Polemik Negosiasi Libanon-Israel
Presiden Libanon Joseph Aoun. Dok. Wikipedia Sebelumnya, Tel Aviv dan Beirut telah mengadakan pembicaraan langsung sejak April untuk mengakhiri konflik antara Hizbullah dan Israel. Aoun bersikeras untuk memisahkan konflik mereka dari perang regional agar tidak memicu eskalasi yang lebih luas. Namun, menurut pengumuman kesepakatan damai Iran dan AS pada Senin, mencakup Libanon, sehingga telah mengubah peta konflik tersebut. Aoun mengungkapkan harapan bahwa putaran kelima minggu depan akan berjalan positif, mengingat respons positif AS kepada Libanon. “Saya meyakinkan warga Libanon bahwa tidak ada yang mengikat kita dengan negara lain manapun dan penyelesaian konflik apapun kita yang menentukan,” ucap presiden terpilih Libanon.
Mengapa Negosiasi Libanon-Israel Penting?
Libanon terus mengupayakan penyelesaian konflik dengan Israel secara independen dan menolak campur tangan aktor lain. Hizbullah, kelompok paramiliter yang berpengaruh di Libanon, menolak upaya diplomatik langsung antara pemerintahan resmi dengan Israel. Sebab, Hizbullah menilai langkah tersebut berupaya melucuti persenjataan mereka. Kelompok paramiliter itu menyeret Libanon ke dalam perang regional pada 2 Maret dengan melancarkan serangan roket ke Israel untuk membalas terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel beberapa hari sebelumnya. Kemudian, Israel merespons dengan membombardir wilayah Libanon Selatan hingga melakukan invasi darat yang menewaskan 3.800 orang.
Dampak Negosiasi terhadap Situasi di Libanon
Meskipun tingkat kekerasan telah menurun setelah terjadinya wacana kesepakatan damai Iran dan AS, Israel tetap melancarkan serangan ke wilayah Libanon Selatan yang menewaskan sedikitnya lima orang pada Rabu, menurut pemberitaan media pemerintah. Hizbullah mengapresiasi iktikad Iran sebagai sekutu karena mendorong agar Libanon turut dimasukan ke dalam poin-poin kesepakatan damai dengan AS.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Presiden Aoun menegaskan komitmen Libanon untuk menentukan sikap dan pengambilan keputusan secara independen. “Jaminan yang kami terima dan kami tegaskan adalah bahwa Libanon memiliki jalur independen dalam negosiasi,” kata Aoun saat menerima delegasi uskup Maronit dari diaspora. Dengan demikian, Libanon berharap dapat mencapai penyelesaian konflik yang adil dan damai dengan Israel, tanpa tekanan dari pihak lain.