Pengungsi Rohingya yang dulunya disambut kini dihadapkan pada penolakan keras di Malaysia, kisah penderitaan yang menggugah. Pada 2017, mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak menyerukan perlindungan bagi warga Muslim Rohingya, menegaskan bahwa “kita harus membela mereka, bukan hanya karena mereka memiliki keyakinan yang sama, tetapi karena mereka adalah manusia dan hidup mereka berharga.” Namun, sembilan tahun kemudian, gelombang penolakan terhadap warga Rohingya justru semakin kuat dan menyebar di Malaysia.
Perubahan Sikap dari Solidaritas ke Penolakan
Irhan, seorang pengungsi Rohingya yang mendirikan sekolah di wilayah utara Malaysia untuk anak-anak dari komunitasnya berusia 6 hingga 15 tahun, menggambarkan perubahan drastis dalam sikap masyarakat. Nama Irhan telah diubah untuk melindungi identitasnya, namun usahanya tetap menjadi titik terang bagi pendidikan anak-anak Rohingya. Sekolah tersebut, meski tidak memiliki izin resmi, menjadi tempat belajar bagi anak-anak yang tidak diperbolehkan bersekolah di sekolah negeri Malaysia.
Menurut Irhan, “Pergi ke sekolah sekarang sudah menjadi sesuatu yang berbahaya.” Kewaspadaan meningkat ketika sekolah yang didirikan Irhan digerebek bulan lalu. Delapan polisi berseragam masuk ke sekolah, memotret para siswa dan memerintahkan sebagian dari mereka untuk pulang. “Anak-anak ini hanya datang untuk belajar. Sekarang keluarga mereka ketakutan,” ujarnya.
Sementara itu, di Selangor, Malaysia bagian barat, sebuah sekolah sempat menghentikan kegiatan belajar selama sebulan. Sekolah tersebut kembali dibuka setelah proses administratif dan persetujuan dari pihak berwenang. Namun, dampak psikologis bagi para siswa tetap terasa, karena ketidakpastian mengenai keamanan dan legitimasi lembaga pendidikan mereka.
Ketidakmampuan Akses Pendidikan Resmi
Rohingya yang berusia 6 hingga 15 tahun tidak diperbolehkan bersekolah di sekolah negeri Malaysia. Hal ini menyebabkan mereka terpaksa belajar di pusat pendidikan informal yang dikelola komunitas dan tidak memiliki izin resmi. Kondisi ini memperparah kesenjangan pendidikan antara komunitas Rohingya dan masyarakat Malaysia secara umum.
Tanpa akses ke pendidikan formal, anak-anak Rohingya menghadapi keterbatasan dalam memperoleh kualifikasi akademis yang diakui secara nasional. Hal ini dapat memengaruhi peluang mereka untuk melanjutkan pendidikan tinggi maupun memasuki pasar kerja di masa depan. Selain itu, ketidakpastian hukum mengenai status pendidikan mereka menambah beban psikologis bagi keluarga Rohingya.
Persepsi Masyarakat dan Dampak Sosial
Penolakan yang meningkat terhadap warga Rohingya di Malaysia juga memicu ketegangan sosial. Banyak pihak berpendapat bahwa kehadiran Rohingya dapat menimbulkan persaingan sumber daya, termasuk pekerjaan dan layanan publik. Perasaan takut ini seringkali berakar pada stereotip dan ketidakpahaman tentang latar belakang Rohingya.
Dampak sosial yang muncul tidak hanya terbatas pada ketidakamanan fisik. Pengucilan sosial juga berdampak pada kesehatan mental keluarga Rohingya. Keluarga yang merasa takut untuk membawa anak-anak mereka ke sekolah atau ke tempat umum lainnya mengalami stres, kecemasan, dan rasa terisolasi. Keterbatasan akses layanan kesehatan juga menjadi masalah, karena banyak fasilitas publik menolak layanan kepada warga Rohingya.
Upaya Internasional dan Kebijakan Nasional
Berbagai organisasi internasional telah menyoroti situasi Rohingya di Malaysia, menuntut perlindungan hak asasi manusia dan akses pendidikan yang setara. Namun, kebijakan nasional Malaysia masih belum mengakomodasi kebutuhan komunitas ini secara komprehensif. Meskipun ada beberapa program bantuan, implementasinya sering kali terbatas dan tidak mencakup aspek pendidikan formal.
Irhan dan komunitasnya terus berjuang untuk mendapatkan pengakuan resmi atas sekolah mereka. Mereka berharap bahwa kebijakan pemerintah akan berubah agar mereka dapat memperoleh izin dan fasilitas yang memadai. Namun, tanpa perubahan kebijakan yang signifikan, anak-anak Rohingya tetap berada pada posisi rentan.
Kesimpulan: Harapan dan Tantangan
Pengungsi Rohingya yang dulunya disambut kini dihadapkan pada penolakan keras di Malaysia, kisah penderitaan yang menggugah. Meskipun telah ada upaya solidaritas dan dukungan internasional, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa anak-anak Rohingya masih menghadapi hambatan besar dalam mengakses pendidikan dan keamanan. Perubahan sikap dari solidaritas menjadi penolakan menciptakan lingkungan yang tidak aman bagi mereka, yang berdampak pada masa depan mereka secara keseluruhan.
Semoga upaya bersama, baik dari pemerintah Malaysia maupun komunitas internasional, dapat membawa perubahan positif bagi komunitas Rohingya. Tanpa intervensi yang tepat, risiko penolakan dan marginalisasi akan terus memengaruhi generasi muda Rohingya di Malaysia.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cvgywq441pvo?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.