Prabowo Memukau di KTT BRICS 2026: LRT Jakarta, Kebangkitan Nasional, dan Rencana Energi Masa Depan
Berita Hari Ini – 17 September 2026 | Hari ini, Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengukir sejarah di KTT BRICS ke-18 di New Delhi dengan pesan kuat tentang kebangkitan nasional dan kerja sama multilateral. Di samping pidato di panggung internasional, ia juga meresmikan Lintas Raya Terpadu (LRT) jalur Kelapa Gading-Manggarai di Stasiun Manggarai, Jakarta, menegaskan komitmen Indonesia pada transformasi infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan.
Pembukaan LRT Jakarta: Simbol Kemajuan Inklusif
Pada Rabu, 16 September 2026, Prabowo memimpin serah terima LRT Jakarta yang menghubungkan dua titik strategis kota. Ia menekankan pentingnya gotong‑royong antar pemimpin dan sinergi pemerintah pusat dengan DKI Jakarta. Menurutnya, keberhasilan proyek ini menunjukkan bahwa perbedaan politik tidak menghalangi pembangunan ketika fokus berada pada kepentingan rakyat. Selain itu, Prabowo menyoroti rencana menara hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah di sekitar jalur LRT, menegaskan bahwa manfaat pembangunan harus merata.
- Kolaborasi pusat‑provinsi menjadi contoh kerja sama lintas level.
- Pembangunan LRT sebagai katalisator mobilitas dan ekonomi daerah.
- Komitmen pada hunian terjangkau sebagai bagian dari pembangunan sosial.
KTT BRICS 2026: Indonesia Menegaskan Kemandirian dan Persatuan Global South
Selama sesi terbatas di Bharat Mandapam, Prabowo mengangkat tema “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism”. Ia mengingatkan kembali semangat Bandung dan menegaskan bahwa “Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh” menjadi prinsip dasar kebijakan luar negeri Indonesia. Dalam pidatonya, ia menyoroti tiga pilar utama:
- Ketahanan pangan dan energi – memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi.
- Pendidikan dan kesejahteraan – membangun fondasi bangsa melalui investasi sosial.
- Kerja sama strategis antar anggota BRICS – khususnya dalam penguatan sistem energi regional.
Prabowo juga memuji pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta dan menekankan bahwa kerja sama lintas negara dapat memperkuat posisi Indonesia di panggung global. Ia menyampaikan rasa syukur atas keanggotaan Indonesia di BRICS, yang dimulai pada 2025, dan mengajak semua negara berkembang untuk bersatu demi terciptanya tatanan dunia yang lebih adil.
Reaksi Global dan Dampak Kebijakan
Para pemimpin dunia menanggapi pidato Prabowo dengan antusias. Poin tentang ketahanan energi mendapat sorotan khusus, karena Indonesia berencana memperkuat jaringan listrik dan memanfaatkan energi terbarukan. Selain itu, komitmen Prabowo pada pembangunan sosial di Jakarta menambah kredibilitas Indonesia sebagai contoh negara yang mampu menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan keadilan sosial.
Dalam konteks politik domestik, beberapa analisis menghubungkan pesan Prabowo dengan pemikiran Hannah Arendt tentang kehilangan ruang politik bersama. Arendt menyoroti bagaimana populisme dan pencarian kambing hitam dapat menurunkan kepercayaan publik. Prabowo, dengan menekankan gotong‑royong dan persatuan, berusaha mengatasi tantangan serupa di Indonesia, memperkuat institusi, dan mengembalikan rasa percaya rakyat.
Kesimpulan
Dengan langkah konkret di Jakarta dan pernyataan strategis di KTT BRICS 2026, Prabowo Subianto menegaskan visi Indonesia: kebangkitan nasional yang berkelanjutan, kerja sama internasional yang adil, dan ketahanan yang dimulai dari dalam negeri. LRT Jakarta menjadi bukti nyata komitmen tersebut, sementara pidato di New Delhi menegaskan posisi Indonesia sebagai suara kuat Global South dalam membentuk masa depan dunia.