencoba dan belajar dari kesalahan. Langkah kecil yang saya ambil dengan ragu-ragu itu, ternyata membawa saya ke jalan yang jauh lebih luas dan indah.
Bab 2: Sekolah Kehidupan: Apa yang Saya Alami dan Lalui
Satu periode menjabat di BEM terasa seperti menjalani sekolah kehidupan yang sangat padat dan intens. Di dalamnya, saya merasakan segala rasa: senang, bangga, lelah, kecewa, marah, sedih, hingga ingin menangis. Semua emosi bercampur menjadi satu. Tapi setiap momen itu adalah pelajaran berharga.
Berikut adalah gambaran nyata apa yang saya alami setiap harinya, dan bagaimana hal itu membentuk diri saya:
1. Dunia Rapat: Belajar Berpikir Kritis dan Menghargai Pendapat
Rapat adalah makanan sehari-hari. Dari rapat kecil antar bidang hingga rapat pleno besar yang dihadiri seluruh pengurus. Dulu, saya berpikir rapat itu cuma duduk, dengerin orang ngomong, lalu pulang. Ternyata SALAH BESAR.
Di dalam rapat itulah perdebatan terjadi. Di sana, ide-ide bertemu, bertabrakan, dan bersatu menjadi keputusan.
Saya belajar bagaimana menyampaikan gagasan dengan jelas, logis, dan sopan. Saya belajar bagaimana mendengarkan pendapat orang lain yang berbeda jauh dari pemikiran saya. Saya belajar bahwa meskipun saya paling pintar atau paling tinggi jabatannya, pendapat saya belum tentu yang paling benar.
Sering kali saya marah atau kecewa karena pendapat saya ditolak atau dikritik habis-habisan. Tapi lama-kelamaan, saya sadar: Kritik itu bukan serangan pribadi, tapi alat untuk menyempurnakan gagasan.
Dari sini, saya berubah menjadi orang yang berpikir kritis. Saya tidak lagi menerima informasi mentah-mentah. Saya terbiasa menganalisis masalah dari berbagai sisi, mencari akar masalah, dan mencari solusi terbaik. Kemampuan berpikir ini adalah bekal utama yang saya bawa hingga sekarang, baik saat bekerja maupun dalam kehidupan sehari-hari.
2. Mengelola Acara Besar: Belajar Manajemen, Tanggung Jawab, dan Kerja Keras
Salah satu tugas utama BEM adalah menyelenggarakan program kerja. Mulai dari seminar, bakti sosial, lomba olahraga, hingga aksi advokasi.
Saya ingat betul saat ditunjuk menjadi penanggung jawab sebuah acara besar kampus. Bebannya luar biasa. Saya harus mengurus izin, mengurus dana, mencari pembicara, mengurus tempat, mengurus konsumsi, membagi tugas ke tim, dan memastikan semua berjalan lancar. Saya harus berhadapan dengan sponsor yang susah dihubungi, birokrasi kampus yang berbelit, hingga tim yang kadang kurang disiplin.
Ada malam-malam di mana saya tidak tidur sama sekali karena memikirkan detail acara. Ada momen di mana saya ingin melempar handuk karena ada masalah mendadak yang muncul. Tapi, saat hari H acara berlangsung sukses, saat melihat peserta senang, saat mendengar ucapan terima kasih, rasanya lelah itu hilang seketika.
Dari pengalaman ini, saya belajar arti TANGGUNG JAWAB. Saya belajar bahwa jabatan adalah amanah, bukan kehormatan. Saya belajar bahwa keberhasilan itu tidak datang dari mimpi, tapi dari keringat, perencanaan matang, dan kerja keras tanpa henti.
Saya juga belajar seni MANAJEMEN. Bagaimana mengatur anggaran agar cukup, bagaimana membagi tugas sesuai kemampuan orang, bagaimana mengatur waktu agar tepat jadwal. Kemampuan manajemen inilah yang kini membuat saya jauh lebih terorganisir dibandingkan teman-teman saya yang tidak pernah merasakan ini.
3. Berhadapan dengan Pihak Luar: Belajar Komunikasi dan Diplomasi
Sebagai perpanjangan tangan mahasiswa, BEM sering berhubungan dengan pejabat kampus, dosen, instansi luar, media, hingga perusahaan mitra.
