Perpres Ojol dan Tarif Pengemudi, Apa yang Perlu Dipahami?

Perpres ojol dan tarif pengemudi menjadi topik yang banyak diperhatikan setelah pemerintah mengumumkan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Ekosistem Transportasi Berbasis Platform Digital pada 8 Oktober 2026. Regulasi ini menjadi langkah penting dalam penataan transportasi online, terutama mengenai pembagian pendapatan, hubungan kemitraan, dan perlindungan bagi pengemudi.

Bagi driver, tarif dan potongan aplikasi merupakan dua hal yang sangat berpengaruh terhadap penghasilan. Jumlah pesanan yang banyak belum tentu menghasilkan pendapatan bersih yang tinggi apabila biaya operasional juga meningkat.

Karena itu, kebijakan baru mengenai pembagian pendapatan perlu dipahami secara menyeluruh. Pengemudi harus mengetahui perbedaan antara tarif yang dibayar pelanggan, bagian pendapatan untuk mitra, potongan perusahaan aplikasi, dan biaya yang dikeluarkan selama bekerja.

Lantas, apa yang perlu diketahui mengenai Perpres Ojol 2026 dan pengaturan tarif pengemudi?

Perpres Ojol 2026 Menjadi Perhatian Driver

Perpres Nomor 27 Tahun 2026 mengatur perlindungan ekosistem transportasi berbasis platform digital. Cakupannya meliputi layanan pengangkutan penumpang, pengiriman barang, dan pengantaran makanan.

Penerbitan aturan ini menjadi perhatian karena transportasi online telah menjadi bagian penting dari kegiatan ekonomi masyarakat. Pengemudi mendapatkan pesanan melalui aplikasi, sedangkan perusahaan platform menyediakan sistem yang menghubungkan mitra dengan pelanggan.

Dalam hubungan tersebut, pembagian pendapatan menjadi salah satu persoalan yang perlu diatur secara jelas.

Pemerintah telah menyampaikan bahwa kebijakan ini diarahkan untuk menciptakan pembagian pendapatan yang lebih adil. Selain itu, aturan tersebut juga mencakup perlindungan sosial dan penguatan hubungan kemitraan.

Meski demikian, pengaturan tarif perlu dipahami berdasarkan ketentuan teknis dari kementerian yang berwenang. Tarif transportasi penumpang tidak selalu memiliki mekanisme yang sama dengan layanan pengantaran makanan atau barang.

Potongan Aplikator Diarahkan Menjadi 8 Persen

Salah satu poin yang banyak dibicarakan adalah potongan perusahaan aplikator sebesar 8 persen.

Dalam penjelasan mengenai Perpres Ojol, pemerintah menyampaikan bahwa potongan aplikator diarahkan menjadi 8 persen. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga menjelaskan bahwa bagian pendapatan pengemudi ditingkatkan menjadi minimal 92 persen.

Kebijakan tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya pembagian yang sering disorot adalah 80 persen untuk pengemudi dan 20 persen untuk aplikator.

Dengan perubahan komposisi tersebut, pemerintah berupaya memperbesar bagian pendapatan yang diterima driver dari transaksi layanan.

Namun, pengemudi perlu memperhatikan ketentuan penghitungan pendapatan secara cermat. Persentase pembagian tidak boleh ditafsirkan tanpa memperhatikan dasar transaksi, jenis layanan, dan aturan pelaksanaan yang berlaku.

Perusahaan aplikasi dan kementerian terkait perlu memberikan kejelasan mengenai mekanisme penerapan kebijakan agar pengemudi dapat memahami rincian pendapatannya.

Apakah Tarif yang Dibayar Pelanggan Ikut Berubah?

Pembatasan potongan aplikator tidak otomatis berarti semua tarif yang dibayar pelanggan akan berubah dengan besaran yang sama.

Tarif layanan dan pembagian pendapatan merupakan dua hal yang saling berkaitan, tetapi tidak identik. Tarif merupakan biaya yang dikenakan kepada pelanggan untuk layanan tertentu, sedangkan pembagian pendapatan berkaitan dengan bagaimana hasil transaksi dialokasikan sesuai ketentuan yang berlaku.

Karena itu, perubahan persentase potongan aplikator tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai kenaikan tarif perjalanan.

Besaran biaya yang dibayar pelanggan dapat dipengaruhi oleh jenis layanan, jarak, waktu, kebijakan harga, dan komponen lain yang berlaku pada aplikasi.

Dalam Perpres Ojol, pengaturan transportasi orang melibatkan Kementerian Perhubungan, sedangkan pengaturan pengantaran barang dan makanan melibatkan Kementerian Komunikasi dan Digital.

Pengemudi perlu memantau pengumuman resmi agar mengetahui perubahan yang benar-benar diterapkan pada layanan yang mereka jalankan.

Memahami Perbedaan Pendapatan Kotor dan Bersih

Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika membahas penghasilan ojol adalah menyamakan pendapatan kotor dengan pendapatan bersih.

Pendapatan kotor merupakan hasil yang diperoleh dari aktivitas layanan sebelum dikurangi seluruh biaya operasional yang menjadi tanggungan pengemudi.

Sementara itu, pendapatan bersih merupakan jumlah yang tersisa setelah biaya yang relevan diperhitungkan.

Misalnya, seorang pengemudi memperoleh pendapatan layanan sebesar Rp200.000 dalam sehari. Angka tersebut belum tentu menjadi uang bersih yang dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Pengemudi masih perlu memperhitungkan bahan bakar, biaya parkir yang relevan, perawatan kendaraan, serta biaya lain yang timbul selama bekerja.

