**Perang Iran Membuat Ancaman Kapal Tanker di Timur Tengah Meningkat Drastis** **Pembuka** Perang Iran telah mencapai titik terburuk sejak dimulainya konflik, dengan ancaman terhadap kapal-kapal tanker minyak di Timur Tengah meningkat drastis. Sejumlah ahli menyatakan bahwa situasi ini adalah titik terburuk sejak krisis ini dimulai. **Momen Penentu di Menit Akhir** Ancaman terhadap kapal-kapal tanker minyak di Timur Tengah berada pada titik terburuk sejak perang Iran dimulai, menurut sejumlah ahli. Peringatan ini muncul setelah terjadi serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merahâjalur pelayaran alternatif yang digunakan beberapa kapal tanker sejak Iran memblokade Selat Hormuz. Iran membantah klaim Donald Trump bahwa mereka sedang bernegosiasi dengan AS mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, Iran mengatakan sedang berbicara dengan Oman tentang pengamanan jalur pelayaran tersebut. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Menurut Kpler, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz hanya delapan unit pada Minggu (02/08) dan 11 unit pada Sabtu (01/08). Padahal, selat itu dilalui lebih dari 100 kapal per hari sebelum perang dimulai Februari lalu. Sebelum pertikaian berlangsung, sekitar 20% minyak dan gas dunia melewati selat tersebut. **Apa Artinya Ini ke Depan?** “Dalam hal ancaman terhadap perdagangan minyak mentah, kita berada pada periode terburuk sejak krisis ini dimulai,” kata Matthew Wright, seorang analis di perusahaan pelacak kapal Kpler. Menurut Kpler, jumlah kapal yang memuat minyak mentah untuk diekspor ke Asia yang melewati pelabuhan tersebut telah turun menjadi sekitar empat kapal per hari, titik terendah sejak awal perang. **Mengapa & Dampak** Saat perang berlangsung, sejumlah kapal yang membawa minyak dari Arab Saudi melintasi jalur pelayaran alternatif di Laut Merah. Namun serangkaian serangan milisi Houthi di Yaman terhadap kapal tanker Saudi yang menggunakan jalur alternatif tersebut makin meningkatkan risiko. “Situasi yang sedang berlangsung di Selat Hormuz tidak hanya membatasi aliran minyak, tetapi sekarang faktor besar yang membantu menyeimbangkan pasar juga terancam. Ini adalah masalah yang bertumpuk di atas masalah yang sudah ada,” kata Wright. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Jumlah kapal kargo yang melintasi Selat Bab el-Mandeb mencapai 28 unit pada Sabtu (01/08). Sebanyak enam di antaranya mematikan transponder mereka, menurut data Kpler, yang menunjukkan bahwa mereka berusaha menghindari deteksi. Tim Wilkins, direktur pelaksana Intertanko, sebuah badan perdagangan yang mewakili pemilik kapal tanker, mengatakan bahwa industri ini “menghadapi situasi keamanan yang meluas, memburuk, dan semakin kompleks”. “Sekarang kita memiliki area berisiko tinggi yang meluas hingga perairan Arab Saudi dan sebagian Laut Merah. Jadi itu berdampak lain pada pasar, dan juga pada kebebasan navigasi.”
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c3w09dwgljlo?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.