Dulu, saya adalah orang yang kalau diajak bicara dengan orang asing atau orang penting, saya pasti menunduk, gugup, dan bicaranya terbata-bata. Tapi di BEM, saya dipaksa berhadapan dengan mereka. Saya harus bernegosiasi, menyampaikan aspirasi, meminta bantuan, atau menyampaikan keluhan.
Ada momen tegang saat harus berdebat dengan pimpinan kampus demi hak mahasiswa. Ada momen canggung saat harus meminta dana sponsor ke perusahaan. Ada momen haru saat berdiskusi dengan dosen yang sangat bijaksana.
Perlahan tapi pasti, rasa takut itu hilang. Saya belajar cara bicara yang sopan namun tegas. Saya belajar cara menyampaikan maksud dengan baik. Saya belajar seni diplomasi: bagaimana menempatkan diri, bagaimana mendekati orang lain, dan bagaimana membuat orang lain nyaman berbicara dengan saya.
Kemampuan komunikasi ini adalah KUNCI EMAS yang mengubah hidup saya. Di dunia kerja nanti, keahlian berkomunikasi sering kali lebih dihargai daripada sekadar kepintaran akademis. Dan saya mendapatkannya secara cuma-cuma lewat pengalaman nyata ini.
4. Konflik Internal: Sekolah Terbaik Mengelola Emosi dan Hubungan
Ini adalah bagian paling pahit tapi paling mendewasakan. Di BEM, ada banyak orang dengan karakter, latar belakang, dan kepribadian yang berbeda-beda. Seperti miniatur negara, di sana pasti ada konflik, perbedaan pendapat, kesalahpahaman, hingga politik organisasi.
Saya pernah dikhianati teman, saya pernah disalahpahami, saya pernah disalahkan atas hal yang bukan kesalahan saya, saya pernah bertengkar hebat dengan rekan satu tim. Ada malam-malam saya menangis di kamar kos karena sakit hati. Saya berpikir: “Padahal saya sudah berjuang mati-matian, kok malah diperlakukan begini?”
Namun, justru di sinilah sekolah terbaiknya.
Saya belajar untuk menurunkan ego. Saya belajar untuk memaafkan. Saya belajar bahwa tidak semua orang akan menyukai kita, dan itu tidak apa-apa. Saya belajar bahwa bekerja sama itu bukan mencari teman yang enak saja, tapi menyatukan orang-orang berbeda demi tujuan bersama.
Saya belajar KEPEMIMPINAN EMOSIONAL. Bagaimana tetap tenang saat marah, bagaimana tetap bekerja sama meski hati sedang kesal, bagaimana menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
Banyak orang gagal di dunia kerja bukan karena tidak pintar, tapi karena tidak bisa bergaul, tidak bisa mengelola emosi, dan tidak bisa bekerja sama dengan orang yang berbeda. Dan saya bersyukur, saya sudah melewati fase sulit ini jauh-jauh hari saat masih kuliah.
Bab 3: Perubahan Diri: 7 Hal Utama yang Berubah Dalam Diri Saya
Setelah melewati semua proses di atas, saya sadar ada perubahan besar yang terjadi pada diri saya. Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam, tapi tumbuh perlahan bersama setiap pengalaman yang saya lalui. Inilah 7 perubahan utama yang mengubah hidup saya sepenuhnya:
1. Dari Pemalu Menjadi Berani dan Percaya Diri
Perubahan paling nyata. Dulu saya akan menghindar jika diminta berbicara di depan 5 orang. Sekarang? Saya bisa berbicara di depan ratusan orang dengan tenang.
Kepercayaan diri ini bukan sombong, tapi keyakinan akan kemampuan diri sendiri. Saya tahu saya mampu. Saya tahu saya bisa belajar hal baru. Saya tidak lagi takut mencoba hal yang belum pernah saya lakukan. Rasa percaya diri ini mempengaruhi segala aspek hidup saya: dari cara saya berjalan, cara saya berbicara, hingga cara saya memandang masa depan.
2. Dari Berpikir Sempit Menjadi Berpikir Strategis & Luas
Dulu, masalah saya hanya seputar tugas kuliah dan nilai. Pikiran saya sempit: “Yang penting tugas selesai, yang penting lulus.”
Setelah masuk BEM, pola pikir saya berubah 180 derajat. Saya belajar berpikir SISTEMIK. Saya tidak hanya melihat apa yang ada di depan mata, tapi melihat akar masalah dan dampak ke depannya.