Oleh karena itu, peningkatan bagian pendapatan dari transaksi dapat membantu pengemudi, tetapi hasil akhirnya tetap dipengaruhi oleh biaya operasional dan jumlah pesanan.

Mencatat penghasilan dan pengeluaran setiap hari dapat membantu driver menilai apakah waktu kerja yang digunakan sudah memberikan hasil yang sesuai.

Bagaimana Tarif Transportasi Penumpang Diatur?

Transportasi penumpang memiliki karakteristik yang berbeda dari pengantaran makanan atau barang.

Dalam layanan penumpang, perjalanan dipengaruhi oleh jarak, kondisi lalu lintas, waktu tempuh, dan ketentuan tarif yang berlaku. Karena itu, pengaturan tarif membutuhkan perhatian terhadap keselamatan, keterjangkauan, serta keberlanjutan pendapatan pengemudi.

Kementerian Perhubungan memiliki peran dalam mengawal aspek pengangkutan orang dalam pelaksanaan Perpres Ojol.

Bagi pengemudi, penting untuk memahami ketentuan tarif yang berlaku di wilayah operasionalnya. Informasi tersebut sebaiknya diperoleh dari sumber resmi, bukan hanya dari unggahan media sosial atau percakapan di komunitas.

Jika aplikasi menampilkan perubahan harga atau ketentuan layanan, pengemudi dapat memeriksa penjelasan resmi perusahaan untuk memahami dasar perubahan tersebut.

Bagaimana dengan Tarif Pengantaran Makanan dan Barang?

Layanan pengantaran makanan dan barang memiliki mekanisme yang berbeda dari transportasi penumpang.

Dalam layanan makanan, proses pengantaran melibatkan pelanggan, pengemudi, restoran atau penjual, dan perusahaan aplikasi. Pada pengiriman barang, jenis paket, jarak, serta kebutuhan pengiriman dapat memengaruhi karakteristik layanan.

Perpres Ojol turut mencakup layanan tersebut. Pemerintah menempatkan Kementerian Komunikasi dan Digital dalam pengaturan aspek pengantaran barang dan makanan.

Pengaturan ini penting karena penghasilan pengemudi tidak hanya berasal dari perjalanan penumpang. Banyak mitra juga mengandalkan pesanan makanan dan pengiriman barang sebagai sumber pendapatan.

Namun, pengemudi perlu membedakan kebijakan yang berlaku secara umum dengan ketentuan khusus dari masing-masing layanan. Jangan menganggap tarif pengantaran otomatis berubah hanya karena ada pengumuman mengenai pembagian pendapatan aplikator.

Apa yang Perlu Dilakukan Driver Setelah Perpres Diumumkan?

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan pengemudi untuk mengikuti perkembangan kebijakan.

Pertama, periksa rincian transaksi dalam aplikasi. Catatan tersebut membantu pengemudi memahami jumlah pendapatan yang tercatat dan komponen yang mengurangi penghasilan.

Kedua, simpan bukti transaksi apabila terdapat perbedaan perhitungan. Dokumentasi dapat membantu ketika menyampaikan pertanyaan atau pengaduan melalui saluran resmi.

Ketiga, pantau pengumuman pemerintah dan perusahaan aplikasi mengenai penerapan potongan serta perubahan tarif.

Keempat, catat biaya operasional harian agar dapat menghitung pendapatan bersih dengan lebih realistis.

Terakhir, jangan langsung mempercayai informasi mengenai kenaikan tarif atau perubahan pendapatan sebelum ada penjelasan resmi yang dapat diperiksa.

Aturan Teknis Masih Perlu Diperhatikan

Pemerintah menargetkan peraturan turunan untuk melaksanakan Perpres Ojol diterbitkan paling lambat 31 Desember 2026.

Artinya, pengemudi masih perlu mengikuti perkembangan ketentuan teknis yang menjelaskan bagaimana kebijakan tertentu diterapkan.

Tahap pelaksanaan ini penting untuk memberikan kepastian mengenai pengawasan potongan aplikator, pengaturan tarif, dan mekanisme layanan transportasi digital.

Dengan mengikuti perkembangan tersebut, pengemudi dapat mengetahui kapan perubahan mulai berlaku dan bagaimana pengaruhnya terhadap layanan yang digunakan.

Kesimpulan

Perpres Ojol dan tarif pengemudi merupakan dua hal yang saling berkaitan dalam upaya membangun ekosistem transportasi digital yang lebih adil.

Kebijakan potongan aplikator sebesar 8 persen menjadi salah satu poin utama yang diumumkan pemerintah, dengan arah pembagian pendapatan minimal 92 persen bagi pengemudi.

Namun, tarif yang dibayar pelanggan, pembagian pendapatan, dan pendapatan bersih pengemudi merupakan hal berbeda. Ketiganya perlu dipahami berdasarkan ketentuan yang berlaku dan biaya operasional masing-masing.

Bagi driver, langkah terbaik adalah memeriksa transaksi, mencatat pengeluaran, dan mengikuti pengumuman resmi mengenai aturan teknis. Dengan pemahaman yang tepat, pengemudi dapat menilai dampak kebijakan secara lebih realistis dan menghindari kesalahpahaman mengenai tarif maupun pendapatan.

PENULIS : FEBRY SETIYA ANGGARA