Transformasi Karier Lulusan SMK: Dari Ruang Kelas Menuju Dunia Industri Berpenghasilan Tinggi di Era Digital
KompetitifMembangun Portofolio Sejak SMK: Strategi Efektif Menarik Perhatian Perusahaan Besar dan Meningkatkan Peluang Karier Profesional
KompetitifLindungi Daerah Tangkapan Air, Solusi Atasi Kemarau di Kalsel
Pengamat lingkungan dari Universitas Lambung Mangkurat, Akbar Rahman, menekankan pentingnya melindungi daerah tangkapan air untuk mengatasi kemarau di Kalimantan Selatan (Kalsel). Menurutnya, kondisi kemarau di Kalsel tidak hanya disebabkan oleh berkurangnya hujan, tetapi juga oleh tekanan terhadap ekosistem lahan basah, daerah aliran sungai (DAS), dan kawasan hulu.
Kalsel memiliki karakteristik ekologis yang bergantung pada sistem sungai, rawa, dan lahan gambut sebagai sumber air baku. Saat kemarau, debit sungai menurun sehingga kemampuan sungai mengencerkan limbah domestik, limbah industri, maupun sedimen ikut berkurang.
Apa yang Terjadi?
Akbar Rahman menjelaskan bahwa peningkatan suhu air selama musim kemarau juga mempercepat pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat memengaruhi kualitas air baku. Ia juga menyebutkan bahwa alih fungsi kawasan hulu dan daerah tangkapan air turut memperburuk kondisi tersebut. Kawasan yang semula berfungsi menyimpan air hujan kini banyak berubah menjadi permukiman, pertambangan, perkebunan, maupun lahan terbuka.
Akibatnya, kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air menurun. Saat musim hujan, air lebih banyak menjadi limpasan, sedangkan pada musim kemarau, sungai kehilangan pasokan air sehingga debit air baku ikut berkurang.
Mengapa dan Dampak
Akbar Rahman menilai bahwa infrastruktur ketahanan air di Kalsel masih perlu diperkuat. Pembangunan embung, waduk, reservoir, hingga sistem pemanenan air hujan perlu diperluas sebagai sumber cadangan saat musim kemarau. Ketahanan air, menurutnya, tidak cukup bergantung pada satu sumber, tapi juga harus didukung sistem penyimpanan air yang memadai.
Fenomena intrusi air laut yang semakin masuk ke badan sungai juga dinilai tidak hanya dipengaruhi faktor alam. Rendahnya debit sungai saat kemarau membuat air laut lebih mudah bergerak ke arah hulu, sementara kerusakan mangrove, perubahan kawasan muara, dan berkurangnya aliran air tawar dari hulu turut memperparah kondisi tersebut.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Akbar Rahman menekankan bahwa penanganan pemerintah yang selama ini lebih banyak dilakukan saat kondisi darurat, seperti distribusi air bersih menggunakan mobil tangki, belum menyentuh upaya pencegahan. Ia menyatakan bahwa perlindungan daerah tangkapan air, rehabilitasi hutan dan gambut, pembangunan infrastruktur penyimpanan air, serta pengendalian alih fungsi lahan merupakan langkah-langkah yang lebih efektif dalam mengatasi kemarau di Kalsel.
Dengan demikian, upaya pencegahan dan perlindungan daerah tangkapan air dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi kemarau di Kalsel.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://banjarmasin.tribunnews.com/kalsel/1368163/langkah-terbaik-hadapi-kemarau-di-kalsel-pengamat-lindungi-daerah-tangkapan-air, without altering the facts of the original article.