Saya belajar berpikir strategis: “Apa tujuan kita? Bagaimana cara mencapainya? Apa risikonya? Apa dampaknya bagi orang lain?”
Saya tidak lagi hanya memikirkan diri sendiri, tapi memikirkan banyak orang. Pola pikir pemimpin ini adalah hal yang paling mahal harganya. Orang yang berpikir strategis akan selalu selangkah lebih maju dari orang lain.
3. Dari Boros Waktu Menjadi Sangat Menghargai Waktu
Sebelum masuk BEM, saya punya banyak waktu luang yang sering kali habis untuk hal tidak penting: tidur siang berlebihan, main game berjam-jam, atau sekadar melamun.
Begitu masuk BEM, waktu saya jadi sangat terbatas. Saya harus membagi waktu antara kuliah, tugas, rapat, acara, dan istirahat.
Keterbatasan waktu ini memaksa saya menjadi orang yang sangat disiplin dan efisien. Saya belajar manajemen waktu tingkat tinggi. Saya belajar membedakan mana hal penting dan mana hal sepele. Saya belajar mengerjakan sesuatu dengan cepat dan tepat.
Kini, saya menjadi orang yang sangat menghargai waktu. Saya tidak suka menunda-nunda. Saya tahu bahwa waktu adalah aset paling berharga yang tidak bisa dibeli kembali. Kebiasaan ini membuat saya jauh lebih produktif dibandingkan orang lain.
4. Dari Individu Menjadi Sosial & Peka Terhadap Lingkungan
Dulu saya adalah orang yang tertutup. Saya tidak peduli apa yang terjadi di kampus, di negara, atau di sekitar saya. Saya hidup di dunia saya sendiri.
BEM membuka mata hati saya. Saya bertemu banyak orang, mendengar banyak keluhan, melihat banyak masalah yang dihadapi teman-teman mahasiswa. Saya melihat ketidakadilan, saya melihat kesulitan, saya melihat orang yang membutuhkan bantuan.
Perlahan, hati saya menjadi lunak. Saya menjadi orang yang PEKA. Saya tidak bisa lagi diam saja melihat masalah. Saya menjadi orang yang peduli. Saya sadar bahwa saya adalah bagian dari masyarakat, dan keberadaan saya harus memberi manfaat.
Perubahan ini mengubah nilai-nilai hidup saya. Saya tidak lagi mengejar kesuksesan materi semata, tapi juga mengejar kebermanfaatan bagi orang lain. Hidup terasa jauh lebih bermakna dan bahagia saat kita berguna bagi sesama.
5. Dari Mengandalkan Diri Sendiri Menjadi Ahli Kerja Sama Tim
Dulu saya berpikir: “Kalau mau beres dan bagus, kerjakan sendiri saja.” Saya tidak percaya orang lain bisa mengerjakan dengan baik.
Di BEM, saya sadar satu hal penting: Tidak ada orang yang bisa sukses sendirian.
Program kerja besar tidak akan berjalan kalau saya kerjakan sendiri. Perubahan tidak akan terjadi kalau saya sendiri yang berjuang.
Saya belajar seni DELEGASI dan SINERGI. Saya belajar mempercayai orang lain. Saya belajar memahami karakter teman tim saya. Saya belajar bahwa kelemahan saya bisa ditutupi oleh kelebihan teman saya, dan sebaliknya.
Kemampuan membangun tim, memotivasi orang lain, dan bekerja sama adalah kemampuan dasar pemimpin. Kini, saya tidak lagi menjadi orang yang mau mengerjakan segalanya sendiri, tapi menjadi orang yang pandai menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama.
6. Dari Lemah Menjadi Memiliki Mental Baja
Ini perubahan yang paling hebat. Dulu saya orang yang mudah menyerah, mudah menangis kalau ada masalah, mudah putus asa, dan takut gagal.
Di BEM, saya dihajar oleh masalah setiap hari. Ada dana yang tidak cair, ada acara yang hampir gagal, ada kritik pedas, ada teman yang kecewa, ada tekanan dari mana-mana.
Awalnya saya hancur. Tapi lama-kelamaan, saya menjadi kebal. Saya menjadi kuat.
Saya belajar bahwa GAGAL ITU BIASA, dan MASALAH ITU WAJAR.
Saya belajar cara bangkit lagi setelah jatuh. Saya belajar cara mencari jalan keluar saat buntu. Saya belajar bahwa tekanan itu bukan untuk menghancurkan kita, tapi untuk menempa kita menjadi lebih kuat.
Kini, saat menghadapi masalah hidup atau pekerjaan, saya tidak lagi panik. Saya tenang. Saya tahu masalah pasti ada, dan pasti ada solusinya. Mental baja inilah yang membuat saya bertahan di situasi sulit apa pun.
7. Dari Tidak Tahu Arah Menjadi Punya Visi & Tujuan Hidup
Sebelum masuk BEM, saya kuliah hanya karena harus kuliah. Saya tidak tahu mau jadi apa nanti. Saya ikut-ikutan saja.
Pengalaman berorganisasi membuka wawasan saya seluas-luasnya. Saya bertemu banyak orang hebat, mendengar banyak cerita, melihat banyak peluang.
Saya jadi paham apa kelebihan saya, apa minat saya, dan apa yang saya inginkan dalam hidup. Saya punya visi ke depan. Saya tahu kemana saya akan melangkah.
Kepastian tujuan hidup ini membuat saya tidak lagi bingung. Saya punya arah. Saya punya mimpi. Dan itu membuat hidup saya jauh lebih bersemangat.
Bab 4: Dampak Jangka Panjang: Mengapa Ini Mengubah Hidupku Selamanya?
Banyak orang berpikir, “Ah, masa jabatan BEM kan cuma setahun atau dua tahun. Setelah itu selesai, ya kembali biasa saja.”
TIDAK. Pengaruhnya tidak berhenti saat kamu melepas jaket organisasi. Dampaknya terbawa sampai kamu lulus, sampai kamu bekerja, sampai kamu membangun keluarga, dan seumur hidupmu. Berikut adalah alasan utama mengapa pengalaman ini mengubah hidup saya selamanya:
1. Modal Karakter yang Tidak Bisa Dibeli Uang
Pendidikan di bangku kuliah mengajarkan kita teori, ilmu pengetahuan, dan keahlian teknis. Tapi pendidikan karakter: kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, kepemimpinan, pengorbanan, dan ketabahan, itu jarang diajarkan di kelas.
BEM adalah tempat terbaik menempa karakter itu.
Saya keluar dari BEM bukan hanya dengan segudang pengalaman, tapi dengan KARAKTER YANG KUAT. Dan percayalah, di dunia kerja dan kehidupan nyata, karakter jauh lebih penting daripada sekadar nilai akademis. Perusahaan butuh orang yang jujur, bertanggung jawab, dan mau bekerja keras, bukan orang pintar yang malas atau tidak jujur.
Karakter inilah yang menjadi pondasi kokoh kesuksesan hidup saya.
2. Jaringan Pertemanan Emas
Satu hal yang paling berharga dari BEM adalah teman-temannya. Bukan teman sekelas biasa, tapi TEMAN SEPERJUANGAN.
Orang bilang, persahabatan yang paling kuat adalah persahabatan yang dibentuk saat kita berjuang bersama melewati masa sulit. Dan itu benar adanya.
Teman-teman di BEM adalah orang-orang yang pernah melihat saya saat lelah, saat marah, saat menangis, saat senang, dan saat berjuang mati-matian. Ikatan kami sangat kuat.
Kini, teman-teman saya itu tersebar di mana-mana. Ada yang jadi pejabat, ada yang jadi pengusaha, ada yang jadi profesional, ada yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta.
Jaringan ini bukan sekadar kenalan, tapi jaringan pendukung. Saat saya butuh bantuan, informasi, atau peluang, merekalah orang pertama yang ada di sana. Dan saya pun siap membantu mereka. Jaringan ini membuka banyak pintu peluang hidup yang tidak akan pernah saya dapatkan jika saya hanya diam di kosan.
3. Keunggulan Kompetitif di Dunia Kerja
Ini dampak nyata yang paling terasa. Saat saya melamar pekerjaan, saya menyadari satu hal besar: Pengalaman BEM adalah nilai tambah terbesar saya.
Perusahaan tidak hanya mencari orang yang pintar secara akademis. Mereka mencari orang yang punya soft skill, punya jiwa kepemimpinan, punya kemampuan komunikasi, dan punya pengalaman organisasi.
Saat wawancara kerja, saya tidak habis-habisnya bercerita tentang pengalaman saya di BEM. Saya bercerita tentang bagaimana saya memimpin tim, bagaimana saya menyelesaikan masalah, bagaimana saya mengelola acara besar, bagaimana saya bernegosiasi.
Pewawancara selalu terkesan. Mereka tahu bahwa orang yang pernah aktif di BEM adalah orang yang terbiasa bekerja keras, terbiasa tekanan, dan terbiasa memimpin.
Banyak teman saya yang IPK-nya biasa saja tapi diterima di perusahaan bagus hanya karena pengalaman organisasi ini. Dan saya pun merasakan hal yang sama. Pengalaman ini membuat saya berbeda dan lebih unggul dibandingkan ratusan pelamar lain yang hanya punya nilai tinggi tapi pengalaman kosong.
4. Bekal Menjadi Pemimpin di Masa Depan
Hidup ini adalah tentang memimpin. Memimpin diri sendiri, memimpin keluarga, memimpin pekerjaan, atau memimpin masyarakat.
BEM adalah tempat latihan kepemimpinan terbesar dan termurah. Di sana saya belajar memimpin orang, memimpin program, dan memimpin perubahan.
Kepemimpinan yang saya pelajari bukan sekadar memberi perintah, tapi kepemimpinan yang melayani, kepemimpinan yang bijak, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab.
Bekal ini membuat saya siap memegang tanggung jawab besar di masa depan. Saya tidak akan kaget atau bingung saat suatu saat nanti saya dipercaya memimpin tim atau perusahaan, karena saya sudah pernah melakukannya di kampus dulu.
5. Menemukan Jati Diri dan Harga Diri
Terakhir, dan yang paling dalam, pengalaman ini membuat saya menemukan siapa diri saya sebenarnya.
Saya tahu kelebihan saya, saya tahu kelemahan saya, saya tahu apa yang saya bisa dan tidak bisa.
Saya tidak lagi membutuhkan pengakuan orang lain untuk merasa berharga. Saya punya harga diri yang tinggi karena saya tahu saya sudah berjuang, saya sudah berkontribusi, dan saya sudah memberikan yang terbaik.
Saya menjadi orang yang mandiri, berani, dan tahu nilai diri saya.
Bab 5: Kesimpulan: Keputusan Terbaik Dalam Hidupku
Jika ditanya kembali: “Mengapa pengalaman mengikuti BEM mengubah hidupmu?”
Jawabannya sederhana: Karena BEM mengubah saya dari manusia biasa menjadi manusia yang luar biasa.
Ia mengubah saya dari orang yang pasif menjadi aktif.
Ia mengubah saya dari orang yang takut menjadi berani.
Ia mengubah saya dari orang yang berpikir sempit menjadi orang yang berpikir luas.
Ia mengubah saya dari orang yang hanya memikirkan diri sendiri menjadi orang yang peduli sesama.
Pengalaman ini tidak mudah. Ada lelahnya, ada sakit hatinya, ada pengorbanannya. Tapi percayalah, SEMUA ITU TERBAYAR LUNAS, bahkan melebihi bayanganmu.
BEM bukan sekadar organisasi. BEM adalah sekolah kehidupan. BEM adalah tempat menempa diri. BEM adalah gerbang menuju masa depan yang lebih cerah.
Bagi kamu yang sekarang sedang ragu apakah harus masuk organisasi atau tidak, khususnya BEM: JANGAN RAGU. Ambil langkah itu. Masuklah. Berjuanglah.
Jangan takut lelah, jangan takut sulit. Karena di situlah letak perubahanmu. Di situlah kamu akan ditempa menjadi pemimpin masa depan.
Dan bagi kamu yang sedang menjabat atau sedang berjuang sekarang: NIKMATI PROSESNYA. Nikmati lelahnya, nikmati senangnya, nikmati sakit hatinya. Karena suatu saat nanti, saat kamu menoleh ke belakang, kamu akan tersenyum bangga dan berkata: “Itu adalah masa-masa terbaik dalam hidupku, masa di mana aku ditempa menjadi manusia yang hebat.”
Pengalaman mengikuti BEM adalah keputusan terbaik yang pernah saya ambil selama masa kuliah. Dan saya yakin, pengalaman inilah yang menjadi pondasi kokoh yang membuat saya bisa berdiri tegak, sukses, dan bermanfaat sampai hari ini.
Terima kasih BEM, karena kamu telah mengubah hidupku selamanya.